Perasaan yang Disimpan, Bukan Dibagikan
Rika dikenal sebagai pribadi yang tenang dan matang. Ia tidak mudah dekat dengan orang baru, lebih nyaman menjalin pertemanan panjang dan stabil. Prinsipnya sederhana: menyukai seseorang tidak berarti harus diumbar. Dalam kehidupannya, ia memilih untuk diam ketika perasaan muncul, bukan karena takut ditolak, melainkan karena ia ingin menghindari perubahan yang tidak perlu.
Pengalaman Masa Sekolah dan Kuliah
Pandangan Rika tentang perasaan tidak muncul begitu saja. Pengalaman masa sekolah dan kuliah menunjukkan kepadanya bahwa confess bisa memicu gosip, dan gosip sering bertahan lebih lama daripada sebuah perasaan. “Saya melihat beberapa teman jadi canggung satu sama lain hanya karena seseorang membuka perasaan,” ujarnya. “Hubungan yang tadinya aman berubah.”
Sejak saat itu, ia membangun prinsip yang ia pegang hingga kini: perasaan bukan prestasi yang harus dipamerkan. Di tengah komunitas yang beragam, Rika tetap pada jalurnya. Nama dan kehadirannya selalu ada, tetapi dirinya tidak pernah menjadi pusat rumor. Ia hadir, tetapi tidak menciptakan gelombang. Ia dekat, tapi tidak menyentuh garis yang bisa membuat situasi berubah.
Sebagai Guru SD
Sebagai guru SD, Rika kini menyaksikan fenomena confess terjadi lagi, kali ini pada generasi yang jauh lebih cepat, lebih digital, dan lebih berani. Siswa-siswinya sering bercanda soal siapa menyukai siapa, atau siapa ‘ditembak’ lewat pesan singkat. Ia menghela napas pendek ketika menceritakan itu. “Anak-anak sekarang tumbuh di media sosial. Segalanya ingin dibagikan. Mereka cepat senang, cepat kecewa, cepat pindah.”
Ia tetap berusaha membimbing tanpa menghakimi. Tugasnya bukan melarang, tapi memberi pemahaman. Dalam kelas Bahasa Inggris, ia sering menyisipkan nilai tentang menghargai diri sendiri dan orang lain, bukan dalam bentuk ceramah, tetapi lewat contoh sederhana: cara berbicara, cara bercanda, atau cara menjaga batasan.
Media Sosial dan Pengaruhnya
Media sosial menjadi tempat perasaan bergerak bebas. Video motivasi, template confessions, hingga konten yang mendorong seseorang untuk “coba kirim pesan duluan”. Narasinya mengalir ringan: jika menyukai seseorang, sampaikan saja. Namun bagi sebagian orang, cara dunia bergerak tidak selalu selaras dengan irama batin mereka. Rika adalah salah satunya. Ia tidak menolak tren itu, tetapi memilih berada di pinggir arus, menyaksikan dari kejauhan tanpa merasa harus ikut larut.
“Saya bukan tipe yang mudah tertarik,” ujarnya. “Dan kalau pun saya menyukai seseorang, saya tidak merasa harus langsung memberitahukannya.” Bagi Rika, perasaan bukan sesuatu yang harus dipertontonkan. Ia tumbuh sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dalam keluarga yang menekankan sopan santun serta adab pergaulan. Lingkungan itu—ditambah pengalaman masa sekolah dan kuliah—membentuk pandangannya tentang bagaimana sebuah rasa sebaiknya diperlakukan.
Alasan Menghindari Pengakuan Perasaan
Ada alasan lain mengapa Rika tidak tertarik confess: ia ingin menjaga privasi. Pengalaman masa sekolah dan kuliah membuatnya paham bahwa pengakuan perasaan bisa berubah menjadi bahan gosip atau canda yang terus diulang. “Kadang sesuatu yang harusnya pribadi malah menjadi cerita panjang,” ujarnya. “Saya tidak ingin itu.”
Baginya, ada kebanggaan tersendiri ketika tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang pernah ia sukai. Tidak ada rekam jejak digital. Tidak ada chat lama yang bisa disalahartikan. Tidak ada cerita yang bisa berubah menjadi bahan obrolan yang tidak nyaman. “Itu semacam kemenangan kecil,” katanya sambil tertawa tipis.
Ketika Confess Culture Menjadi Tekanan
Rika mengamati fenomena confess culture juga dari sudut pandang pekerjaannya sebagai guru. Ia melihat bagaimana anak-anak dan remaja mulai terpengaruh oleh narasi bahwa keberanian diukur dari pengakuan. Bahwa diam berarti takut. Bahwa confess adalah satu-satunya cara memulai hubungan.
“Anak-anak sekarang lebih cepat terbawa,” katanya. “Ada yang confess hanya karena ikut-ikutan konten. Padahal belum tentu itu benar-benar mereka inginkan.” Perubahan itu, menurutnya, perlu dipahami. Remaja bergerak dalam sistem sosial yang lebih terbuka. Semua orang punya panggung. Semua orang bisa melihat reaksi terhadap sebuah pengakuan. Suka atau tidak, hal ini menciptakan tekanan yang tidak selalu sehat.
“Padahal setiap orang punya ritme emosinya masing-masing,” ujarnya. Bagi Rika, diam bukan berarti menekan perasaan. Diam adalah cara menjaga apa yang ia rasa agar tetap utuh, tidak tercemar oleh komentar, tidak berubah menjadi konsumsi publik, dan tidak berkembang lebih cepat dari kesiapan dirinya.
Diam adalah bentuk perhatian terhadap diri sendiri—cara merawat kenyamanan dan integritas. “Tidak semua yang kita rasakan harus dibagi,” katanya. “Ada yang justru lebih sehat ketika dibiarkan tumbuh dalam senyap.”
Kesimpulan
Fenomena confess culture mungkin terus berkembang. Sebagian orang merasa terbantu, sebagian lain merasa terbebani. Dalam refleksinya, Rika melihat bahwa tidak ada satu cara yang cocok untuk semua orang. Confess bukan kewajiban. Diam bukan kesalahan. Yang penting adalah memahami diri sendiri, menghargai ritme pribadi, dan memberi ruang bagi kenyamanan.
“Setiap orang punya caranya sendiri dalam merawat perasaan,” ujarnya. “Dan itu sah-sah saja selama tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain.” Pada akhirnya, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan terbuka, memilih untuk diam bisa menjadi tindakan kesadaran. Sebuah cara untuk tetap utuh, tetap tenang, dan tetap setia pada perasaan yang ingin dijaga.
