Seabad Hari Hewan Dunia: Selamatkan Hewan, Selamatkan Bumi

Posted on

Sejarah dan Pentingnya Hari Hewan Sedunia

Hari Hewan Sedunia (World Animal Day) telah memasuki usia seratus tahun. Perayaan ini pertama kali diadakan pada tahun 1925 oleh Heinrich Zimmerman, seorang penulis dan aktivis pelindung hewan. Acara tersebut digelar di Sport Palace, Berlin, pada 24 Maret 1925 dan menarik perhatian sekitar 5.000 pengunjung. Ide ini kemudian mendapat dukungan luas dan terus berlangsung dalam tahun-tahun berikutnya.

Pada Kongres Organisasi Perlindungan Hewan Sedunia di Florence, Italia, Mei 1931, peserta menyepakati perubahan waktu perayaan WAD dari 24 Maret menjadi 4 Oktober. Tujuan dari perayaan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang perlindungan dan kesejahteraan hewan, yang sangat penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati, ekosistem, dan kelangsungan hidup manusia.

Di usia 100 tahunnya, WAD mengusung tema ‘Save Animals, Save the Planet!’ atau ‘Selamatkan Hewan, Selamatkan Planet!’. Tema ini mengingatkan kita akan hubungan antara kesejahteraan hewan dan kesehatan planet. Interaksi manusia dengan hewan telah terjadi sejak kehidupan berdenyut di permukaan bumi hingga sekarang. Banyak manfaat yang telah diambil manusia dari hewan untuk kesejahteraannya, seperti sumber makanan, alat transportasi, tenaga kerja, dan lainnya.

Kesejahteraan Hewan sebagai Hak Dasar

Kesejahteraan hewan (kesrawan) merupakan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan dan memperlakukan hewan sesuai kodratnya. Pemahaman ini merupakan wujud berlaku adil terhadap sesama makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam Kitab, Kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan” (Q.S. Al-An’am: 38).

Secara prinsip, kesrawan adalah pemenuhan kebutuhan dasar hewan agar mendapatkan lima kebebasan, yaitu: bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku alaminya, dan bebas dari rasa takut dan tertekan. Meski isu ini global, di negeri kita belum mendapat perhatian serius. Pemenuhan hak asasi hewan belum membudaya seperti di negara-negara Barat dan Eropa.

Ancaman terhadap Kesejahteraan Hewan

Di alam bebas, kehidupan satwa liar terancam karena keserakahan dan ketamakan manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan. Pembalakan liar dan pembakaran hutan mengakibatkan kematian dan kerusakan habitat hidup mereka. Akibatnya, terciptalah konflik hewan dan manusia. Kesejahteraan hewan liar juga terancam karena ulah manusia yang memburu hewan untuk mengambil bagian tubuhnya seperti: cula, gading, taring, tanduk, bulu dan lainnya.

Sementara itu, hewan kesayangan juga tidak luput dari perlakuan yang melanggar kesrawan. Dengan berbagai dalih, pemilik kerap melakukan tindakan bedah kosmetik seperti mencabut kuku, meratakan taring, memotong ekor dan telinga serta tindakan lainnya untuk mempercantik tampilan hewannya.

Kesejahteraan Hewan di Indonesia

Di daerah pedesaan, ternak menjadi bagian penting dari kesejahteraan keluarga. Namun, banyak hewan ternak yang tidak memperoleh haknya sebagai hewan ternak. Di Aceh misalnya, hampir di seluruh daerah ditemukan sapi, kerbau, atau kambing yang berkeliaran di jalanan, sawah, atau kebun-kebun warga untuk mencari makan. Malamnya, mereka tidur di jalanan karena tidak disediakan kandang. Belum lagi peliharaan seperti anjing, kucing, dan ayam yang juga tidak mendapatkan perawatan yang baik dari pemiliknya.

Anjing yang tidak dirawat dengan baik, misalnya tidak divaksin Rabies secara rutin, adalah penyebab penyakit anjing gila (Rabies) yang sangat mematikan. Anjing adalah penyebab utama Rabies di Indonesia (lebih dari 95 persen) yang selalu mengintai jiwa manusia. Sementara ayam dan bebek yang diumbar begitu saja, bisa memicu penyakit flu burung (H5N1) yang pernah menghebohkan dunia.

Peran Kesrawan dalam Kesehatan dan Lingkungan

Kesrawan berimbas pada masalah kesehatan, baik kesehatan hewan sendiri maupun kesehatan manusia. Semakin sejahtera hewan dan tercukupi kebutuhannya, semakin sehat dan kuat dalam menghadapi berbagai penyakit. Tak hanya penyakit yang menyerang sesama hewan, tapi juga yang bisa menular ke manusia (zoonosis). Kesrawan juga terkait dengan lingkungan hidup hewan. Semakin baik dan nyaman lingkungan hidupnya maka semakin terjaga kesehatannya.

Dewasa ini lebih dari 200 penyakit bersifat zoonosis. Secara global, diperkirakan satu miliar kasus penyakit dan jutaan kematian setiap tahunnya diakibatkan oleh zoonosis. Zoonosis tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, tapi berimbas juga pada perekonomian, perdagangan, bahkan berdampak pada kenyamanan dalam beribadah.

Masa Depan Kesrawan

Mewujudkan kesehatan global tidak hanya terpaku pada kesehatan manusia semata, tapi juga terkait erat dengan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan. Hewan yang sehat hanya bisa didapat bila hewan hidup sejahtera. Di Eropa dan negara-negara maju lainnya, isu kesehatan dan kesrawan menjadi trending topic dan dijadikan hambatan non tarif dalam menolak masuk atau menunda suatu komoditi ternak atau hasil ternak yang tidak diinginkan. Lebih-lebih jika komoditi tersebut dianggap sebagai media pembawa penyakit.

Di negara maju, sebuah produk ternak dihargai lebih jika proses produksinya menerapkan prinsip kesrawan. Misal, telur ayam yang dihasilkan dari peternakan yang bebas kandang –dilepas alamiah- atau semi dikandangkan dihargai lebih mahal dibanding yang berasal dari peternakan intensif (dikandang). Begitu juga produk peternakan lainnya.

Dibutuhkan upaya masif dalam mempromosikan kesrawan melalui sosialisasi, kampanye, dan pendidikan guna mendorong perbaikan standar hidup hewan sesuai habitatnya. Momen perayaan WAD hendaknya menjadi pelecut dalam menumbuhkan kesadaran bersama bahwa dengan menyelamatkan hewan, kita juga menyelamatkan planet ini.