Saat Limbah Hancurkan Mata Pencarian Nelayan Jakarta

Posted on

Masalah Limbah di Teluk Jakarta

Pencemaran limbah di Teluk Jakarta menjadi isu yang terus berlangsung dan mengancam kesejahteraan nelayan setempat. Permasalahan ini telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an, tetapi hingga saat ini belum juga terselesaikan dengan tuntas. Nelayan seperti Salim (48) menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah yang dinilai tidak memberikan solusi nyata untuk mengatasi masalah ini.

“Sejak tahun 2001-2002, limbah dari perusahaan atau pabrik mulai membanjiri laut. Pemerintah harus bersikap tegas, jangan hanya bicara tanpa bukti,” ujar Salim saat ditemui di lokasi. Menurutnya, jika limbah tidak dibuang ke laut, nelayan bisa lebih sejahtera dengan hasil tangkapan ikan yang melimpah.

Limbah berwarna-warni
Salim tidak sendirian dalam mengeluhkan kondisi laut. Zaenal (41), nelayan lainnya, menemukan limbah yang berwarna hijau, biru, putih, dan merah teh di sekitar kawasan Cilincing hingga Marunda. Ia menjelaskan bahwa limbah berwarna putih memiliki bau yang sangat menyengat dan mengganggu pernapasan nelayan.

“Limbah ini membuat ikan sulit didapatkan karena mereka menjauh dari area yang tercemar,” tambah Zaenal. Akibatnya, nelayan terpaksa melaut lebih jauh lagi untuk mencari ikan, yang semakin memperberat beban mereka.

Penyebab Pencemaran yang Banyak

Menurut Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, pencemaran di Teluk Jakarta tidak hanya berasal dari pabrik industri. Ada 13 sungai di Jakarta yang bermuara di Teluk Jakarta, dan air dari sungai-sungai tersebut sudah tercemar oleh berbagai jenis limbah, termasuk limbah rumah tangga dan sampah.

“Pencemaran di sungai kemudian terbawa ke Teluk Jakarta, sehingga tidak bisa disebutkan hanya industri yang menjadi penyebab utama,” jelas Mahawan. Meski demikian, pembuangan limbah oleh pabrik tetap menjadi faktor yang memperparah kondisi laut.

Dampak pada Kesehatan dan Ekosistem

Keberadaan limbah di Teluk Jakarta tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga kesehatan manusia. Ikan yang hidup di laut tercemar dapat mengandung zat-zat berbahaya yang berdampak buruk bagi kesehatan, terutama sistem pencernaan. Selain itu, kontak langsung dengan air laut yang tercemar juga berpotensi menyebabkan gangguan kulit pada nelayan.

Mahawan menilai pemerintah belum maksimal dalam menangani masalah ini. Lemahnya pendekatan hukum menjadi salah satu kendala dalam penegakan aturan terkait pembuangan limbah. “Perlu peningkatan penegakan hukum agar pembuangan limbah tidak dilakukan sembarangan,” tegasnya.

Cuaca Buruk dan Tantangan Nelayan

Selain limbah, nelayan juga menghadapi tantangan baru akibat cuaca buruk. Zaenal mengatakan bahwa selama dua minggu terakhir, cuaca buruk membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut. Namun, ia tetap melaut demi menghidupi keluarganya meskipun risiko tinggi.

“Dalam cuaca buruk, pendapatan saya turun drastis. Saat cuaca cerah, saya bisa mendapat Rp 800.000 per hari, tapi sekarang hanya Rp 300.000 – Rp 400.000 per hari,” jelas Zaenal.

Bernis (53), nelayan lainnya, juga mengaku kesulitan karena cuaca buruk. Ia memilih beralih profesi sementara waktu untuk mencari penghasilan lain. “Kami harus pintar-pintar mencari pekerjaan lain agar bisa menghidupi keluarga,” tutur Bernis.

Prediksi BMKG dan Imbauan untuk Nelayan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membenarkan adanya potensi angin kencang dan gelombang tinggi di Perairan Utara Jakarta. Angin kencang ini diprediksi berlangsung hingga satu pekan ke depan dan berpotensi menyebabkan banjir rob di Pesisir Jakarta.

Banjir rob dapat mengganggu aktivitas melaut dan mengurangi hasil tangkapan nelayan. BMKG mengimbau nelayan untuk selalu waspada dan memantau informasi cuaca dari situs resmi atau media sosial @infobmkg.

Selain itu, BMKG juga menyarankan nelayan untuk menjaga komunikasi antar sesama dan koordinasi dengan pihak pelabuhan atau instansi terkait agar aktivitas melaut tetap aman dan terkendali.