Refleksi Magang Observasi di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta
Oleh Holisatun, PBA UMY Angkatan 2023
Magang Observasi adalah tahap awal kegiatan magang di bidang pendidikan, di mana mahasiswa melakukan pengamatan langsung di sekolah atau tempat praktik untuk memahami peran guru, proses pembelajaran, serta lingkungan pendidikan sebelum terjun mengajar. Tempat magang saya kali ini di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta yang menjadi pengalaman berharga dengan membuka mata tentang bagaimana pendidikan bahasa Arab bisa dikemas secara modern, inspiratif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Selama satu minggu, saya tidak hanya mengobservasi pembelajaran Bahasa Arab, tetapi juga ikut terlibat dalam administrasi perpustakaan dan menjadi panitia kegiatan Jalan Sehat untuk memperingati Hari Guru. Dari penerjunan yang penuh keramahan hingga pengalaman unik di luar kelas, magang ini memberi saya banyak pelajaran yang tidak pernah saya temukan di bangku kuliah.
Saat pertama kali diterjunkan, kami disambut dengan ramah oleh guru dan staf sekolah. Suasana nyaman ini membuat saya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar Al Azhar. Sambutan hangat bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari pendidikan karakter bagaimana sekolah menanamkan nilai hospitality dan ukhuwah kepada setiap tamu maupun peserta didik.
Mata pelajaran yang saya amati adalah Arabik Qur’ani yang juga bagian dari bahasa arab, sebuah program yang mengintegrasikan bahasa Arab dengan pemahaman Al-Qur’an. Hal ini menarik karena pembelajaran tidak hanya fokus pada aspek linguistik, tetapi juga pada nilai spiritual.
Metode yang digunakan adalah Tamyiz, sebuah pendekatan yang menekankan pada pemahaman struktur bahasa Arab secara praktis dan aplikatif. Dengan metode ini, siswa diajak untuk memahami pola kalimat, kosakata, dan makna ayat Al-Qur’an secara lebih sistematis.
Namun, karena bertepatan dengan minggu menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), materi inti sudah selesai. Yang tersisa hanyalah sesi review untuk persiapan ujian. Meski kesempatan saya untuk melihat pembelajaran penuh terbatas, saya tetap bisa menangkap esensi metode Tamyiz dan bagaimana media seperti buku khusus serta smartboard digunakan untuk mendukung proses belajar.
Saya juga melihat tantangan nyata hampir semua siswa membawa HP dan laptop. Tidak jarang mereka lebih fokus pada media sosial atau aktivitas pribadi dibandingkan pelajaran. Hal ini menunjukkan dilema pendidikan modern teknologi bisa menjadi alat bantu belajar, tetapi juga sumber distraksi.
Menurut saya, perlu ada aturan yang jelas ketika pembelajaran berlangsung, HP dan laptop sebaiknya disimpan terlebih dahulu. Namun di sisi lain, saya juga melihat peluang mengapa tidak sekalian memanfaatkan perangkat itu sebagai media pembelajaran?
Kesempatan itu datang ketika kami diminta menggantikan pelajaran Bahasa Arab karena Ustadz Yasin berhalangan hadir. Kami mencoba menjelaskan materi dasar tentang fi’il dan isim. Agar lebih menarik, kami menyajikan media berupa permainan interaktif menggunakan Kahoot dan Quiziz. Hasilnya sungguh mengejutkan: siswa yang sebelumnya tampak sibuk dengan HP masing-masing justru menjadi sangat antusias. Mereka bersemangat menjawab pertanyaan, bersaing dengan teman-teman, dan belajar sambil bermain. Dari sini saya belajar bahwa teknologi tidak harus menjadi musuh pendidikan. Jika digunakan dengan tepat, ia bisa menjadi jembatan untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
Selain observasi kelas, saya juga mendapat kesempatan membantu di administrasi perpustakaan. Ternyata, banyak sekali buku baru yang harus diolah. Kami diberi akun web lengkap dengan ID dan password untuk masuk ke sistem perpustakaan.
Prosesnya cukup detail setiap buku harus diinput satu per satu bibliografinya, mulai dari judul, nama penulis, tahun terbit, penerbit, edisi, klasifikasi, ISBN, hingga jumlah eksemplar. Awalnya terasa membosankan, tetapi lama-lama saya mulai terbiasa. Justru ada rasa seru tersendiri ketika berhasil menyelesaikan satu buku demi satu buku.
Untungnya, ruang perpustakaan di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta sangat nyaman. Kursi dengan bentuk seperti tangga menambah estetik di rungan itu, suasana tenang, dan udara sejuk membuat pekerjaan administratif itu terasa lebih ringan. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kadang hal yang awalnya membosankan bisa berubah menyenangkan ketika kita sudah terbiasa dan menemukan ritmenya.
Pengalaman lain yang tak kalah berkesan adalah ketika kami menjadi panitia Jalan Sehat dalam memperingati Hari Guru. Semua siswa diliburkan, sehingga acara benar-benar fokus untuk guru dan staf sekolah.
Pagi itu dimulai dengan pemanasan di lapangan basket, lalu jalan sehat berputar melewati gang gang kecil yang mengelilingi Al Azhar. Setelah itu, suasana semakin meriah dengan lomba voli. Tapi bukan voli biasa, bola yang digunakan adalah bola besar yang biasanya dipakai untuk olahraga duduk ibu hamil (Birthding ball). Bayangkan, bapak dan ibu guru berlarian dengan semangat anak muda, bahkan sebagian guru yang masih gen Z semakin menambah keriuhan. Sorak-sorak terdengar riuh, tawa pecah di mana-mana, dan energi positif memenuhi lapangan.
Acara ditutup dengan pembagian hadiah dan doorprize. Kami sebagai panitia menyiapkan voucher yang dibagikan secara acak di sela-sela acara. Dan yang paling menyenangkan, setelah semua kegiatan selesai sekitar pukul 9 pagi, kami sarapan bersama. Soto hangat, gorengan renyah, dan sate ati menjadi menu sederhana yang terasa istimewa karena dinikmati bersama dalam suasana penuh kebersamaan.
Dari seluruh rangkaian magang, saya menyimpulkan beberapa pelajaran penting:
Integrasi ilmu dan iman: Pembelajaran bahasa Arab tidak hanya soal bahasa, tetapi juga sarana memahami Al-Qur’an.Metode inovatif: Metode Tamyiz membantu siswa memahami bahasa Arab dengan cara yang lebih praktis.Pemanfaatan teknologi: Smartboard, Kahoot, dan Quiziz membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif.Manajemen informasi: Administrasi perpustakaan mengajarkan pentingnya pengelolaan sumber ilmu.Kebersamaan: Kegiatan Jalan Sehat dalam memperingati Hari Guru menunjukkan bahwa pendidikan juga tentang membangun komunitas yang sehat dan bahagia.
Magang di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta memberi saya pengalaman yang tidak ternilai. Saya belajar bahwa pendidikan bahasa Arab bisa dikemas dengan cara yang modern, integratif, dan menyenangkan. Metode Tamyiz, media buku khusus, smartboard, serta inovasi menggunakan Kahoot dan Quiziz adalah contoh nyata bagaimana teknologi bisa menjadi sahabat pendidikan.
Lebih dari itu, saya merasakan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga soal membangun suasana, karakter, dan nilai. Sambutan ramah di hari pertama, pengalaman di perpustakaan, serta keterlibatan dalam kegiatan Hari Guru menjadi inspirasi bagi saya untuk terus belajar dan berkontribusi di dunia pendidikan.
Ketika tulisan ini saya bagikan di PasarModern.com, harapan saya sederhana semoga pengalaman magang ini bisa memberi wawasan bagi pembaca tentang pentingnya inovasi dalam pendidikan bahasa Arab, sekaligus menginspirasi mahasiswa lain untuk melihat magang bukan sekadar kewajiban, tetapi sebagai kesempatan belajar yang sesungguhnya.


