Longsoran Bantaran Sungai Kahayan Rusak Jembatan Kayu di Gang Getah Rami
Pada Jumat (30/1/2026) malam, terjadi longsoran di bantaran Sungai Kahayan yang menyebabkan jembatan kayu di Gang Getah Rami, Kompleks Flamboyan Bawah, RT 3 RW 1, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami kerusakan parah hingga akhirnya runtuh. Kejadian ini membuat akses jalan warga terganggu dan mengancam keselamatan masyarakat sekitar.
Longsoran tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sepanjang hari. Akibat dari curah hujan tinggi, struktur tanah di bawah jembatan ambles, sehingga jembatan mulai miring dan akhirnya roboh ke bawah. Salah seorang warga setempat, Mama Raya, mengungkapkan bahwa jembatan sudah mulai miring pada sore hari, lalu akhirnya runtuh pada malam hari.
“Kemarin hujan deras seharian. Sore hari jembatan sudah miring, lalu roboh ke bawah. Sekarang jalannya putus,” ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Dampak Terhadap Warga Sekitar
Kejadian ini berdampak langsung terhadap sekitar 15 kepala keluarga (KK) yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Kahayan. Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Langkai, Alyana, menjelaskan bahwa jembatan kayu yang ambruk merupakan akses utama bagi warga dalam beraktivitas sehari-hari. Ia juga menambahkan bahwa peristiwa ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Menurutnya, ini adalah kejadian ketiga selama dirinya menjabat sebagai ketua RT sejak 2021.
“Kalau dihitung, ini sudah yang ketiga. Yang sebelumnya juga pernah ambruk di sekitar sini pada tahun 2023. Yang satunya lagi saya lupa persisnya kapan,” ujar Alyana saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurut informasi warganya, kondisi jembatan mulai menunjukkan perubahan sejak sore hari. Bagian bawah jembatan mulai miring akibat tanah bantaran yang bergerak. Namun, setelah itu tanah bantaran terus bergerak hingga akhirnya jembatan kayu ambruk ke bawah pada malam hari.
Kondisi Bantaran Sungai Kahayan
Di lokasi kejadian, pantauan menunjukkan bahwa kondisi bantaran sungai tampak rusak parah. Tanah di sisi sungai tergerus membentuk lereng curam, sementara rangka jembatan papan patah dan runtuh ke bawah bantaran. Sejumlah balok kayu penyangga terlihat berserakan dan menancap miring di lumpur, sebagian lainnya jatuh hingga mendekati aliran sungai yang berwarna kecokelatan.
Di bagian atas, sisa jembatan titian masih tersambung sebagian, namun permukaannya tidak rata, miring, dan rawan dilalui. Beberapa warga tampak berdiri di tepi jalan papan, mengamati kondisi tanah yang terus tergerus, sementara warga lainnya melakukan kerja bakti untuk mengamankan papan dan material jembatan agar tidak tertimbun tanah jika hujan lagi.
Pengamatan Terkait Pergerakan Tanah
Alyana menjelaskan bahwa kawasan ini memang rawan mengalami pergerakan tanah, terutama saat hujan deras. Hal ini membuat akses jalan papan yang ambruk bukan hanya berada di satu titik, melainkan merupakan bagian dari akses permukiman bantaran sungai yang selama ini digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari.
Ia menambahkan bahwa perlu adanya upaya pencegahan dan perbaikan infrastruktur yang lebih kuat agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Saat ini, warga masih mencoba untuk mengamankan area sekitar jembatan yang telah runtuh guna mencegah risiko tambahan.
Penanganan Darurat
Meskipun jembatan telah runtuh, aktivitas masyarakat sekitar masih berlangsung dengan cara-cara yang lebih aman. Warga terus berupaya untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi meski akses utama terganggu. Selain itu, beberapa pekerja tampak masih melakukan perbaikan teknis di sekitar bangunan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana lanjutan.





