Profil Kolonel Nur Wahyudi, Pembebas Sandera di Laut Somalia

Posted on

Pemimpin Baru Danrem 045 Gaya, Kolonel Inf Nur Wahyudi

Kolonel Inf Nur Wahyudi kini resmi menjabat sebagai Komandan Resor Militer (Danrem) 045 Garuda Jaya (Gaya) Bangka Belitung. Ia menggantikan Brigjen TNI Safta Feryansyah, yang juga berasal dari korps baret merah. Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 045 Gaya, Lettu Kasrofi, membenarkan adanya pergantian jabatan tersebut.

“Iya benar bang Danrem baru Kolonel Inf Nur Wahyudi, menggantikan Danrem lama Brigjen TNI Safta Feryansyah,” ujar Kasrofi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Sertijab dan pelantikan pejabat baru Danrem 045 Gaya masih dalam persiapan. Namun, sosok Nur Wahyudi telah menjadi perhatian publik karena rekam jejak karier dan kehidupannya yang menarik.

Latar Belakang dan Karier Kolonel Inf Nur Wahyudi

Nur Wahyudi lahir di Sidoarjo, Jawa Timur. Sejak kecil, ia memiliki cita-cita ingin menjadi tentara. Ia masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Nusantara pada tahun 1998. Setelah lulus SMA, ia mendaftar menjadi calon taruna Akademi Militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah.

Persiapan matang sejak duduk di bangku SMA membuatnya diterima di Akmil. Selama di Akmil, ia tekun belajar dan penuh disiplin. Ia lulus Akmil pada tahun 2001 dengan pangkat Letnan Dua.

Setelah lulus, Nur Wahyudi ditempatkan di Grup 1 Kopassus Serang selama dua tahun. Tak lama kemudian, ia menimba ilmu pendidikan anti teror di Jakarta. Pada tahun 2012, ia pindah tugas ke Grup 3/Sandhi Yudha, satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia.

Pada tahun 2015, ia kembali ke Grup 1 Kopassus Serang setelah menyelesaikan pendidikan di Bandung. Ia kemudian ditugaskan di bagian intel. Karier Nur Wahyudi melesat dan ia menjabat Komandan Batalyon (Danyon) 12 Grup 1 Kopassus Serang selama dua tahun.

Pengalaman Luar Negeri dan Operasi Militer

Nur Wahyudi pernah dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti lomba menembak di Singapura. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Sekolah Anti Teror di Grup Pusdiklatsus. Ia juga pernah ditugaskan bergabung dengan Satgas Unifil Lebanon dalam rangka menjalankan misi perdamaian PBB.

Ia pulang ke Tanah Air pada Januari 2020 dan kemudian dipercaya menjabat Komandan Kodim (Dandim) 0603/Lebak sejak 5 Agustus 2020. Pada masa jabatannya ini, ia naik pangkat menjadi Letkol Infantri.

Setelah itu, ia menjabat Komandan Satuan atau Dansat 81 Kopassus. Satuan ini merupakan satuan antiteror andalan TNI yang mencerminkan ketepatan, kecepatan, dan keberanian prajurit dalam menghadapi ancaman nyata terhadap kedaulatan negara.

Peran dalam Pembebasan Sandera di Somalia

Selama kariernya sebagai prajurit TNI, Nur Wahyudi pernah menjadi anggota Satgas Muhibah dan terlibat dalam pembebasan sandera KMV Sinar Kudus oleh perompak Somalia pada 2011 silam. Operasi ini dilakukan dengan pasukan militer khusus yang terdiri dari Marinir, Kopassus, Kopaska, dan Kostrad TNI.

Operasi tersebut berhasil dilakukan meski sempat terjadi baku tembak hingga empat perompak Somalia tertembak dan jatuh ke laut. Para sandera berhasil tiba di Indonesia dalam kondisi sehat.

Kehidupan Pribadi dan Kepedulian

Nur Wahyudi juga pernah menjadi prajurit di beberapa Satgas seperti UNIFIL di Lebanon, Satgas Ban Intel di Papua, dan Satgas Intel BIN di Bali dan NTB. Ia juga pernah menjadi prajurit Grup 3/Sandhi Yuda, satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia.

Di kehidupan pribadinya, Nur Wahyudi berjodoh dengan Juliana Moechtar, mantan istri gitaris Seventeen, Herman Sikumbang. Mereka menikah pada Mei 2022. Juliana kini aktif sebagai Ketua Persit Cabang VI Sat 81 PCBS Kopassus.

Kepekaan dan Kebaikan Hati

Nur Wahyudi juga dikenal memiliki hati yang lembut. Hal itu diperlihatkannya dengan memaafkan seorang pemuda yang mencuri handphone di RSUD Adidarma Rangkasbitung, Lebak. Ia memaafkan pemuda tersebut setelah mengetahui alasan nekatnya untuk membiayai persalinan istri.