Prof Dr Rita Khathir STP MSc, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian USK
Enggel mon sao curito
(Dengarlah sebuah cerita)
Inang maso semonan
(Pada zaman dahulu)
Manoknop sao fano
(Tenggelam satu desa)
Uwi lah da sesewan
(Begitulah diceritakan)
Unen ne alek linon
(Diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali
(Disusul ombak yang sangat besar)
Manoknop sao hampong
(Tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo mawi
(Dengan sangat cepat)
Anga linon ne mali
(Jika gempanya sangat kuat)
Uwek suruik sahuli
(Disusul air laut yang surut)
Maheya mihawali
(Segeralah pergi)
Fano me singa tenggi
(Ke tempat yang lebih tinggi)
Ede smong kahanne
(Itulah Smong namanya)
Turiang da nenekta
(Sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere
(Ingatlah betul-betul)
Pesan dan navi da
(Pesan dan nasihat ini)
SEBUAH kearifan lokal yang masih dilestarikan di Pulau Simeulue, yaitu Nandong Smong, yang ternyata mengajarkan tentang tsunami dan cara mitigasi menyelamatkan diri sebelum kedatangannya. Nandong Smong ini merupakan nyanyian yang diceritakan sebagai buaian tidur bagi bayi-bayi di Pulau Simeulue, Aceh. Tsunami atau smong atau ie beuna, adalah bencana air bah yang menjadi pengetahuan masyarakat Aceh dan Indonesia setelah mega tsunami menghantam Kota Banda Aceh pada akhir Desember 2004.Syair smong di atas ditulis dalam bahasa Devayan, menjelaskan dengan rinci kriteria tsunami yang diawali dengan gempa yang kuat, surutnya air laut, dan datangnya ombak yang besar. Sebagai mitigasi penyelamatan diri, nenek moyang kita mengajarkan untuk segera melakukan evakuasi diri dan keluarga ke tempat yang lebih tinggi dan menjauhi laut. Sejarah mencatat tsunami di Pulau Simeulue diperkirakan terjadi tahun 1907, dan kemudian terjadi kembali setelah 97 tahun (tepatnya tahun 2004). Teori menyatakan bahwa tsunami dapat terjadi dalam siklus seratus tahun sekali.
Dampak nyata keberhasilan mitigasi melalui syair Smong adalah rendahnya korban jiwa akibat tsunami 2004 di Pulau Simeulue (diperkirakan 10 jiwa meninggal dunia). Namun kerusakan dan kerugian harta benda tentunya tidak dapat dihindari kecuali kita menerapkan tidak adanya Pembangunan pusat kegiatan masyarakat dan perumahan di wilayah penyangga tsunami (buffer zone area). Dalam Sejarah Nabi Nuh as, diceritakan bahwa sang Nabi membuat kapal besar yang mengundang cemoohan masyarakatnya, bahkan ada yang mengotorinya. Sejatinya Allah swt telah membuktikan kemahakuasaan-Nya untuk mendatangkan bencana air bah di muka bumi dan menenggelamkan semuanya, hatta gunung sekalipun.
Sebagai manusia kita cepat sekali lupa. Untuk itulah haba peu ingat atau nasehat-nasehat harus dijadikan budaya. Pembangunan pasca tsunami 2004 tidak mengindahkan konsep-konsep mitigasi bencana yang tepat, terutama sekali pemanfaatan buffer zone untuk wilayah pemukiman penduduk. Di sisi lain kehidupan kita juga seperti menjauh dari Tuhan, terlihat nyata dari berbagai bentuk dekadensi moral yang terjadi. Angka korupsi yang tinggi, suburnya mafia dan lintah darat di tengah masyarakat, penyalahgunaan narkoba, dan bahkan kejahatan seksual.
Padahal kita berada di provinsi yang kononnya menerapkan syariat Islam. Kasus lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan HIV meningkat. Mirisnya lagi pelaku LGBT ditemukan di kalangan mahasiswa dan kasus HIV juga menyasar generasi berusia 11-30 tahun. Berdasarkan pengalaman menjadi dosen selama 22 tahun, saya melihat perubahan nyata budaya menuntut ilmu menjadi menuntut nilai atau ijazah. Sungguh suatu fenomena yang sangat berbahaya, yang akan menghancurkan masa depan kita.
Tsunami darat
Di penghujung November 2025, Allah swt telah mengirimkan tsunami darat dari arah gunung. Diawali dengan adanya badai ex-siklon senyar yang membawa angin kencang dan curah hujan yang tinggi, berbagai wilayah di dataran tinggi Aceh habis tersapu air bah yang turun dari gunung. Aliran sungai yang sebelumnya syahdu berubah irama menjadi bandang yang meluluhlantakkan apa saja yang dilaluinya. Aliran air yang kencang dengan debit yang tinggi, ditambahi dengan banyaknya gelondong-gelondong raksasa hasil pembalakan hutan menjadi agen perusak yang sangat dahsyat, menghancurkan jalan dan jembatan serta berbagai infrastruktur lain seperti tower listrik dan tower telekomunikasi. Aliran banjir membawa jasad manusia dan hewan, puing-puing bangunan, dan kendaraan.
Kesan tsunami darat kali ini terasa sangat dahsyat sebagai akumulasi dari perbuatan kita yang tidak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi sumber daya alam Aceh. Dikabarkan adanya illegal logging, deforestation besar-besaran yang merusak keseimbangan alam, dan adanya kegiatan penambangan. Alih fungsi lahan hutan sebagai kebun kelapa sawit diduga juga dilakukan tanpa pertimbangan AMDAL yang berintegritas. Dalam kurun 10 tahun, pulau Sumatera telah kehilangan 10 juta hektare lahan hutan, atau dapat kita katakan bahwa laju deforestasi di Pulau Sumatera mencapai 1 juta hektare per tahun.
Kini, dengan teguran Tuhan dari tsunami 2004 ke tsunami 2025, mungkinkah kita tersadar dan segera berbenah diri? Pertama adalah apakah kita dapat menjadikan momen musibah ini sebagai titik hijrah, peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt? Kedua, bagaimana kita bersikap untuk tidak memperparah keadaan dan berempati membantu sesama. Penggalangan donasi dapat kita lakukan untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Proses penyaluran perlu diperhatikan untuk melibatkan pihak-pihak berkompetensi seperti BPBD dan BPBA, terutama sekali untuk menembus daerah terisolir, atau bahkan menggunakan keahlian Tentara Nasional Indonesia (TNI). Persatuan dan kesatuan sangat dibutuhkan melalui koordinasi (sinkronisasi) yang tepat dan terpusat, sehingga semua korban dapat menerima bantuan secara cepat dan tepat. Peran Pemerintah Aceh dan Pemerintah Daerah sangat penting dalam memastikan sistem sinkronisasi ini. Metode penanganan darurat bencana dan rehab rekon yang tepat lebih penting daripada meributkan status bencana.
Tanpa sinkronisasi, kita akan gagal menyelesaikan penanggulangan darurat pascabencana, sekalipun waktunya diperpanjang. Selanjutnya kita akan masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam Pembangunan rehab-rekon, kita perlu memasukkan unsur mitigasi bencana tsunami darat sehingga proses rehab-rekon berjalan dengan tuntas, dan menghasilkan pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya. Para seniman dapat berkontribusi membuat nandong tsunami darat untuk dapat dituturkan kepada generasi berikutnya. Pemerintah perlu memasukkan program rehab-rekon yang menerapkan mitigasi bencana di masa depan, pencegahan illegal logging dan penambangan yang tidak memenuhi AMDAL dan mengendalikan segenap aktivitas di tengah masyarakat seperti harga barang dan jasa.
Para ilmuwan (‘alim) dapat memberikan rekomendasi terkait desain bangunan yang tahan bencana, pola rehabilitasi dan reklamasi lahan, inovasi pemanfaatan limbah bencana dan seterusnya. Para ulama dapat memberikan kontribusi terkait larangan menaikkan harga barang secara tidak wajar pasca bencana, larangan bersikap parasit atau lintah darat di tengah masyarakat, larangan merusak sumber daya alam, kewajiban menjaga kebersihan lingkungan, dan seterusnya. Mari semua elemen masyarakat bersatu padu untuk pembangunan yang lebih baik.
