Studi: Malas menunjukkan tanda orang punya kecerdasan tinggi

Posted on

PasarModern.com – Studi yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology (2015) menunjukkan adanya korelasi antara kemalasan dengan IQ tinggi.

Penelitian ini dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Florida Gulf Coast University, Amerika Serikat yang meminta mahasiswanya untuk mengikuti tes psikologis yang sudah ada sejak tiga dekade lalu.

Tes tersebut berisi kuesioner kebutuhan kognisi yang meminta peserta untuk menilai seberapa setuju atau tidaknya mereka kepada pertanyaan, seperti “Saya sangat menikmati tugas yang melibatkan menemukan solusi baru untuk masalah”, atau “Saya hanya berpikir sekeras yang diperlukan”.

Dikutip dari The Independent, peneliti yang dipimpin oleh Todd McElroy kemudian memilih 30 peserta yang dikategorikan sebagau “pemikir” dan 30 lainnya “bukan pemikir”.

Selama satu pekan, kedua kelompok tersebut mengenakan perangkat di pergelangan tangan mereka.

Alat tersebut berguna untuk melacak pergerakan dan tingkat aktivitas masing-masing individu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pemikir kurang aktif selama seminggu dibandingkan dengan kelompok yang bukan pemikir.

Kenapa orang malas cenderung punya kecerdasan tinggi?

Berdasarkan studi di atas, penelitian mengungkap bahwa rata-rata orang yang kurang aktif secara fisik cenderung lebih cerdas daripada mereka yang aktif.

Para peneliti bahkan mengembangkan deskripsi yang lebih menarik untuk menjelaskan “kemalasan” dengan menyebutnya sebagai “kebutuhan kognisi”.

Orang dengan sifat ini memiliki cara pandang yang terstruktur dan beralasan terhadap hal-hal di dunia.

Mereka sering mengejar aktivitas yang memberikan stimulasi mental yang intens, seperti memecahkan teka-teki atau berdebat.

Data menunjukkan bahwa mereka yang memiliki IQ tinggi lebih sulit merasa bosan, sehingga cenderung kurang aktif dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir.

Sebaliknya, kelompok yang sangat aktif cenderung merasa cepat bosan ketika harus duduk diam dan mengurai pikiran yang abstrak.

Kelompok ini lebih suka merangsang pikiran mereka dengan tugas-tugas aktif, seperti olahraga dan aktivitas fisik lainnya.

Penelitian juga menemukan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok “pemikir” dan “bukan pemikir” pada akhir pekan.

Peneliti belum bisa menjelaskan temuan tersebut.

Sikap malas bisa memperburuk gaya hidup

Sikap malas yang dikaitkan dengan kecerdasan tinggi bisa berdampak buruk bagi gaya hidup.

Pemimpin penelitian, Todd McElroy mengatakan, bermalas-malasan bisa membuat mereka yang memiliki IQ tinggi menjadi kurang aktif.

Betapapun cerdasnya mereka, kata McElroy, harus juga berupaya meningkatkan aktivitas keseluruhan untuk kesehatan tubuh.

“Pada akhirnya, faktor penting yang dapat membantu individu yang lebih bijaksana mengatasi tingkat aktivitas rata-rata mereka yang lebih rendah adalah kesadaran,” kata dia.

“Kesadaran akan kecenderungan mereka untuk kurang aktif, ditambah dengan kesadaran akan biaya yang terkait dengan ketidakaktifan, orang-orang yang lebih bijaksana mungkin kemudian memilih untuk menjadi lebih aktif sepanjang hari,” imbuh McElroy.

Apakah orang malas benar-benar lebih cerdas?

Pendiri Microsoft Corporation, Bill Gates mengaku lebih memilih orang malas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sulit.

“Saya selalu memilih orang yang malas untuk melakukan pekerjaan yang sulit, karena orang yang malas akan menemukan cara mudah untuk melakukannya,” kata dia, dikutip dari CNBC.

Sementara itu, penulis buku terlaris “Moneyball” dan “The Big Short”, Michael Lewis yang dikenal cerdas dan sukses, tidak pernah ragu untuk menyebut dirinya sendiri sebagai pemalas.

Dia mengaitkan sebagian besar kesuksesannya dengan kemalasan.

“Kemalasan saya berfungsi sebagai filter,” kata dia dalam sesi wawancara dengan CEO perusahaan survei online Qualtrics, Ryan Smith.

“Sesuatu harus benar-benar bagus sebelum saya memutuskan untuk mengerjakannya,” imbuhnya.

Persepsi Lewis tentang kemalasan dapat disebut sebagai “kemalasan semu”, yakni fakta bahwa kemalasannya justru berkontribusi pada kesuksesan sehingga membantah stereotip negatif tentang orang yang malas.

Salah satu contoh lain dari kemalasan semu adalah permainan games video.

Permainan ini sering dianggap sebagai aktivitas tanpa berpikir yang kebanyakan dinikmati oleh orang-orang malas.

Tetapi, siapa pun yang pernah bermain Fortnite tahu bahwa permainan ini membutuhkan banyak pemikiran strategis dan pemecahan masalah.

Meski demikian, CEO Tesla, Elon Musk, justru dikenal sebagai seseorang yang jauh dari kata malas.

Dia bekerja lebih dari 100 jam per minggu selama bertahun-tahun tanpa libur dan kini menjadi orang pertama dengan kekayaan setengah triliun dollar AS.

Selain itu, Mark Zuckerberg dan Larry Page juga dikenal sebagai orang rajin yang kini sangat sukses.

Dengan demikian, kata “malas” memiliki definisi yang luas.

Namun, bukti menunjukkan bahwa kita sebaiknya lebih berhati-hati dan sadar saat menilai sifat seseorang sebelum menyebutnya pemalas.

Di sisi lain, Anda juga bisa mengambil manfaat positif dari rasa malas dalam diri sendiri.