Pandangan Rocky Gerung tentang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Rocky Gerung, seorang akademisi sekaligus pengamat politik, kembali menyampaikan pandangannya mengenai situasi politik nasional. Kali ini, ia membahas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang kini dikenal sebagai “Whoosh”. Proyek ini menjadi sorotan karena isu utang yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Rocky Gerung mengaitkan posisi Jokowi saat ini dengan konsep spiritual dalam kebudayaan Jawa, yaitu “kelangan pulung”. Dalam tradisi Jawa, pulung dianggap sebagai tanda ilahiah yang menunjukkan bahwa seseorang akan memperoleh wahyu atau anugerah kekuasaan. Menurut Rocky, Jokowi tampaknya telah kehilangan pulung, yang berarti kehilangan kepekaan terhadap tanda-tanda zaman dan tidak lagi mampu membaca arah perubahan sosial maupun politik.
“Di dalam filsafat Jawa kita sebut ada seseorang yang kehilangan pulung, tidak lagi punya kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman atau tanda-tanda alam. Dan itu yang sedang terjadi pada Pak Jokowi sebagai mantan presiden,” ujar Rocky dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official.
Lebih lanjut, Rocky memprediksi bahwa kehidupan pasca-kepemimpinan Jokowi tidak akan berjalan dengan tenang. Hal ini disebabkan oleh terus bergulirnya berbagai skandal masa lalu yang masih belum tuntas dan terus menjadi sorotan publik. Beberapa kontroversi yang terus mencuat antara lain adalah polemik terkait keabsahan ijazah Jokowi, termasuk ijazah sarjana S1 dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, publik juga masih memperdebatkan proses pencalonan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon Wakil Presiden dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Dengan berbagai persoalan yang terus menyeruak ke permukaan, Rocky menilai bahwa bayang-bayang masa lalu Jokowi akan terus menghantui. Terlebih jika masyarakat dan media terus menggali kembali jejak-jejak kepemimpinannya selama dua periode berturut-turut, yakni dari tahun 2014 hingga 2024.
Polemik Kereta Cepat Whoosh
Kini, dengan adanya polemik kereta cepat Whoosh, Rocky Gerung menilai bahwa Jokowi akan semakin sulit menghindar dari tudingan publik. Apalagi, ada dugaan mark-up dalam pembangunan proyek tersebut. Perpindahan kerjasama dari JICA (bersama Jepang) menjadi bersama China (KCIC) justru dinilai lebih mahal.
Proyek Whoosh sendiri awalnya digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA (Japan International Cooperation Agency). Jepang telah melakukan studi kelayakan hingga menggelontorkan biaya sebesar 3,5 juta dollar AS, dan menawarkan pinjaman bunga rendah 0,1 persen dengan tenor 40 tahun, memakai skema Government-to-Government (G2G) dan biaya estimasi 5 hingga 6,2 miliar dollar AS.
Namun, pada 2015, Jokowi mendadak memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh. Alasannya, China menawarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa jaminan APBN, berbagi teknologi lebih luas, dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS tanpa syarat ketat seperti Jepang, meski bunganya lebih tinggi, yakni 2 hingga 3,4 persen.
Jokowi Dinilai Terlalu Memaksa
Rocky Gerung juga menyebut, dari polemik Whoosh ini, Jokowi terlalu memaksakan proyek tanpa izin pada masyarakat Indonesia. Hal ini dilihat dari urgensi Whoosh yang sebenarnya tidak terlalu mendesak, hingga akhirnya ketika terus berjalan, proyek tersebut justru membawa beban utang yang tidak kecil.
“Sudah bertahun-tahun dibahas, apa pentingnya kereta cepat itu untuk mempercepat pergerakan masyarakat dari Bandung ke Jakarta, atau sebaliknya, dalam skala yang cuma beda setengah jam,” tutur Rocky.
“Bahkan, mereka yang berbisnis merasa lebih mending naik mobil saja. Jadi, ada kalkulasi yang salah, yang menyebabkan kereta itu jadi beban utang, kita mesti bayar utang ke China.”
Bom Waktu Utang Whoosh
Namun, proyek Whoosh saat ini menuai sorotan lantaran utangnya yang mencapai Rp116 triliun menjadi beban berat bagi BUMN Indonesia, terutama PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI. Utang proyek Whoosh dinilai bagai bom waktu, membawa beban yang membuat PT KAI dan konsorsium BUMN yang terlibat kewalahan menanggung kerugian.
Proyek yang resmi beroperasi sejak 2 Oktober 2023 ini mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun, dari biaya awal yang direncanakan 6,07 miliar dollar AS. Sehingga, total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun.
Untuk membiayai investasi 7,2 miliar dollar AS pada proyek ini, 75 persen di antaranya didapat dari pinjaman China Development Bank. Sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT KCIC yang merupakan gabungan dari PSBI (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen).
Whoosh, yang notabene merupakan program yang dibangga-banggakan oleh Jokowi, jelas memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan PT KAI (Persero). Utang untuk pembiayaan proyek Whoosh membuat PSBI mencatat kerugian senilai Rp1,625 triliun pada semester I-2025. Karena menjadi lead konsosrium PSBI, maka PT KAI (Persero) menanggung porsi kerugian paling besar, yakni Rp951,48 miliar per Juni 2025, jika dibanding tiga BUMN anggota konsorsium PSBI lainnya.
