Pencarian Pekerjaan yang Menantang di Kalangan Lulusan Baru dan Tenaga Kerja Pengalaman
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, banyak lulusan baru dan tenaga kerja berpengalaman menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan. Nadhira (22 tahun), seorang lulusan Administrasi Publik dari Universitas Diponegoro, telah mencoba melamar lebih dari 80 posisi kerja sejak lulus pada Mei 2025. Meskipun sudah melakukan tes dan wawancara, dia masih belum berhasil mendapatkan tawaran pekerjaan. Nadhira mengatakan bahwa dirinya siap ditempatkan di mana saja, termasuk jauh dari Magelang, tempat ia tinggal. Ia juga mengikuti bursa kerja di Semarang untuk meningkatkan peluangnya.
Sementara itu, Anisa (24 tahun), lulusan Teknik Industri dari Udinus Semarang, sudah menganggur selama dua tahun sejak lulus pada 2023. Ia mengakui sulitnya mencari pekerjaan karena kurangnya pengalaman. Untuk meningkatkan keterampilannya, Anisa aktif mengikuti pelatihan dan memperluas jaringan. Ia percaya bahwa relasi sangat penting dalam proses pencarian kerja, terutama karena beberapa lowongan hanya tersedia melalui rekomendasi.
Egy Kurniawan (30 tahun), seorang lulusan manajemen, juga mengikuti bursa kerja setelah kontrak kerjanya di perusahaan asuransi berakhir. Ia mengirimkan lima surat lamaran dan mencari pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Egy juga menjalani usaha sampingan sebagai penjual motor bekas untuk menambah penghasilan.
Tri Wahyu Hidayat (36 tahun), seorang operator produksi, di-PHK oleh perusahaan furnitur tempatnya bekerja akhir Mei 2025. Perusahaan tersebut sedang menghadapi penurunan pesanan, sehingga harus memangkas jumlah pegawai. Tri mengaku tidak menerima pesangon dan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Ia merasa bahwa usia menjadi hambatan, karena banyak lowongan yang membatasi usia maksimal hingga 35 tahun. Meski demikian, ia tetap berusaha mencari pekerjaan apa pun yang bisa ia lakukan.
Bursa kerja yang diselenggarakan oleh Disnakertrans Jateng pada 21-22 Agustus 2025 menawarkan sekitar 6.800 lowongan kerja dari 43 perusahaan. Berbagai sektor seperti manufaktur, perbankan, kesehatan, industri makanan dan minuman, serta pekerjaan di luar negeri turut berpartisipasi. Kepala Disnakertrans Jateng, Abdul Aziz, menyampaikan harapan agar bursa kerja ini dapat membantu para pencari kerja mendapatkan pekerjaan. Saat ini, angka pengangguran terbuka di Jateng mencapai 4,33 persen atau sekitar 940 ribu orang.
Tantangan dalam Mencari Pekerjaan
Tantangan yang dihadapi para pencari kerja tidak hanya terkait dengan jumlah lowongan, tetapi juga dengan kualifikasi yang semakin ketat. Banyak perusahaan memprioritaskan pengalaman kerja, meskipun bagi lulusan baru, pengalaman sering kali terbatas. Selain itu, faktor usia juga menjadi kendala bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman namun dianggap terlalu tua.
Para pencari kerja seperti Tri mengeluhkan batasan usia yang diberlakukan oleh banyak perusahaan. Ia merasa bahwa pengalaman kerja yang dimilikinya tidak cukup untuk dipertimbangkan karena usianya yang sudah 36 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sistem perekrutan yang ada masih belum adil terhadap tenaga kerja berpengalaman.
Selain itu, banyak pencari kerja harus mengambil pekerjaan sambilan untuk menutupi kebutuhan keluarga. Seperti yang dialami oleh Tri, keluarganya hidup dari hasil warung kecil yang dikelola oleh istrinya. Ini menunjukkan bahwa situasi ekonomi yang sulit memaksa para pencari kerja untuk mencari alternatif lain selain pekerjaan tetap.
Harapan untuk Masa Depan
Meskipun situasi saat ini masih sulit, para pencari kerja tetap berharap bahwa kesempatan akan datang. Bursa kerja yang digelar oleh Disnakertrans Jateng memberikan ruang bagi mereka untuk menemukan peluang kerja. Dengan partisipasi dari berbagai perusahaan dan sektor, bursa kerja ini menjadi salah satu upaya nyata untuk mengurangi angka pengangguran.
Para pencari kerja seperti Nadhira, Anisa, Egy, dan Tri menunjukkan bahwa mereka tidak mudah menyerah. Mereka terus berusaha meningkatkan keterampilan, membangun relasi, dan mencari peluang baru. Meskipun prosesnya penuh tantangan, semangat dan komitmen mereka tetap tinggi. Dengan dukungan dari pemerintah dan perusahaan, harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap terbuka.
