Setianingsih Tewas di Rumah, Kades Bantah Tuduhan Tak Peduli

Posted on

Penjelasan Kepala Desa Mengenai Kematian Setianingsih

Kepala Desa Bebengan, Wastoni menyangkal dugaan bahwa warga tidak peduli terhadap kondisi keluarga Setianingsih yang meninggal dalam keadaan membusuk di rumahnya. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (1/11/2025) di Dukuh Somopuro RT 07 RW 07, Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.

Setianingsih meninggalkan dua anak perempuan, Putri Setia Gita Pratiwi (23) dan Intan Ayu Sulistyowati (17). Mereka tinggal bersama ibunya selama beberapa bulan terakhir. Namun, sejak tanggal 4 Oktober 2025 hingga jenazah Setianingsih ditemukan, keduanya hanya minum air sumur yang direbus dan tidak makan nasi sama sekali.

Putri dan Intan menutup pintu rumah mereka dan hanya keluar untuk berbelanja. Meski begitu, mereka tetap menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar. Menurut Wastoni, keluarga Setianingsih dianggap sebagai kalangan mampu di desa tersebut. Setiap bulannya, ada becak yang membawa barang belanja ke rumah mereka. Selain itu, keluarga ini juga aktif dalam kegiatan desa seperti PKK.

Namun, setelah jenazah Setianingsih ditemukan, isu mengenai ketidaktahuan warga dan perangkat desa mulai muncul. Wastoni membantah hal tersebut. Ia menyatakan bahwa proses pengurusan jenazah dilakukan secara layak sesuai aturan.

Putri sempat membeli roti seharga Rp100 ribu di toko kelontong dekat rumah pada Jumat (3/10/2025). Roti tersebut rencananya akan dimakan bersama adik dan ibunya. Namun, setelah itu, Putri tidak lagi terlihat keluar dari rumah. Rumah Setianingsih selalu tertutup, meskipun lampu menyala saat malam hari.

Wastoni mengungkapkan bahwa Putri dan Intan tidak meminta bantuan kepada tetangga karena dilarang oleh sang ibu. Alasannya adalah takut merepotkan orang lain. Bahkan, mereka tidak memberi tahu siapa pun tentang kondisi keluarganya.

Kondisi Anak Setianingsih

Setelah jenazah Setianingsih ditemukan, Putri dan Intan dirawat di RS PKU Muhammadiyah Boja, Kendal. Dokter Arfa Bima Firizqina mengungkapkan bahwa keduanya dalam kondisi lemas dan mengalami kekurangan psikologis. Meskipun tidak mengalami kekurangan kadar gula, mereka mengalami dehidrasi akibat tidak makan nasi selama sebulan.

Saat pertama kali dibawa ke rumah sakit, Intan sudah tidak sadarkan diri. Saat ini, pihak rumah sakit sedang fokus pada pemulihan fisik dan psikologis kedua korban. Dokter juga sedang berkoordinasi dengan dokter psikiater untuk penanganan lebih lanjut.

Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kendal

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, langsung menjenguk Putri dan Intan yang sedang menjalani perawatan. Ia menyampaikan rasa prihatin atas kejadian ini. Kondisi fisik Putri mulai membaik, meskipun masih ada ketidakstabilan psikologis.

Langkah awal yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten adalah pendataan kepesertaan BPJS. Setelah satu hari, BPJS kedua kakak beradik tersebut telah aktif dan bisa digunakan. Selain itu, pihaknya juga akan menjamin kehidupan keduanya pasca perawatan di rumah sakit.

Putri dan Intan akan ditempatkan di Panti Margi Utomo Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Untuk Intan, yang mengalami keterbelakangan mental, akan diberikan perlakuan khusus. Sedangkan Putri akan diberi pelatihan khusus untuk masa depannya.

Bupati juga mengimbau agar perangkat desa lebih memperhatikan warga yang menunjukkan perubahan perilaku. Ia menyarankan agar warga memiliki empati dan tidak sampai tidak diketahui.

Penemuan Jenazah Setianingsih

Jenazah Setianingsih ditemukan oleh warga pada Sabtu (1/11/2025) di dalam rumah dalam keadaan membusuk. Warga curiga karena tidak melihat penghuni rumah dan mencium bau tak sedap serta kerumunan lalat dari jendela. Saat ingin masuk, pintu rumah dikunci dan diganjal kursi dari dalam.

Setelah dibuka, warga menemukan Setianingsih sudah meninggal. Kepala Desa Bebengan, Wastoni, mengatakan bahwa sosok Setianingsih dikenal sebagai orang yang mudah bergaul dan aktif dalam kegiatan desa. Namun, beberapa hari terakhir, ia mulai jarang keluar rumah.

Kejadian ini terungkap setelah warga mencium aroma busuk dan melihat kerumunan lalat di dekat jendela. Setelah pintu dibuka, warga bertanya ke Putri tentang keberadaan ibunya. Ketika dilihat, Setianingsih sudah meninggal dan membusuk.

Wastoni langsung memanggil pihak kepolisian dan warga untuk mengevakuasi jenazah. Kedua anak Setianingsih kini dirawat di RS PKU Muhammadiyah Boja Kendal karena kondisi tubuh lemas akibat kekurangan nutrisi.