–
Berawalnya Sejarah Desa Umoja
Samburu yang diperkosa tentara Inggris di dekat Archer’s Post disingkirkan oleh keluarganya. Mereka dianggap telah mencemarkan nama baik suaminya dan komunitasnya. Tak punya tempat kembali, mereka menemukan sebidang tanah, menetap dan menamai desa itu Umoja.
Salah satu perempuan yang terkena dampak adalah Rebecca Lolosoli. Dengan desa ini, Lolosoli memulai mengorganisir perempuan-perempuan dengan nasib yang sama dan menciptakan tempat yang aman bagi mereka. Hal ini akhirnya menjadi salah satu visi Lolosoli untuk menjadikan Desa Umoja sebagai tempat yang menyelesaikan ketidakadilan tersebut.
Selain itu, dalam budaya Samburu, perempuan memiliki hak yang minim atas tubuh dan kehidupannya sendiri. Mereka sering dipaksa menikah pada usia muda, mengalami mutilasi genital perempuan (FGM), dan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
CNN
Perempuan yang berani menentang tradisi ini sering kali dikeluarkan dari komunitas mereka.
Seiring waktu, Umoja berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal. Desa ini berkembang menjadi tempat perlindungan bagi perempuan yang melarikan diri dari pernikahan penuh kekerasan, mutilasi alat kelamin, pemerkosaan, hingga berbagai bentuk penindasan lainnya. Bahkan, para janda pun menemukan harapan baru di sana.
Dilansir dari laman
,
Umoja dalam bahasa Swahili berarti “persatuan”. Desa ini bukan hanya menjadi tempat perlindungan, tetapi juga komunitas berbasis kesetaraan, di mana perempuan memiliki kendali penuh atas kehidupan mereka.
Kehidupan Masyarakat Umoja
Untuk bertahan hidup, perempuan di Umoja mengelola ekonomi mereka sendiri dengan menjual kerajinan tangan seperti perhiasan khas Samburu, yaitu manik-manik, kalung warna-warni, dan gelang. Desa ini juga terbuka bagi para wisatawan yang ingin mengenal budaya mereka.
Pendapatan yang diperoleh diatur oleh kepala desa dan dialokasikan untuk kebutuhan makanan serta pendidikan.
Bantuan nasional Samburu dan sumbangan dari berbagai pihak diterima. Dana yang terkumpul digunakan untuk membangun sekolah yang juga terbuka bagi anak-anak desa tetangga, membayar gaji guru, serta membangun infrastruktur dasar seperti sumur. Dengan perekonomian mandiri yang dilakukan oleh masyarakat, Umoja turut menjadi pusat pemberdayaan perempuan yang mandiri dan berdaya.