Sejarah Kelurahan Pajang di Laweyan Solo, konon sudah dikenal sejak zaman Majapahit

Posted on

Ringkasan Berita:

  • Kelurahan Pajang dikenal sejak Majapahit, pernah menjadi pusat Kesultanan Pajang, dan memiliki situs purbakala serta pusat perbelanjaan Solo Square.
  • Pemekaran Wilayah: Rencana pemekaran menjadikan sebagian wilayah utara rel kereta api menjadi Kelurahan Ngendroprasto, dengan kantor baru dibangun di bekas makam, mendukung pelayanan publik lebih efisien.
  • Ikon Wisata: Masjid Laweyan (1546) sebagai masjid tertua Surakarta dan Solo Floss Roll, kue bolu gulung abon khas Pajang.

 

PasarModern.com, SOLO –  Kelurahan Pajang merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah, beginilah sejarahnya.

Kelurahan Pajang memiliki kode pos 57146.

Berdasarkan data tahun 2020, jumlah penduduk kelurahan ini mencapai 25.065 jiwa.

Pajang tidak hanya dikenal sebagai wilayah administratif, tetapi juga memiliki nilai sejarah, situs purbakala, pusat perbelanjaan, serta ikon wisata religi dan kuliner yang menarik.

Lokasi Kelurahan Pajang ini berjarak 5,8 kilometer dari Balai Kota Solo dan bisa ditempuh kurang lebih 15 menit kendaraan bermotor.

Sejarah Pajang

Wilayah Pajang telah dikenal sejak masa Majapahit, ketika terdapat jabatan administrasi wilayah yang disebut Bhre Pajang.

ada masa berikutnya, Pajang menjadi pusat Kesultanan Pajang yang sering dianggap sebagai penerus Kesultanan Demak.

Setelah wafatnya Sultan Trenggana, terjadi perebutan kekuasaan di wilayah Demak.

Dalam kondisi ini, Adiwijaya, Adipati Pajang, berhasil menenangkan situasi dan diangkat menjadi Sultan Pajang pertama.

Di perbatasan Pajang dengan Desa Makamhaji terdapat situs purbakala yang diyakini sebagai sisa-sisa keraton Kesultanan Pajang, menegaskan sejarah panjang wilayah ini.

Selain sejarah kerajaan, Pajang juga kini menjadi pusat perbelanjaan modern dengan hadirnya Solo Square, yang menjadi salah satu destinasi belanja utama di Solo.

Pembagian Wilayah Kelurahan Pajang

Kelurahan Pajang terdiri dari sejumlah kampung, antara lain:

Bendosari, Bothokan, Blag-Bligan, Bratan, Griyan, Jongke, Kadipaten, Kagokan, Karangturi, Kidul Pasar

Ledokasri, Lor Pasar, Ngendroprasto, Norowangsan, Nyaen, Pajangan, Sidodadi, Setono, Sodipan, Sogaten

Suronalan, Tegal Kembang, Tegal Keputren, Totosari, Tunggulsari

Pembagian ini mencerminkan karakter unik masing-masing kampung yang masih memegang kearifan lokal dan budaya masyarakat Solo.

Wacana Pemekaran Wilayah

Warga Kelurahan Pajang telah menyiapkan rencana pemekaran wilayah menjadi dua kelurahan, salah satunya bernama Ngendroprasto.

Pemekaran ini mencakup RW 009 hingga RW 016 di bagian utara rel kereta api.

Nama Ngendroprasto diambil dari nama Kampung Ngendroprasto.

 Kantor kelurahan baru akan dibangun di bekas makam Ngendroprasto, yang akan direlokasi ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Pemkot Solo.

Luas lahan sekitar 1.900 meter persegi dipersiapkan untuk kantor kelurahan dan fasilitas pendukung lainnya.

Warga di utara rel kereta api yang ingin mengakses pelayanan harus melalui underpass yang dapat dilalui pejalan kaki, sepeda, dan sepeda motor.

Mobil harus memutar melalui Kelurahan Sondakan untuk mencapai kantor kelurahan.

Rencana pemekaran wilayah ini sejalan dengan rencana Pemkot Solo yang akan memekarkan tiga kelurahan lain, termasuk Jebres dan Mojosongo, dengan nama baru untuk sebagian wilayah seperti Kelurahan Kentingan, Kendalrejo, dan Mertoudan.

Ikon Wisata Religi di Pajang

Salah satu ikon religi terkenal di Pajang adalah Masjid Laweyan, yang berdiri pada tahun 1546 di masa Sultan Hadiwijaya, salah satu sultan Kesultanan Pajang.

Masjid ini diyakini sebagai masjid tertua di Surakarta dan memiliki sejarah unik:

  • Sebelumnya bangunan ini adalah tempat persembahyangan Hindu Jawa yang dikelola Ki Ageng Beluk.
  • Tempat tersebut diserahkan kepada Ki Ageng Henis yang mengubahnya menjadi masjid.
  • Arsitektur masjid khas Jawa, dengan atap bertajuk bersusun dan dinding dari batu bata, serta tata ruang terbagi menjadi ruang induk, serambi kanan untuk perempuan, dan serambi kiri untuk jamaah tambahan.
  • Masjid memiliki tiga lorong di bagian depan yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan.
  • Di kompleks masjid terdapat mata air sumur yang konon muncul dari injakan kaki Sunan Kalijaga dan tidak pernah kering meskipun kemarau panjang.

Masjid Laweyan tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga daya tarik wisata religi yang menghubungkan sejarah Islam di Solo dengan budaya lokal.

Ikon Kuliner Khas Pajang: Solo Floss Roll

Pajang juga terkenal dengan kuliner khasnya, salah satunya adalah Solo Floss Roll, kue bolu gulung berisi abon daging.

Produk ini menjadi oleh-oleh favorit pemudik dan keluarga Jokowi.

Ide pembuatan floss roll bermula dari kebutuhan membuat oleh-oleh tahan lama untuk keluarga yang rumahnya jauh.

Pada 2017, usaha ini mulai membuka outlet di Jalan Parikesit Utara, Kelurahan Pajang, dan di Transmart Mall Kartasura dengan nama Solo Floss Roll.

Varian rasa dan harga:

  • Abon sapi original: Rp 67 ribu per pak
  • Abon sapi pedas: Rp 68 ribu per pak
  • Abon ayam: Rp 58 ribu per pak

Bahan baku utama berasal dari daging sapi peternak lokal di Wonogiri dan Boyolali.

Selain floss roll, toko ini juga menyediakan bakpia durian, nastar, roti cokelat, cromboloni, dan abon siap saji.

Solo Floss Roll menjadi salah satu ikon kuliner yang menguatkan identitas kuliner Pajang sekaligus menjadi daya tarik wisata kuliner Kota Solo.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *