Peran Kilang Minyak dalam Mewujudkan Kedaulatan Energi
Kilang minyak menjadi bagian penting dalam rantai industri energi dan petrokimia. Fungsinya adalah mengolah minyak mentah menjadi berbagai produk turunan yang bernilai tinggi dan siap digunakan oleh masyarakat maupun industri. Dalam upaya mewujudkan visi kedaulatan energi, penambahan kapasitas kilang minyak menjadi suatu keniscayaan.
Beberapa proyek kilang strategis nasional (PSN) telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16/2025. Enam proyek tersebut antara lain:
- Kilang Minyak Tuban (ekspansi)
- Upgrading kilang-kilang existing/refinery development master plan (RDMP) di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Riau, dan Sumatra Selatan
- RDMP dan Industri Petrokimia Balongan
Beberapa proyek tersebut sudah berjalan dan ada yang hampir rampung. Salah satunya adalah proyek RDMP Balikpapan yang akan menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia.
Pengembangan Infrastruktur dan Penambahan Kapasitas
PT Pertamina (Persero) terus meningkatkan keandalan infrastruktur pengolahan dengan melakukan pengembangan kilang serta sarana dan fasilitas pendukungnya. Dalam masa 1 tahun pemerintahan Prabowo – Gibran, perusahaan pelat merah itu telah menyelesaikan pembangunan dua tangki minyak mentah raksasa di Lawe-Lawe. Tangki tersebut merupakan terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Tangki Lawe-Lawe merupakan bagian dari proyek RDMP Balikpapan yang menaikkan kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan menjadi 360.000 barel per hari (bph). Proyek RDMP Balikpapan juga akan mengoperasikan unit utama hasil proyek RDMP Balikpapan yaitu Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) pada akhir tahun ini.
Selain itu, Pertamina juga telah menyelesaikan pembangunan empat unit tangki baru di Kilang Balongan. Masing-masing tangki memiliki kapasitas 29.000 meter kubik. Penambahan total kapasitas penyimpanan ini memperkokoh peran Kilang Balongan dalam mengelola inventaris produk BBM.
Multiplier Effect dan Penguatan Ekonomi Lokal
Proyek-proyek kilang Pertamina termasuk RDMP memberikan multiplier effect kepada ekonomi lokal, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja. Fadjar Djoko Santoso, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menyebut bahwa beberapa proyek RDMP kilang Pertamina telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal.
Di samping itu, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam proyek tersebut tentu juga bisa menggerakkan industri lokal. Selain kilang, Pertamina juga melakukan inisiatif pembangunan pipa minyak yang menghubungkan Kilang Balongan dengan Terminal BBM Plumpang. Pipa sepanjang 96 km ini akan menyalurkan sekitar 4,6 juta kiloliter BBM per tahun.
Proyek Pipa Distribusi dan Keandalan Pasokan
Pipa Distribusi Tegal-Cilacap sebagai jalur pemanfaatan gas bumi menuju Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Jawa Tengah. Proyek yang digagas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) itu merupakan sambungan atau cabang dari jalur transmisi gas utama seperti Pipa Transmisi Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap II. Pipa yang membentang sepanjang 130 km itu akan menyalurkan gas bumi ke kilang Cilacap agar kilang dapat menggunakan gas sebagai bahan baku.
Volume gas yang ditargetkan dialirkan ke Kilang Cilacap disebut mencapai 51 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd).
Urgensi Kilang dalam Ketahanan Energi Nasional
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai kilang minyak memiliki peran penting dalam ketahanan energi nasional. Kendati demikian, industri kilang minyak di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya dihadapkan pada pasar BBM nasional dengan kondisi regulated market, sebagian besar volume BBM yang diperdagangkan merupakan BBM subsidi atau BBM kompensasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan industri kilang minyak di Indonesia relatif sulit untuk dapat memperoleh margin usaha yang wajar. Imbasnya, perkembangan industri kilang di Indonesia relatif lambat.
Investasi Besar dan Kebutuhan Kapasitas Kilang
Komaidi mengatakan, kebutuhan anggaran investasi yang besar sementara margin yang diperoleh relatif belum kompetitif, menyebabkan industri kilang minyak tidak menjadi pilihan utama. Berdasarkan data, rata-rata pembangunan kilang minyak dengan kapasitas 100.000 barel per hari memerlukan investasi antara US$7,5 miliar – US$8 miliar atau sekitar Rp123 triliun – Rp132 triliun.
Dengan konsumsi BBM saat ini sekitar 1,6 juta barel per hari, Indonesia paling tidak harus memiliki kilang minyak dengan kapasitas sekitar 2 juta barel per hari demi menekan impor. Saat ini, kapasitas kilang minyak Indonesia sekitar 1,14 juta barel per hari, sehingga diperlukan tambahan kapasitas sekitar 852.000 barel per hari atau setara dengan kebutuhan investasi sekitar Rp1.054 triliun hingga Rp1.125 triliun.
Peremajaan Kilang Minyak
Terkait aspek teknologi dan keandalan kilang, Komaidi berpendapat kebijakan RDMP dan GRR untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk yang selama ini sudah dilakukan Pertamina pada dasarnya telah tepat. Perkembangan teknologi dan keandalan kilang global tercatat terus meningkat. Sebagian besar Nelson Complexity Index [NCI] kilang global berada di atas 10 yang mencerminkan kilang-kilang tersebut memiliki tingkat kompleksitas dan teknologi yang tinggi.
Percepatan Proyek Kilang sebagai Keniscayaan
Sementara itu, Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Abra Talattov menilai, peran Pertamina dalam mencapai kemandirian energi nasional sangat krusial, khususnya melalui peningkatan kapasitas kilang minyak domestik. Namun, di tengah beban investasi besar dan tekanan reputasi, BUMN energi itu dihadapkan pada tantangan serius dalam menjaga kecepatan realisasi proyek strategis tersebut.
Abra menekankan, Pertamina harus membuktikan kemajuan nyata dalam proyek-proyek kilang yang telah masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) serta peta jalan (roadmap) korporasi. Target penyelesaian kilang pada tahun ini atau 2026, menurutnya, harus dijaga agar tepat waktu dan siap beroperasi secara optimal.
