Inovasi Bahan Bakar Alternatif Bobibos: Penggunaan Jerami sebagai Bahan Baku
Bobibos, sebuah inovasi bahan bakar alternatif yang dibuat oleh Indonesia, sedang menjadi sorotan publik. Produk ini menggunakan jerami padi sebagai bahan baku utama, yang diolah melalui berbagai tahapan produksi untuk menghasilkan bahan bakar yang dapat bersaing dengan bahan bakar konvensional.
Proses Produksi Bobibos
Proses produksi Bobibos terdiri dari lima tahap utama:
-
Pengumpulan dan Pengeringan Jerami
Jerami dikumpulkan dari area persawahan lalu dikeringkan hingga mencapai kadar air ideal. Tahap ini sangat penting karena kualitas jerami akan memengaruhi hasil akhir produk. -
Pemilahan dan Persiapan Bahan Baku
Jerami kering dipilah agar hanya bahan berkualitas yang masuk tahap ekstraksi. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebersihan dan konsistensi bahan baku. -
Ekstraksi Menggunakan Serum Khusus
Bahan baku diproses dengan mesin khusus dan serum untuk mengambil senyawa esensial yang diperlukan dalam pembuatan bahan bakar. -
Pemurnian Cairan Hasil Ekstraksi
Cairan diekstrak lalu diproses agar memenuhi standar bahan bakar nabati. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk akhir memiliki kualitas yang baik. -
Formulasi Akhir Menjadi Bobibos
Cairan murni diformulasikan menjadi dua varian: Merah (setara solar) dan Putih (setara bensin). Dengan demikian, Bobibos dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar konvensional.
Peran Ikhlas Thamrin dalam Pengembangan Bobibos
Ikhlas Thamrin, penemu Bobibos, menyatakan bahwa untuk menghasilkan 3.000 liter Bobibos, diperlukan sekitar 9 ton jerami. Jumlah tersebut setara dengan limbah dari satu hektar sawah padi. Limbah batang kering tersebut kemudian diproses menggunakan mesin dan serum yang dikembangkan oleh timnya.
Ikhlas, yang juga menjabat sebagai CEO PT Inti Sinergi Formula, optimistis Bobibos bisa diproduksi di seluruh Indonesia, mengingat luasnya lahan padi nasional. Ia bahkan menargetkan bahwa harga jual kedua varian bahan bakar tersebut dapat diseragamkan dan, dalam jangka panjang, berpotensi berada di bawah Rp 10.000 per liter.
Dukungan dari Pemerintah Daerah
Dukungan terhadap upaya ini datang pula dari Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, yang sempat mencoba performa Bobibos pada mesin traktor di Lembur Pakuan, Subang, dan menawarkan pasokan jerami dari 1.200 hektar sawah sebagai bahan baku.
Saat ini, produksi massal Bobibos masih menunggu izin pemerintah, sedangkan 3.000 liter produksi awal telah digunakan dalam uji coba terbatas di wilayah Jonggol.
Keraguan Terhadap Klaim RON 98
Namun, beberapa pengamat meragukan klaim bahwa Bobibos memiliki RON 98 karena tak mudah menghasilkan BBM seperti itu. Ali Ahmudi, Ketua Pusat Studi Kebijakan Energi dan Pertambangan (Puskep) Universitas Indonesia, menilai bahwa klaim Bobibos sebagai bahan bakar setara RON 98 harus dipertimbangkan secara terbuka agar publik memahami dasar teknologinya.
Menurut Ali, bahan bakar beroktan tinggi yang berbasis nabati umumnya memerlukan proses pengolahan yang kompleks dan sering kali melibatkan tambahan zat aditif. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya adanya transparansi mengenai formula, proses produksi, serta hasil uji laboratorium agar publik dapat menilai kualitas, keamanan, dan kesesuaian Bobibos dengan standar bahan bakar sebelum dipasarkan luas.
Kiprah Ikhlas Thamrin dalam Dunia Energi
Muhammad Ikhlas Thamrin adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo angkatan 2001. Selama kuliah, Muhammad Ikhlas Thamrin mengaku sangat sering mengikuti demonstrasi untuk mengkritisi sumber energi di Indonesia.
Setelah lulus tahun 2005, ia mulai mencari solusi untuk permasalahan energi. Ia berpendapat energi di Indonesia berpotensi langka dan mahal karena belum memanfaatkan energi terbarukan terlebih yang saat ini digunakan belum ramah lingkungan.
Pada 2007, Muhammad Ikhlas Thamrin memulai riset tentang energi bersama timnya. Delapan tahun kemudian ia mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi. Hasil dari riset yang dilakukannya melahirkan sebuah solusi energi berbasis pulsa berupa kompor dan motor.
MoU antara Bobibos dan Gubernur Jawa Barat
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi menandatangani nota kerjasama dengan penemu Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos), Muhammad Ikhlas Thamrin, di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Sabtu (15/11/2025).
Kerjasama tersebut bertujuan mengembangkan bahan bakar nabati berbasis jerami agar bisa masuk ke tahap produksi. Menurut Dedi, penggunaan bahan bakar nabati selain ramah bagi lingkungan, diyakini juga dapat mengurangi beban subsidi pemerintah untuk penyediaan BBM.
Ia menargetkan, bila uji coba di Lembur Pakuan berjalan baik, ke depannya akan diterapkan di seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
