Sangkaan Busuk di Bawah Tol Wiyoto Wiyono

Posted on

Bukit Sampah Berbau Busuk Muncul di Kolong Tol Wiyoto Wiyono

Pemandangan yang sangat mengganggu terjadi di kolong tol Wiyoto Wiyono, wilayah RT 06 RW 05, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di lokasi tersebut, muncul bukit sampah berbau busuk yang menumpuk hingga ketinggian sekitar empat meter. Tempat pembuangan sampah (TPS) liar ini bahkan disebut warga sebagai “Bantar Gebang Mini” karena kondisinya yang mirip dengan TPS besar di Bekasi.

Menurut informasi dari Ketua RT 06, RW 05, Ridwan (57), kolong tol tersebut telah menjadi TPS liar selama puluhan tahun. Awalnya hanya warga setempat yang membuang sampah di sana. Namun, seiring waktu, banyak warga dari Kelurahan Kebon Bawang, Warakas, dan Papanggo juga ikut membuang sampah ke lokasi ini karena beberapa TPS di sekitar Tanjung Priok ditutup.

Ridwan menjelaskan bahwa pengangkutan sampah di lokasi ini tidak sesuai dengan volume yang ada. Ia mengatakan, biasanya diperlukan 11 truk untuk mengangkut sampah, namun sering kali jumlah armada yang datang jauh lebih sedikit.

Penjaga TPS, Suyitno (58), menyampaikan bahwa awalnya pihak Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara menjanjikan 11 truk pengangkut sampah setiap hari jika warga yang biasa membuang sampah di Waduk Cicin dialihkan ke kolong tol. Namun, hingga saat ini, jumlah armada yang datang hanya sekitar enam hingga delapan truk per hari.

Bau sampah yang berasal dari tumpukan ini sudah mulai mengganggu warga sekitar. Menurut Suyitno, bau tersebut bisa tercium hingga ke RT 4, RT 5, RT 6, dan RT 7. Bahkan, aroma busuk ini mengganggu aktivitas di rumah ibadah yang berjarak sekitar 20 meter dari TPS.

Warga bernama Umar (65) juga mengatakan bahwa meskipun ia tidak keberatan jika kolong tol digunakan sebagai TPS, ia merasa terganggu karena bau sampah yang menyebar hingga ke rumahnya yang berjarak 200 meter dari lokasi.

Warga setempat telah beberapa kali melaporkan masalah ini melalui aplikasi JAKI, tetapi hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang signifikan.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Kasudin LH) Jakarta Utara, Edy Mulyanto, menjelaskan bahwa kebiasaan warga membuang sampah di kolong tol tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, belakangan ini volume sampah meningkat karena TPS di Waduk Cincin sedang dalam proses pembangunan. Edy menargetkan agar pembangunan TPS di Waduk Cincin selesai pada tahun ini, sehingga beban sampah di kolong tol dapat berkurang.

Edy juga berjanji akan segera menindaklanjuti pembuangan sampah tersebut dengan membersihkannya dalam dua hingga tiga hari ke depan. Selain itu, ia akan mengerahkan semua truk dari setiap kecamatan untuk mengangkut sampah di kolong tol Jalan Sungai Bambu tersebut.

Sebagai tambahan, para ahli lingkungan menyatakan bahwa tumpukan sampah di kolong tol ini memiliki dampak buruk bagi lingkungan sekitar. Menurut Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, kualitas udara di sekitar TPS akan terganggu akibat bau busuk yang dikeluarkan oleh tumpukan sampah tersebut. Selain itu, dampak lainnya adalah potensi penyebaran penyakit seperti gatal-gatal dan gangguan kesehatan lainnya.

Jika hal ini terus berlangsung tanpa penanganan yang tepat, kualitas hidup warga di sekitar TPS akan semakin menurun. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan.