Momen Jokowi di Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM
Pada hari Jumat (17/10/2025), Presiden Joko Widodo hadir dalam acara Dies Natalis Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah saat ia menyampaikan pujian terhadap Kereta Cepat Whoosh, yang menjadi kebanggaannya karena memiliki kecepatan hingga 350 kilometer per jam dan menjadi kereta cepat pertama di Indonesia serta Asia Tenggara.
Namun, proyek ini kini tengah menjadi sorotan publik akibat utangnya yang mencapai Rp116 triliun. Di tengah isu tersebut, Jokowi memilih untuk tidak memberikan komentar apa pun ketika dicecar pertanyaan oleh awak media usai acara. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Penyelesaian Utang Proyek Whoosh
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCIC) atau Whoosh tidak akan menggunakan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyatakan bahwa kewajiban pembayaran utang akan diselesaikan melalui Danantara.
“Bukan enggak dibayar, tapi (lewat) Danantara, bukan APBN. Arahan saya maunya ke sana,” ujar Purbaya. Menurutnya, Danantara memiliki kapasitas keuangan yang cukup untuk menanggung kewajiban tersebut, karena lembaga ini menerima dividen dari entitas BUMN.
Skema Penyelesaian Utang
Proyek Whoosh, yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016, dikerjakan bersama perusahaan China melalui kerja sama konsorsium. Pengelola proyek Whoosh adalah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang merupakan perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia (PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia/PSBI) dengan 60 persen saham dan konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen saham).
Proyek ini resmi dioperasikan pada 2 Oktober 2023, namun mengalami pembengkakan biaya sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun, sehingga total investasi mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun. Dari total investasi ini, 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank.
Beban Finansial BUMN
Whoosh jelas memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI. Utang proyek ini dinilai sebagai bom waktu yang membuat PT KAI dan konsorsium BUMN yang terlibat kewalahan menanggung kerugian.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin bahkan menyebut besar utang proyek Whoosh ini bagai bom waktu, sehingga pihaknya akan melakukan koordinasi dengan BPI Danantara untuk menanganinya. “Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI.
Tanggapan dari Pengamat
Analis kebijakan publik, Agus Pambagio, mengungkap bahwa Presiden Jokowi pernah mengumbar janji bahwa proyek Whoosh tidak akan rugi. Namun, ia sudah menyatakan penolakan terhadap proyek tersebut karena dianggap tidak layak diteruskan.
Agus juga mengungkap ekspresi Jokowi saat diberitahu bahwa proyek kereta cepat ini tidak feasible. Saat itu, Jokowi hanya tersenyum dan tetap yakin bahwa proyek tersebut tidak akan merugi. “Tipikal Pak Jokowi, senyum gitu. Nggak ada yang aneh-aneh, ‘bisa kok ini’, gitu. Pokoknya, jalan,” ujarnya.
Solusi yang Diperlukan
Agus menilai bahwa utang Whoosh tidak akan bisa terlunasi jika tidak ada solusi yang tepat. Ia menyarankan agar Menteri Purbaya rapat bersama Komisi XI DPR RI dan Danantara untuk mencari solusi terkait proyek Whoosh. Dengan beban utang mencapai Rp 120 triliun dengan bunga kurang lebih Rp 2 triliun per tahun, proyek ini sangat memberatkan keuangan negara.
