Sanksi untuk Guru Bahasa Inggris Usai Dikeroyok 12 Siswa SMK

Posted on

Kasus Pengeroyokan Guru di SMKN 3 Berbak, Jambi

Sebanyak 12 siswa SMK Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi yang terlibat pengeroyokan guru Bahasa Inggris kini telah menerima sanksi. Insiden ini terjadi di SMKN 3 Berbak, yang menimbulkan kegaduhan dan viral di media sosial. Video yang menunjukkan belasan siswa mengeroyok guru bernama Agus Saputra menjadi perhatian publik.

Guru Agus melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Polda Jambi. Setelah proses mediasi secara kekeluargaan yang melibatkan berbagai unsur terkait, termasuk perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, kejaksaan, kepolisian, TNI, pihak sekolah, komite, hingga para orangtua siswa, akhirnya diambil keputusan.

“Sanksi bagi pelaku pengeroyokan seluruh siswa harus buat surat pernyataan,” ujar Kepala Sekolah, Ranto M. Hasil keputusan mediasi menyebutkan bahwa total terdapat 12 siswa yang diwajibkan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Selain itu, belasan siswa tersebut juga diminta menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada guru yang menjadi korban.

Ranto menjelaskan bahwa aksi pengeroyokan tersebut dipicu oleh kondisi emosional para siswa yang tidak terkendali saat kejadian. Meski demikian, pihak sekolah tetap memberikan sanksi sebagai bentuk edukasi agar tindakan serupa tidak terulang di masa depan. “Mereka yang terlibat secara langsung melakukan pengeroyokan terhadap guru, karena emosi sesaat,” sebut Ranto.

Nasib Guru yang Menunggu Keputusan

Meski sanksi bagi siswa telah diputuskan, status guru yang menjadi korban pengeroyokan masih menunggu keputusan dari otoritas yang lebih tinggi. Muncul wacana mengenai pemindahan tugas sang guru demi alasan keamanan dan keselamatan setelah insiden tersebut.

Kepala Bidang Sekolah Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Jambi, Harmonis, menyatakan bahwa tim investigasi telah selesai mengambil keterangan dari semua pihak. Namun, keputusan final mengenai penempatan guru tersebut sepenuhnya berada di tangan pimpinan Dinas Pendidikan. “Keputusan pindah atau tetap mengajar bagi guru korban pengeroyokan, ada pada pimpinan,” tegas Harmonis.

Insiden guru dikeroyok siswa SMKN 3 Berbak yang terekam video dan viral di media sosial itu terjadi pada Selasa (13/1/2026) di lingkungan sekolah. Peristiwa berawal dari teriakan woi dari dalam kelas oleh siswa bernama Muhammad Luthfi Fadillah saat guru Agus Saputra sedang berjalan di luar kelas.

Versi Siswa: Berawal dari Tamparan di Kelas

Siswa SMKN 3 Berbak yang ditampar guru Agus, Muhammad Luthfi Fadillah, menuturkan peristiwa bermula saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai. Suasana kelas yang sempat ribut, sehingga membuatnya menegur teman-temannya agar diam. “Saya bilang, woi, diam,” tutur Luthfi.

Namun, teguran tersebut terdengar oleh guru Agus Saputra yang melintas di depan kelas. Menurut Luthfi, Agus kemudian masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang meneriakkan kata tersebut. Luthfi mengaku dan menjawab, “Saya, Prince.” Lalu, dia diminta maju ke depan kelas, lalu ditampar oleh guru Agus Saputra.

Mengapa Luthfi menjawab dengan kata “Prince” kepada guru Agus Saputra? Menurut M Luthfi, guru tersebut tidak ingin dipanggil dengan sebutan “Bapak” dan meminta dipanggil “Prince”. Ketegangan setelah itu berlanjut saat para siswa meminta guru Agus Saputra menyampaikan permintaan maaf karena dinilai telah menghina orang tua salah satu siswa. Permintaan itu tidak tercapai, hingga mereka dibawa ke kantor sekolah.

Di lokasi tersebut, Luthfi mengaku kembali mendapat ejekan dan kemudian dipukul di bagian hidung. Menurutnya, pukulan itu memicu reaksi spontan siswa lain hingga berujung para siswa mengeroyok guru Agus Saputra.

Versi Guru: Cekcok dan Tantangan Siswa

Saat itu, guru dan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Agus ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas. “Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” ujar Agus Suparta.

Menurutnya, siswa tersebut mengaku dan bahkan menantangnya. Agus mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. Ketegangan pun berlanjut hingga jam istirahat. Situasi memanas ketika sejumlah siswa mengejar Agus hingga ke halaman sekolah dan melakukan kekerasan fisik. Guru-guru lain kemudian melerai dan membawa Agus ke ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.

Mediasi Gagal, Berujung Pengeroyokan

Tak berapa lama setelah kejadian, kata Agus, telah dilakukan mediasi di sekolah. Dalam pertemuan itu, siswa meminta Agus menyampaikan permintaan maaf. Di sisi lain, Agus menawarkan solusi berupa petisi untuk mengetahui apakah siswa masih menginginkannya mengajar atau berkomitmen memperbaiki perilaku.

Namun, seusai mediasi, Agus mengaku kembali didatangi siswa lintas kelas saat berada di kantor sekolah. “Di situlah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, 2, dan 3,” katanya. Ia juga menuturkan ada siswa yang membawa senjata tajam. Sementara itu, beredar juga potongan video Agus Suparta terlihat memegang sabit.

Menurutnya, sabit tersebut merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah karena SMKN 3 Berbak merupakan SMK Pertanian. “Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti,” tegasnya.

Terkait peristiwa itu, Agus mengaku mendapat lemparan batu dan benda keras. Dia mengalami bengkak di tangan dan memar di punggung. Agus menegaskan tidak melawan, hanya membela diri.