PasarModern.com, BANJARMASIN – Awalnya hanya rasa penasaran. Dari satu tautan yang dibagikan di sebuah kanal WhatsApp, M (16), siswa kelas 10 sebuah SMA di Banjarmasin, tak menyangka masuk pusaran konten radikalisme dan terorisme.
Warga Kecamatan Banjarmasin Selatan ini bercerita awalnya bergabung dengan sebuah kanal WhatsApp yang membagikan berbagai informasi keislaman. Di kanal tersebut, ia menemukan satu tautan yang mengarah ke grup tertutup dan harus menunggu persetujuan admin.
“Tidak lama setelah masuk, ternyata di dalam grup itu banyak video terorisme. Ada video yang mengganggu, video perang tanpa sensor, sampai konten yang membahas kelompok teroris dan perakitan bahan peledak,” ujar M saat diwawancarai, Selasa (16/12).
M mengaku mulai mengikuti grup tersebut pada Oktober 2025. Rasa penasaran membuatnya sempat menonton sejumlah video yang dibagikan. “Awalnya cuma penasaran. Tapi setelah lihat isinya, sebenarnya takut juga,” katanya.
Aktivitas di grup tersebut didominasi unggahan video dan foto, disertai tulisan-tulisan berbahasa Arab. Meski demikian, M menegaskan dirinya tidak pernah menyimpan apalagi menyebarkan ulang konten tersebut.
Paparan itu akhirnya berujung pada pemanggilan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. M bersama dua remaja lain dari daerah berbeda di Kalimantan Selatan menjalani proses asesmen dan pembinaan. “Saya dipanggil, lalu dikasih bimbingan mana yang benar dan mana yang salah. Dikasih kajian yang benar juga,” ucapnya.
W (34), ibu M, mengakui kelalaiannya dalam mengawasi aktivitas digital sang anak. Ia menyebut anaknya memang kerap menghabiskan waktu dengan ponsel. “Saya pernah cek videonya, ternyata ada unsur terorisme. Sempat saya keluarkan dari grup, tapi dia masuk lagi,” katanya.
W menceritakan, kedatangan Densus 88 bermula ketika suaminya didatangi petugas di tempat kerja. Karena tidak berada di rumah, petugas kemudian menemui dirinya dan meminta keluarga menjemput M di sekolah untuk menjalani asesmen. “Alhamdulillah, sikap anak saya tidak berubah. Tapi ini jadi pelajaran besar buat kami,” ujarnya.
Dikutip dari Kompas.com, Densus 88 mengungkap 110 anak berusia 10 hingga 18 tahun dari 23 provinsi diduga terekrut oleh jaringan terorisme. Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11), Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan anak-anak tersebut diduga terekrut melalui media sosial (medsos).
Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Kesbangpol Provinsi Kalimantan Selatan, Sayyid Muhammad Yusfiansyah, membenarkan adanya tiga anak yang terpapar radikalisme dari media sosial dan game online. “Mereka sudah ditangani oleh tim dan sudah direhabilitasi,” ujar Yusfi pada akhir November lalu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di luar data resmi Kesbangpol, tiga anak tersebut masing-masing berasal dari Banjarmasin, Banjarbaru, dan Barabai. Pola paparannya pun beragam, mulai dari pendekatan melalui permainan daring hingga masuk ke kanal dan grup WhatsApp tertutup yang berisi konten propaganda.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kalsel terus melakukan berbagai langkah antisipatif melalui pencegahan dan deteksi dini. Upaya ini dilakukan dengan koordinasi lintas sektor, termasuk aparat keamanan dan lembaga terkait di tingkat nasional.
Langkah yang dilakukan antara lain penguatan deteksi dini dan intelijen daerah, sosialisasi dan edukasi pencegahan radikalisme, penguatan moderasi beragama, pembinaan organisasi kemasyarakatan dan komunitas, serta kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Firdha Yuserina M.Psi, Psikolog Universitas Lambung Mangkurat, menegaskan anak-anak yang terpapar paham radikal bukanlah anak “jahat”, apalagi ancaman. Mereka adalah anak-anak yang sedang mencari sesuatu, dan kebetulan menemukannya di tempat yang salah.
Ada banyak faktor yang membuat anak rentan terpapar radikalisme. Sebagian datang dari lingkungan, sebagian lagi dari dalam diri anak itu sendiri. Dari sisi lingkungan, paparan gawai yang berlebihan sejak usia dini tanpa pengawasan orang tua menjadi pintu masuk paling awal.
“Orangtua yang terlalu sibuk, hubungan keluarga yang renggang, atau kondisi broken home membuat anak lebih banyak mencari pelarian dan kelekatan di luar rumah. Dunia digital kemudian menawarkan itu semua, tanpa batas, tanpa filter, dan sering kali tanpa pendampingan,” paparnya.
Dari sisi individu, lanjut Firdha, anak-anak ini umumnya memiliki kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi. Mereka merasa kesepian, ingin diterima oleh kelompok sebayanya, ingin dianggap hebat, penting, dan berarti.
Ada pula faktor temperamen, anak yang lebih impulsif, mudah terpengaruh, atau sangat sensitif terhadap penolakan sosial biasanya lebih rentan. Ketika dunia nyata gagal memberi rasa aman dan pengakuan, dunia digital mengambil alih peran itu.
Dalam literatur psikologi, proses ini dikenal sebagai grooming. Proses ini berjalan pelan, halus, dan sangat emosional. Dimulai dari pendekatan personal seperti pujian berlebihan, empati palsu, atau sikap seolah paling memahami anak. Lalu anak diberi identitas dan rasa memiliki, dibuat merasa menjadi bagian dari komunitas “khusus” yang dianggap lebih benar, lebih paham, dan lebih peduli dibanding lingkungan sekitarnya.
Setelah itu, konten ekstrem dinormalisasi. Bukan lewat ceramah keras, tapi lewat cerita sederhana, meme, video pendek, atau narasi emosional yang mudah dipahami anak. Perlahan, anak diuji loyalitasnya. Sudut pandang lain mulai dianggap salah, bahkan musuh. Anak dijauhkan dari pandangan yang lebih moderat, tanpa sadar sedang diisolasi secara psikologis.
“Semua ini dilakukan dengan pendekatan relasional. Itulah mengapa banyak anak tidak sadar bahwa mereka sedang dimanipulasi. Yang mereka rasakan hanyalah: “Aku diterima di sini. Aku penting. Aku punya peran.” kata Firdha.
Tanda-tanda anak mulai terpapar biasanya terlihat dari perubahan perilaku. Anak menarik diri dari keluarga atau teman lama, mengganti lingkar pertemanan, dan mulai menggunakan bahasa yang hitam-putih, benar versus salah, kami versus mereka. Ada tokoh atau kelompok tertentu yang tiba-tiba diagungkan. Anak menjadi lebih sering online, mudah tersinggung, defensif terhadap kritik, dan minat pada sekolah atau hobi lama mulai menurun. “Namun, tanda-tanda ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai radikalisme. Semua tetap perlu observasi yang hati-hati dan profesional,” kata Firdha. (sul)
