Renungan Harian Katolik: Undangan Tuhan yang Tak Pernah Berhenti
Undangan Tuhan selalu hadir dalam kehidupan setiap orang. Allah mengundang semua orang untuk mengalami kasih-Nya, tetapi sering kali kita menolak karena kesibukan atau alasan duniawi. Tuhan mencari mereka yang bersedia datang, bahkan jika mereka dianggap kecil atau tersisih. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang siap menerima undangan-Nya dengan jawaban “Ya, Tuhan, aku datang.”
Bacaan Liturgi Hari Ini
Bacaan pertama dari Rm. 12:5-16a mengingatkan kita bahwa meskipun kita banyak, kita adalah satu tubuh di dalam Kristus. Setiap orang memiliki karunia yang berbeda sesuai dengan kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Kita diminta untuk menggunakan karunia itu dengan tulus dan penuh iman. Kasih harus jujur, tidak pura-pura, dan kita harus saling mengasihi serta mendahului dalam memberi hormat.
Mazmur Tanggapan dari Mzm. 131:1,2,3 menyampaikan pesan tentang rendah hati dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Seperti anak yang disapih, kita harus tenang dan percaya bahwa Tuhan akan menjaga kita.
Bait Pengantar Injil dari Mat 11:28 mengajak kita untuk datang kepada Yesus yang penuh belas kasihan dan memberi kelegaan. Bacaan Injil dari Lukas 14:15-24 menceritakan kisah perjamuan besar yang diadakan oleh seorang tuan rumah. Para tamu menolak datang dengan alasan-alasan duniawi, sehingga tuan rumah memanggil orang-orang miskin, cacat, buta, dan lumpuh.
Renungan Harian Katolik
Dalam renungan harian ini, kita diajak untuk merenungkan undangan Tuhan yang tak pernah berhenti. Banyak yang diundang, namun sedikit yang datang. Undangan ini adalah simbol panggilan Allah kepada umat-Nya menuju hidup baru dalam kasih dan keselamatan. Namun, sering kali manusia terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akan undangan surgawi itu.
Kesibukan bisa menjadi penghalang untuk mengalami hadirat Tuhan. Bahaya terbesar bukanlah dosa besar, melainkan hati yang terlalu penuh oleh hal-hal duniawi hingga tak lagi punya ruang untuk Allah. Banyak dari kita berkata, “Nanti saja berdoa,” atau “Aku belum sempat ke Misa.” Tanpa sadar, kita menolak undangan Tuhan dengan pilihan hidup yang kita ambil.
Tuhan tidak pernah kehilangan tamu. Ketika orang-orang yang pertama menolak, tuan rumah memanggil orang-orang miskin dan tersisih. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah tidak berhenti hanya karena manusia menolak. Kerajaan Allah bukan untuk yang sempurna, tapi untuk yang mau datang.
Injil ini bukan hanya kisah masa lalu. Setiap hari, Tuhan masih mengundang kita melalui sabda-Nya, sesama yang membutuhkan, dan perayaan Ekaristi. Pertanyaannya adalah apakah kita datang atau menolak dengan alasan-alasan kecil. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, hanya kesiapan hati.
Kadang penolakan terhadap Tuhan disamarkan dengan alasan yang tampak baik. Kita merasa sudah cukup berdoa, padahal hati kita sudah tidak terbuka. Yesus menegur sikap rohani yang hanya formalitas tanpa keintiman. Undangan Tuhan bukan sekadar ke gereja, tetapi masuk ke dalam relasi pribadi dengan Dia.
Perjamuan dalam Injil selalu menjadi simbol sukacita surgawi. Tuhan ingin kita mengalami kebahagiaan sejati dari duduk bersama-Nya di meja kasih. Setiap Misa adalah cicipan dari perjamuan itu. Setiap kali kita menerima Komuni Kudus, kita sedang menjawab undangan Sang Raja.
Mari bertanya pada diri sendiri: Apakah kita masih sibuk hingga lupa menghadiri undangan Tuhan? Siapa “orang miskin” yang Tuhan kirim untuk mengingatkanku tentang kasih-Nya? Sudahkah kita menanggapi undangan Tuhan dengan hati yang siap?
Tuhan tak pernah berhenti mengundang. Yang Ia tunggu hanyalah jawaban: “Ya, Tuhan, aku datang.” Dengan doa ini, kita memohon agar hati kita lunak dan siap datang ke hadapan-Nya, menikmati kasih-Nya yang tak berkesudahan.
Yesus tidak sekadar bercerita tentang perjamuan; Ia sedang mengundangmu secara pribadi hari ini. Apakah engkau akan datang? Ingatlah, setiap “ya” kecil yang kau ucapkan kepada Tuhan adalah langkah menuju sukacita kekal di Kerajaan Surga.


