Kritik Tajam CEO Liga Primer Inggris terhadap FIFA
CEO Liga Primer Inggris, Richard Masters, meluncurkan kritik yang jarang terjadi terhadap FIFA. Ia menuduh badan pengatur sepakbola dunia tersebut secara sepihak terus meningkatkan jumlah pertandingan dan kompetisi, tanpa memperhatikan dampak buruknya terhadap liga domestik dan kesejahteraan para pemain.
Dalam sebuah konferensi bisnis olahraga di London, Masters menggambarkan situasi ini sebagai “perjuangan” antara liga-liga domestik melawan FIFA. Menurutnya, mereka sedang bersaing untuk dua “bahan baku” paling penting dalam sepakbola: waktu para pemain dan ruang di kalender pertandingan.
Kekhawatiran utama Masters adalah bahwa penambahan kompetisi oleh FIFA dan UEFA akan memaksa klub-klub untuk tidak lagi memprioritaskan Liga Primer. Ia khawatir para manajer akan mulai mengistirahatkan pemain-pemain kunci mereka di pertandingan liga akhir pekan, yang pada akhirnya akan merusak integritas dan kualitas kompetisi.
Perang kata-kata ini bukanlah hal baru dan kini telah memasuki babak yang lebih serius. Masters, yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Liga Dunia, telah menjadi bagian dari pengajuan keluhan hukum resmi terhadap FIFA ke Komisi Eropa. Komentar terbarunya ini menandai eskalasi dalam pertempuran memperebutkan masa depan kalender sepakbola global.
Perang Kata-Kata antara Liga Primer dan FIFA
Masters secara terbuka menyatakan “perang” terhadap FIFA terkait kalender sepakbola global yang semakin padat. Ia menuduh FIFA terus-menerus menambah jumlah pertandingan dan menciptakan kompetisi-kompetisi baru tanpa memedulikan dampaknya terhadap ekosistem sepakbola secara keseluruhan.
Ia menggambarkan situasi ini sebagai “perjuangan untuk memperebutkan ‘bahan baku’ sepakbola,” yaitu waktu para pemain yang terbatas dan ruang di dalam kalender yang sudah penuh sesak. Menurutnya, sudah tidak ada lagi ruang kosong yang tersisa untuk mengakomodasi ambisi ekspansi FIFA.
Sosok 59 tahun itu sangat khawatir bahwa penambahan jadwal dari FIFA ini akan mengancam prioritas utama klub-klubs Inggris. Masters ingin para pemilik dan manajer klub bangun setiap pagi dengan satu fokus utama: meraih kesuksesan di Liga Primer, bukan malah berpikir untuk mengistirahatkan pemain di akhir pekan karena jadwal yang terlalu padat.
Kekhawatiran ini bukan sekadar wacana. Pertarungan ini bahkan telah sampai ke ranah hukum. Asosiasi Liga Dunia, yang juga dipimpin oleh Masters, bersama serikat pemain FIFPro, telah secara resmi mengajukan keluhan terhadap FIFA ke Komisi Eropa atas tuduhan penyalahgunaan posisi dominan di pasar.
Kesejahteraan Pemain & Jadwal yang ‘Mencekik’
Isu utama yang menjadi jantung dari kritik yang dilontarkan oleh Masters adalah soal kesejahteraan pemain. Ia sependapat dengan serikat pemain FIFPro, yang baru-baru ini merilis laporan tahunan yang menyimpulkan bahwa para pemain top dunia bermain terlalu banyak pertandingan dengan waktu istirahat yang tidak memadai.
Striker Nottingham Forest Chris Wood, dalam laporan FIFPro tersebut menyatakan bahwa seorang pemain membutuhkan waktu libur minimal empat pekan di antara musim, dan idealnya seharusnya mendekati enam pekan. Kenyataannya, dengan jadwal yang semakin padat, banyak pemain yang tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk pemulihan.
Masters menegaskan bahwa kalender sepakbola saat ini sudah “tidak memiliki ruang lagi.” Penambahan turnamen-turnamen baru oleh FIFA, seperti Piala Dunia Antarklub format baru, dianggap hanya akan semakin “mencekik” para pemain dan meningkatkan risiko cedera secara signifikan.
Di sisi lain, presiden FIFA Gianni Infantino menanggapi kritik ini dengan normatif. Ia menyatakan bahwa FIFA akan terus “mengundang semua pemangku kepentingan” untuk berdialog demi “melindungi para pemain” dan menemukan keseimbangan yang tepat antara kepentingan klub dan tim nasional.
Efek Kupu-Kupu & Sikap FIFA yang Dianggap Arogan
Masters secara tajam menuduh FIFA mengambil keputusan-keputusan penting secara sepihak tanpa pernah melibatkan liga-liga domestik dalam prosesnya. Ia menyebut dampak dari keputusan sepihak ini sebagai “efek kupu-kupu,” di mana sebuah keputusan yang dibuat di satu ruangan oleh segelintir orang dapat menimbulkan dampak besar yang tidak diinginkan di tempat lain.
Ia memberikan contoh nyata dari dampak tersebut. Akibat ekspansi kompetisi FIFA, Liga Primer kini terpaksa harus memulai musim lebih lambat dari biasanya, menghapus tradisi jeda musim dingin, dan bahkan meminta FA untuk meniadakan sistem pertandingan ulangan (replays) di ajang Piala FA. “Itu bukan karena pilihan kami,” tegasnya.
Masters secara spesifik juga membedakan sikap FIFA yang dianggapnya arogan dengan sikap UEFA. Menurutnya, UEFA (badan sepakbola Eropa) masih mau mendengarkan dan berkonsultasi dengan liga-liga domestik. “Anda bisa merasakan dampak dari suara kami pada hasil akhir (dengan UEFA)… Itu sama sekali tidak terjadi dengan FIFA,” keluhnya.
Oleh karena itu, ia menuntut agar liga-liga domestik diberikan “kursi di meja perundingan” setiap kali keputusan-keputusan krusial mengenai masa depan kalender sepak bola global dibuat. Ia merasa bahwa selama ini FIFA telah secara sengaja “mengunci” mereka dari percakapan tersebut.
Saling Lempar Tanggung Jawab yang Kompleks
Tentu saja, FIFA tidak tinggal diam dalam menghadapi semua kritik ini. Dalam berbagai kesempatan, mereka secara konsisten membantah bahwa mereka adalah satu-satunya pihak yang harus disalahkan atas semakin padatnya jadwal pertandingan yang dihadapi oleh para pemain.
FIFA seringkali menunjuk kembali ke arah badan-badan kontinental seperti UEFA, yang juga secara signifikan telah memperluas format dan jumlah pertandingan di kompetisi klub mereka, seperti Liga Champions. Selain itu, FIFA juga menyoroti peran dari klub-klub Liga Primer itu sendiri.
Klub-klub top Eropa, termasuk dari Inggris, dituding turut menambah beban para pemain mereka dengan menggelar tur-tur pramusim yang sangat menguntungkan secara finansial ke berbagai belahan dunia, seperti Asia dan Amerika Utara. Masters sendiri dalam konferensi tersebut sempat mengakui dengan bangga kesuksesan dari turnamen pramusim yang diselenggarakan oleh Liga Primer.
Hal ini menunjukkan adanya sebuah lingkaran setan dan saling lempar tanggung jawab yang sangat kompleks. Sementara liga domestik menyalahkan FIFA atas ekspansi turnamen internasional, FIFA juga melihat bahwa liga dan klub memiliki andil yang sama besarnya dalam menciptakan jadwal yang padat demi mengejar keuntungan komersial.
Isu Domestik: Perubahan Aturan Finansial Liga Primer
Selain harus bertarung dengan FIFA di tingkat global, Masters juga sedang menghadapi tantangan yang tidak kalah pelik di ranah domestik. Saat ini, ia sedang berjuang keras untuk mengubah sistem aturan finansial Liga Primer agar lebih sejalan dengan regulasi Eropa.
Proposal yang ia ajukan adalah untuk menggantikan sistem Profitability and Sustainability Regulations (PSR) yang ada saat ini dengan model “biaya skuad” (squad cost) yang mirip dengan yang diterapkan oleh UEFA. Perubahan ini bertujuan untuk menciptakan stabilitas finansial jangka panjang bagi klub-klub.
Aturan baru yang diusulkan adalah klub hanya diizinkan untuk membelanjakan maksimal 85 persen dari total pendapatan mereka untuk tiga komponen utama: gaji skuad tim utama, biaya transfer yang telah diamortisasi, dan biaya agen.
Namun, proposal ini ternyata masih belum mendapatkan persetujuan penuh dari semua klub anggota. Proses pemungutan suara mengenai aturan baru ini bahkan harus ditunda hingga bulan November mendatang karena masih banyak klub yang tidak setuju dengan detail perubahannya, menunjukkan betapa rumitnya mencapai konsensus di antara 20 klub Liga Primer.


