Rekam Jejak Astutik, Buronan Narkoba Rp5 Triliun yang Ditangkap BNN di Kamboja

Posted on

Rekam Jejak Dewi Astutik, Gembong Narkoba Internasional yang Ditangkap

Dewi Astutik, seorang gembong narkoba kelas kakap, akhirnya berhasil ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kamboja. Ia dikenal sebagai otak dari penyelundupan dua ton sabu senilai Rp5 triliun. Penangkapan ini menjadi langkah penting dalam upaya pemberantasan peredaran narkoba internasional.

Peran dan Keterlibatan Dewi Astutik

Dewi Astutik tidak hanya menjadi bos dari jaringan narkoba Golden Triangle, tetapi juga terlibat dalam berbagai kasus besar lainnya. Ia diketahui mengendalikan ratusan kurir narkoba yang kebanyakan merupakan warga negara Indonesia (WNI). Sampai saat ini, lebih dari 110 WNI yang “asuhan” Dewi telah ditangkap di berbagai negara seperti Brasil, Korea Selatan, dan Kamboja.

Menurut Komjen Marthinus Hukom, Kepala BNN, Dewi Astutik memiliki peran penting dalam proses rekrutmen kurir-kurir narkoba. Ia diduga terhubung dengan sindikat Afrika yang beroperasi di Thailand dan semenanjung Malaysia. Meskipun bukan pimpinan tertinggi, Dewi Astutik termasuk dalam jajaran pimpinan di Golden Triangle.

Identitas Asli dan Keberangkatan ke Kamboja

Dewi Astutik berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Berdasarkan KTP-nya, ia berdomisili di Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Namun, identitas aslinya tidak dikenal di wilayah tersebut. Menurut warga setempat, nama Dewi Astutik tidak ada di dusun tersebut, meskipun alamat yang beredar memang warga sini.

Menurut Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo, Dewi Astutik sejak lama menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Ia pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir berangkat ke Kamboja. Diduga, nama PA ini mengganti namanya menjadi Dewi Astutik.

Operasi Penangkapan

Penangkapan Dewi Astutik dilakukan melalui kerja sama antara BNN, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Ia diringkus di Sihanoukville, Kamboja, saat hendak menuju lobi sebuah hotel.

Operasi ini dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan. Penangkapan ini menandai berakhirnya pelarian Dewi yang buron selama satu tahun.

Pengaruh dan Struktur Jaringan

Jaringan narkotika yang dikendalikan Dewi Astutik sangat aktif dalam mendistribusikan berbagai jenis narkotika ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Selain sabu, sindikat ini juga mengedarkan kokain hingga ketamin menggunakan jalur darat dan laut.

BNN menegaskan bahwa penangkapan ini bukan akhir dari operasi. Penindakan akan dilanjutkan untuk membongkar seluruh struktur jaringan yang selama ini beroperasi secara terorganisasi. Penangkapan ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk membersihkan jaringan besar yang bekerja secara masif.

Rekrutmen Kurir ke Luar Negeri

Pada awal Mei 2025, BNN berhasil menggagalkan penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau. Dewi Astutik tidak hanya menjadi master mind di kasus ini, tetapi juga di kasus-kasus besar lainnya.

Dengan identitas palsunya, PA telah merekrut 110 orang Indonesia untuk menjadi kurir narkoba di luar negeri. Seperti, akhir tahun 2024, saat ada 2 orang terbang dari Kamboja, masuk ke Medan dengan menggunakan pesawat membawa narkoba, mereka juga hasil rekrutmen Dewi Astutik.

Langkah Selanjutnya

Usai ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas. Setibanya di Indonesia, Dewi akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat.

BNN telah mengajukan Red Notice ke kepolisian internasional untuk Dewi Astutik. Saat ini, BNN bekerja sama dengan Badan Intelijen Nasional (BIN) untuk mengejar keberadaan Dewi. Penangkapan ini menjadi langkah penting dalam upaya pemberantasan peredaran narkoba internasional.