Ringkasan Berita:
- Di tengah ramai isu kosongnya stok BBM di SPBU swasta, anak bangsa menghadirkan BBM jenis nabati bernama Bobibos
- Dengan RON mendekati 98, Bobibos disebut bisa menempuh jarak lebih jauh dibandingkan bahan bakar solar konvensional saat ini
- Guru Besar ITB sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto mengatakan rincian pembuatan dan spesifikasi Bobibos masih belum diketahui
PasarModern.comDi tengah ramai isu kosongnya stok BBM di SPBU swasta, anak bangsa menghadirkan BBM jenis nabati bernama Bobibos.
Bobibos dibuat dari dari berbagai tanaman yang mudah tumbuh di banyak wilayah Indonesia termasuk di lahan persawahan seperti jerami.
Dengan RON mendekati 98, Bobibos disebut bisa menempuh jarak lebih jauh dibandingkan bahan bakar solar konvensional saat ini.
Bobibos disebut ramah lingkungan karena klaim tingkat Research Octane Number (RON) yang mendekati 98.
Bobibos sendiri merupakan singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos.
Terdapat dua jenis Bobibos, yaitu bensin dan solar.
Fakta menarik dari Bobibos temuan Muhammad Ikhlas Thamrin ini sangat menarik minat, termasuk Gubernur Jawaa Barat Dedi Mulyadi.
Muhammad Ikhlas Thamrin mengeklaim, Bobibos juga telah melalui tahap uji sertifikasi dari lembaga resmi di bawah Kementerian ESDM.
Namun Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto mengatakan rincian pembuatan dan spesifikasi Bobibos masih belum diketahui.
“Masih gelap buat saya, dari tanaman diapakan prosesnya agar bisa menjadi bensin atau solar,” ujar Yuswidjajanto saat dihubungi Kompas.com dan dilansir pada Kamis (7/11/2025).
“Asal jangan seperti Banyu Geni di zaman SBY atau Nikuba zaman Jokowi yang ternyata hanya penipuan saja,” tegas Yuswidjajanto.
Menurut Yuswidjajanto masih banyak “pintu” yang harus dilalui Bobibos sebab perdagangan BBM di Indonesia diatur secara ketat oleh pemerintah karena terkait dengan energi strategis nasional.
“Izin Usaha Niaga Umum (IUNU), untuk menjual BBM secara umum atau komersial. Izin Usaha Niaga Terbatas (IUNT), untuk menjual BBM dalam jumlah terbatas dan untuk kepentingan tertentu, misalnya, industri sendiri,” ujarnya.
Mengenal Banyu Geni
Dilansir dari Chat GPT, Banyu Geni adalah nama yang diberikan untuk sebuah temuan bahan bakar alternatif yang dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada tahun 2008 silam.
Temuan ini diklaim mampu mengubah air menjadi berbagai jenis bahan bakar, seperti minyak tanah, solar, bensin, dan bahkan avtur.
Temuan ini dikaitkan dengan Joko Suprapto, tokoh yang sebelumnya dikenal dengan “Blue Energy” di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Joko Suprapto diduga terlibat dalam pengembangan Banyu Geni di UMY.
Namun, seperti halnya banyak klaim bahan bakar air lainnya (seperti “Nikuba” yang juga sempat viral), temuan ini menuai kontroversi dan skeptisisme dari para ilmuwan dan peneliti lain, misalnya dari UGM dan BRIN, yang menyatakan bahwa secara prinsip air memang bisa diubah menjadi bahan bakar (melalui elektrolisis), tetapi untuk saat ini prosesnya belum efisien secara ilmiah dan ekonomis untuk digunakan sebagai bahan bakar utama.
Joko Suprapto sendiri kemudian dinyatakan bersalah oleh pengadilan karena terbukti melakukan penipuan terkait klaim temuannya tersebut.
Kontroversi Nikuba
Nikuba adalah sebuah alat yang diklaim mampu mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen untuk kendaraan bermotor.
Nama “Nikuba” sendiri merupakan akronim dari frasa bahasa Cirebon “Niku Banyu”, yang berarti “Ini Air”.
Alat yang ditemukan oleh Aryanto Misel, warga Cirebon, Jawa Barat, ini bekerja dengan prinsip elektrolisis.
Proses ini memisahkan unsur Hidrogen (H ) dan Oksigen (O ) dalam molekul air (H O) menggunakan energi listrik dari aki kendaraan.
Gas hidrogen yang dihasilkan kemudian disalurkan ke ruang pembakaran mesin sebagai bahan bakar pengganti bensin.
Air yang digunakan diklaim harus air yang tidak mengandung logam berat.
Penemu mengklaim bahwa 1 liter air yang diolah dapat digunakan untuk menempuh jarak ratusan kilometer dengan sepeda motor.
Inovasi Nikuba telah menarik perhatian luas, termasuk dikabarkan diminati oleh perusahaan otomotif di Italia.
Beberapa unit alat ini juga sempat dipasang pada motor operasional anggota TNI di Kodam III/Siliwangi untuk keperluan uji coba dan penelitian.
Namun, temuan ini juga memicu perdebatan di kalangan ahli dan peneliti, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Para ahli meragukan klaim bahwa air dapat menjadi bahan bakar utama.
Mereka menjelaskan bahwa air adalah produk dari pembakaran, bukan bahan bakar itu sendiri.
Menurut pakar, proses elektrolisis membutuhkan energi yang sangat besar untuk menghasilkan hidrogen dalam jumlah yang signifikan, sehingga mustahil air dapat menjadi bahan bakar tanpa pasokan energi eksternal yang besar.
Para ahli cenderung mengklasifikasikan teknologi berbasis HHO (campuran Hidrogen dan Oksigen hasil elektrolisis air) sebagai “penghemat bahan bakar” (fuel saver) yang membantu meningkatkan efisiensi pembakaran, bukan sebagai pengganti total bahan bakar fosil.
Lantas seperti apa sosok Muhammad Ikhlas Thamrin penemu Bobibos bahan bakar jerami ini?
Sosok Muhammad Ikhlas Thamrin
Ikhlas bukan dari latar belakang anak teknik.
Ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo angkatan 2001.
Selama kuliah Ikhlas mengaku sangat sering mengikuti demonstrasi untuk mengkritisi sumber energi di Indonesia.
“Saya ingat betul pernah berdemo di Jakarta untuk menolak kenaikan harga BBM. Namun, setelah lulus saya mulai berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk memberi solusi perihal energi,” ujar Ikhlas dalam artikel tahun 2022 di situs UNS.
Lulus tahun 2005, Ikhlas pun mulai mencari solusi untuk permasalahan energi.
Ikhlas berpendapat energi di Indonesia berpotensi langka dan mahal karena belum memanfaatkan energi terbarukan terlebih yang saat ini digunakan belum ramah lingkungan.
Kompor dan Motor Pulsa
Pada 2007 ia memulai riset tentang energi bersama timnya.
Delapan tahun kemudian Ikhlas mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi.
Hasil dari riset yang dilakukannya melahirkan sebuah solusi energi berbasis pulsa berupa kompor dan motor.
Kala itu patennya telah diuji oleh International Certificate Testing Technology (ICTT).
Kompor dan motor listrik tersebut akan dapat digunakan dengan baterai yang menganut sistem pulsa token.
Pengguna tidak perlu mencari stasiun pengisian listrik umum untuk mengisi daya jika baterai habis melainkan cukup mengisi pulsa token.
Ikhlas bermimpi membangun ekosistem listrik di Indonesia pada 2030.
10 tahun riset mandiri, Bobibos masih perlu lewati banyak pintu Ikhlas menciptakan Bobibos dilatarbelakangi oleh keresahannya pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
Ia ingin membuktikan Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui ilmu pengetahuan dan riset mandiri.
Riset Bobibos Memakan Waktu Satu Dekade
“Setelah lebih dari 10 tahun riset mandiri, akhirnya kami menghadirkan bahan bakar yang murah, aman, dan beremisi rendah,” ujarnya saat acara peluncuran di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, dalam keterangan resminya, dilansir Kompas.com pada Senin (11/3/2025).
Bobibos dibuat dari dari berbagai tanaman yang mudah tumbuh di banyak wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan.
Dengan RON mendekati 98, Bobibos disebut bisa menempuh jarak lebih jauh dibandingkan bahan bakar solar konvensional saat ini.
Penjelasan Lemigas Soal Klaim RON Bobibos
Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) menegaskan bahwa pengujian terhadap bahan bakar Bobibos masih berada pada tahap riset internal.
Karena itu, klaim angka Research Octane Number (RON) yang disebut mencapai 98,1 belum dapat dikategorikan sebagai hasil uji resmi yang mengacu pada standar baku.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa Lemigas tidak memberikan tanggapan spesifik mengenai riset Bobibos, karena fokus diskusi lebih kepada pengenalan bahan baku.
“Kami nggak punya tanggapan apa-apa. Diskusi kami lebih ke bertanya bahan bakunya dari apa. Pihak Bobibos menyampaikan bahwa bahan bakar itu 100 persen dari nabati, sehingga kami sampaikan bahwa ini ranahnya sudah di DJEBTKE (Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi),” ujar sumber Lemigas kepada Kompas.com, Kamis (27/11/2025).
Terkait klaim bahwa Bobibos telah diuji di Lemigas dan memperoleh nilai RON 98, Lemigas menegaskan bahwa BBM tersebut belum memiliki spesifikasi yang bisa dijadikan acuan, baik sebagai bensin maupun bioetanol.
“Jenis BBM mereka belum ada spesifikasi yang diacu. Tim Bobibos juga masih uji coba internal. Sebentar lagi uji coba di tempat KDM. Mereka belum produksi, jadi sama-sama menunggu. Mereka welcome,” katanya.
Secara teori, bahan bakar berbasis etanol memang dapat memiliki nilai RON sangat tinggi.
Namun tanpa spesifikasi yang jelas, angka tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai standar yang sah.
“Namanya juga masih riset ya. Kalau yang tinggi etanol, malah di atas 100 RON-nya. Setelah diskusi, ternyata spesifikasinya enggak bisa mengacu ke bensin dan enggak bisa mengacu ke bioetanol,” kata sumber tersebut.
Sang Founder Ditagih Janji Dedi KDM
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi seakan memenuhi janjinya siap menjadi pemodal Bobibos.
Bobibos adalah singkatan dari ‘Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos’ sebuah produk bahan bakar nabati yang diklaim dibuat dari tanaman lokal dan dipromosikan memiliki emisi sangat rendah serta angka oktan tinggi setara RON 98.
Bak hilang, setelah dua pekan, Penemu Bobibos Muhammad Ikhlas Thamrin maupun pihak Bobibos menghilang tak memberi kabar.
Dedi Mulyadi pun akan menagih kesiapan Bos Bobibos untuk menggunakan bahan bakar dari jerami ini.
Seakan memenuhi janjinya, dua pekan usai menyatakan siap menjadi pemodal Bobibos, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali ke lahan Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat pada Senin (24/11/2025).
Dalam video yang diunggahnya lewat media sosial pribadinya, Dedi Mulyadi terlihat melintasi area persawahan.
Di lokasi ini, dua pekan sebelumnya, tepatnya Selasa (11/11/2025), dirinya bersama Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin melakukan uji coba Bobibos.
Ketika itu, Bobibos yang merupakan bahan bakar hasil inovasi dari PT Inti Sinergi Formula itu diuji coba pada sebuah traktor.
Hasilnya, bahan bakar yang berasal dari pengolahan jerami itu berhasil menyalakan traktor.
Mereka pun menyambut gembira keberhasilan tersebut.
Dalam video yang direkamnya, Dedi Mulyadi yang mengendarai mobil mengajak pihak Bobibos untuk hadir kembali bertemu dengannya.
Dirinya menunjukkan areal persawahan yang sebelumnya ditujukan untuk pengembangan Bobibos.
Berbeda dengan lahan yang sebelumnya terisi penuh dengan padi yang telah menguning, di lokasi ini padi telah dipanen.
Lahan-lahan sawah kering hanya menyisakan tumpukan jerami yang sudah mulai kecoklatan di sejumlah sisi areal persawahan.
“Ini hamparan padi yang sebagian sudah mulai dipanen dan besok seluruhnya segera dipanen,” ungkap Dedi Mulyadi menujukkan tumpukan jerami dan hamparan sawah yang siap dipanen.
“Dan karena ini seluruhnya sudah segera dipanen, jeraminya akan segera bisa dimanfaatkan,” tambahnya.
Oleh karena itu, Dedi Mulyadi mengajak pihak Bobibos untuk bisa datang kembali ke Lembur Pakuan.
Sehingga jerami-jerami sisa panen padi pada akhir tahun ini bisa diolah dan dimanfaatkan menjadi bahan bakar ramah lingkungan.
“Untuk itu saya nunggu kehadiran teman-teman Bobibos untuk datang ke Lembur Pakuan, karena jerami-jeraminya sudah siap untuk diolah,” ungkap Dedi Mulyadi.
“Dan kami menunggu nanti hasilnya. Semoga bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Seluruh gagasan-gagasan yang disampaikan bisa direalisasikan,” tambahnya.
Dedi Mulyadi pun menegaskan akan mendukung seluruh pihak yang memiliki inovasi dan teknologi.
Terlebih mengubah jerami yang semula dianggap limbah dapat diolah menjadi bahan bakar.
“Dan saya akan support siapapun yang memiliki keinginan untuk memajukan teknologi yang ada di Indonesia, teknologi yang ada di Jawa Barat,” ungkap Dedi Mulyadi.
“Apalagi hari ini bisa hanya memiliki sebuah arah untuk merubah jerami menjadi bahan bakar, Saya tunggu, semoga semua mimpinya bisa terrealisasi. Salam untuk semuanya,” ujarnya di akhir video.
Dedi Mulyadi Modali Bobibos
Dalam postingan sebelumnya, dukung pengembangan Bobibos, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi melakukan uji coba di Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat pada Selasa (11/11/2025).
Proses uji coba dilakukan bersama Founder Bobibos, M. Ikhlas Thamrin dengan menggunakan mesin traktor.
Bahan bakar hasil inovasi dari PT Inti Sinergi Formula itu dimasukkan ke dalam tangki traktor.
Menggantikan solar, bahan bakar yang berasal dari pengolahan jerami itu rupanya berhasil menyalakan traktor.
“Ini kita lagi uji coba nih (Bobibos) di Lembur Pakuan pakai mesin traktor, yaitu uji coba bahan bakar yang berasal dari jarami (jerami), bahan bakarnya,” ungkap Dedi Mulyadi menunjukkan traktor yang tengah hidup.
“Jadi bahan bakar dari jarami sekarang akan di uji coba ke mesin diesel, traktor.
Kepada Thamrin, Dedi Mulyadi menegaskan, bahan bakar Bobibos nantinya bisa mengolah jerami sisa hasil panen di Lembur Pakuan, maupun wilayah pertanian lainya di Jawa Barat.
Jerami dari batang padi itu bisa diambil untuk mengembangkan Bobibos ke depannya.
“Nanti jarami yang ada di sawah daerah Lembur Pakuan ini bisa diproses jadi bahan bakar diesel 2 tak dan 4 tak,” ungkap Dedi Mulyadi.
“Untuk itu saya ucapkan terima kasih ya, nanti saya akan mempelopori lembaga usaha yang berjalan pertama, di Lembur Pakuan MOU,” ungkap pria yang akrab disapa KDM itu.
“Alhamdulillah,” balas Thamrin.
Dijelaskan Dedi Mulyadi, sawah-sawah di Lembur Pakuan akan panen sebentar lagi.
Sisa hasil jeraminya bisa langsung dibawa untuk diolah menjadi bahan bakar Bobibos.
“Dua minggu panen, kita langsung bekerjasama, langsung dibuat jadi bahan bakar. Kurang lebih dua minggu lagi nanti bahan bakar akan diproduksi masal di Lembur Pakuan. Bismillah,” ungkap Dedi Mulyadi.
“Siap,” balas Thamrin sembari tersenyum.
“Jangan usah dulu pakai lembaga pemerintah, lama. Pakai lembaga KDM aja,” balas Dedi Mulyadi menegaskan permodalan akan ditanggung olehnya.
Dikutip dari situs resmi Bapenda Jawa Barat, sebuah terobosan signifikan di bidang energi terbarukan telah diuji coba di Lembur Pakuan, Subang.
Hal ini menunjukkan limbah pertanian, khususnya jerami, memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif.
Inovasi yang diberi nama Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) itu adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) yang memanfaatkan jerami, limbah pertanian yang selama ini sering kali hanya dibakar pasca-panen.
Konsep ini bertujuan agar petani ‘tersenyum dua kali’, saat hasil panen melimpah, dan saat limbahnya jerami dikonversi menjadi uang.
Kang Dedi Mulyadi berkesempatan melakukan uji coba Bobibos telah dilakukan secara langsung di Lembur Pakuan menggunakan mesin traktor diesel.
Hasil pengujian menunjukkan kinerja mesin yang optimal, tarikan ringan, dan kualitas asap buangan yang lebih baik.
Uji laboratorium resmi oleh Lemigas juga mengonfirmasi kualitasnya dengan angka oktan mencapai 98,1.
Inovasi ini membuka peluang ekonomi yang masif di daerah pertanian.
Dengan rasio konversi mencapai 3.000 liter Bobibos per hektar sawah, Lembur Pakuan yang memiliki potensi hingga 1.000 hektar dapat menghasilkan jutaan liter bahan bakar.
Untuk merealisasikannya, telah disepakati kerja sama yang fokus pada eksekusi cepat, memanfaatkan fasilitas dan lahan yang tersedia untuk menghindari kerumitan birokrasi pemerintahan.
Produksi massal direncanakan akan dimulai dalam waktu dekat, bertepatan dengan panen raya yang diperkirakan terjadi dalam dua minggu ke depan.
Keunggulan Bobibos tidak hanya terbatas pada bahan bakar.
Proses pengolahannya juga menghasilkan produk turunan yang bernilai, termasuk pakan ternak (diperkirakan hingga 2.000 ton dari 500 hektar) dan pupuk.
Hal ini menciptakan siklus ekonomi berkelanjutan di mana pertanian tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi, pakan, dan pupuk.
Rencana distribusi ke depan mencakup pembangunan Bobibos Mini di tingkat desa, memungkinkan masyarakat, termasuk kelompok ibu-ibu PKK menjadi agen penjual.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan harga jual, tetapi juga mendukung upaya nasional untuk mengurangi ketergantungan pada subsidi energi.
Bos Bobibos Lembur Bangun Mesin Portabel
Permintaan pria yang akrab disapa KDM itu pun ditanggapi langsung oleh Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin.
Lewat akun instagram resmi Bobibos @bobibos_ pada Senin (24/11/2025), Thamrin menyampaikan siap datang mengolah jerami menjadi bahan bakar.
Terkait hal tersebut, pihaknya kini tengah mempersiapkan mesin pengolahan bahan bakar tersebut.
“Assalamualaikum, Kang KDM. Terima kasih. Luar biasa, insya Allah. Kami setelah MOU di Lembur Pakuan kemarin, kami langsung lembur, Kang KDM, untuk langsung bikin mesin, mesin produksinya. Kita langsung lembur, bikin mesin produksinya,” ungkap Thamrin.
“Dan insya Allah nanti seluruh mesin ini kita akan simpan di dalam truk Fuso. Kita simpan di dalam truk. Sehingga nanti insya Allah nanti kami dari sini akan kirim langsung ke Lembur Pakuan setelah jadi,” bebernya.
Mesin pengolah jerami menjadi Bobibos itu katanya dibuat portabel yang ditempatkan di dalam truk berukuran besar.
Sehingga, jerami sisa panen padi tersebut nantinya akan diolah langsung di Lembur Pakuan.
“Dan kami sudah setiap hari lembur untuk bikin produksi mesinnya, Kang KDM. Sekali lagi, mesin Bobibos ini kita angkut semua di dalam truk. Nanti di dalam truk itulah sebagai mesinnya,” beber Thamrin.
“Sehingga, truk ini nanti datang, jerami masuk ke dalam truk dan semuanya diolah di dalam truk tersebut. Karena di dalam truk tersebut sudah kami install seluruh mesinnya,” bebernya.
Thamrin meyakinkan, pihaknya kini tengah bekerja keras untuk menginstall seluruh mesin ke dalam truk tersebut.
Nantinya, mesin portabel itu dapat mengolah limbah jerami menjadi bensin atau solar Bobibos.
“Jadi insya Allah, Kang KDM di dalam mesin itulah yang akan memproduksi Bobibos, baik itu nanti bensin maupun solar. Sehingga nanti bisa dilihat jerami masuk ke dalam truk, diolah dalam mesinnya, nanti outputnya kita simpan di dalam tangki yaitu Bobibos bensin-bensin maupun solar,” jelasnya.
Melengkapi postingannya, dalam kolom keterangan admin @bobibos_ menjelaskan persiapan terus berjalan.
Bobibos kini menyiapkan mesin produksi khusus yang dipasang di atas truk, sehingga seluruh proses pengolahan jerami bisa dilakukan langsung di lokasi.
Tidak perlu menunggu bahan baku dikirim jauh, mesinnya yang datang ke desa.
“Dengan desain portable ini, unit produksi Bobibos dapat bergerak dari desa ke desa, dari lahan ke lahan, mengikuti titik-titik jerami yang siap diproses. Lebih cepat, lebih efisien, dan tentu lebih dekat dengan para petani,” tulis admin @bobibos_.
“Inilah langkah penting menuju energi masa depan Indonesia. Energi yang fleksibel, berbasis biomassa, dan dikembangkan oleh anak bangsa,” jelasnya.
Dedi Mulyadi Kembali ke Lembur Pakuan
Dua pekan usai menyatakan siap menjadi pemodal Bobibos, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali ke lahan Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat pada Senin (24/11/2025).
Dalam video yang diunggahnya lewat media sosial pribadinya, Dedi Mulyadi terlihat melintasi area persawahan.
Postingan Dedi Mulyadi mendapat beragam sambutan dari masyarakat.
Beragam pendapat dituliskan dalam kolom komentar postingannya.
@OJOL Story: PERTALITE TURUN HARGA 5000 SAYA YAKIN PEREKONOMIAN TUMBUH, KUNCI NYA DI BBM
@Mulyati Midi: Alhamdulillah..kami para petani sudah merasakan nikmat nya..pak, drg harga gabah yg setandar, harga pupuk yg terjangkau.. setidaknya nya jerih payah kami..di hargai tidak sia” keringat kami yg bercucuran..panas matahari membakar kulit kami.. Alhamdulillah kami ucapkan Terimakasih pada pak Dedi Mulyadi yg telah menjunjung kami para petani..Sehat selalu bt pak Dedi sekeluarga dan juga mereka para pemimpin yang Amanah
@Pusat Cetak Indonesia: Semoga keraguan saya terhadap Bobibos hilang, karena 1 hektar sawah bisa menghasilkan 3000 liter Bahan Bakar, harga bisa Rp. 4000 per liter. Tapi yang pasti Bobibos tetaplah sebuah “BIOETANOL”
@ceritananti: Jerami yang dulu dianggap limbah kini jadi energi hijau terbarukan. Inovasi begini yang bikin desa berdaya, ekonomi naik, dan lingkungan tetap lestari. Namun perlu dicermati, pemanfaatan jerami sebagai energi bisa memicu kenaikan harga jerami untuk pakan ternak. Jika tidak diatur dengan baik, peternak kecil bisa terdampak. Solusinya perlu kebijakan harga dan distribusi agar manfaat energi terbarukan tetap seimbang dengan kebutuhan pakan. Terimakasih bapak gubenur
@AL Fian Addillaa: Mantap.. Semoga Bahan bakar nya bisa Di kelola dan di Kembangkan Untuk Mobilitas Dan oprasional kendaraan Dinas Jabar
@Ali Petani Kota: Saya tertarik jika bobibos bisa melakukan efektifitas proses dekomposisi lignin kemudian sakarifikasi dan likuifaksi serta fermentasi – distilasi – pemurnian sehingga mendapatkan harga yg sangat efisien. Kemudian tehnik itu secara ril bisa utk produksi… Lihat selengkapnya
@Roh Hadi: Keren pa Dedi saya warga Jawa barat mendukung penuh kebijakan BPK yg akan memproduksi bobibos untuk kepentingan warga Jawa barat hususnya, umumnya untuk warga Indonesia keren lanjutkan
@Mardianto Imanuel: Puji Tuhan, masih ada pemimpin seperti kang Dedi ini.
Semangat terus bang, jangan goyah dengan pendirianmu.
Bangsa ini hanya akan bertumbuh di tangan orang sepertimu..… Lihat selengkapnya
@Budi Satria: Inovasi anak bangsa tidak kalah dengan luar negeri,semoga Bpk Gubernur Dedi Mulyadi mendampingi terus karya anak bangsa
@Nanang Garut: Alhamdulillah, Bapa solusi sangat mendukung terhadap inovasi energi terbaru kan yang ramah lingkungan, semoga BOBIBOS bisa bersinergi dg kepercayaan Bapa Solusi.
(WartakotaLive.com/Kompas.com/PasarModern.com)
