PLN dan Pertamina Kolaborasi Kembangkan 19 Proyek Panas Bumi 530 MW

Posted on

Kolaborasi Strategis Pertamina dan PLN dalam Pengembangan Energi Panas Bumi

PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) mengumumkan kemitraan strategis untuk mengembangkan 19 proyek energi panas bumi dengan total kapasitas mencapai 530 Mega Watt (MW). Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua perusahaan pelat merah, yang difasilitasi oleh BPI Danantara.

Kolaborasi ini mencakup berbagai aspek penting seperti perumusan skema kerja sama yang optimal, pemanfaatan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), penyelarasan dan percepatan implementasi proyek, serta pelaksanaan studi kelayakan teknis dan komersial. Selain itu, terbentuknya Tim Kerja Bersama dan Joint Committee sebagai forum koordinasi pelaksanaan proyek.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa Pertamina melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berkomitmen memperluas pemanfaatan sumber daya panas bumi sebagai tulang punggung energi bersih Indonesia. Ia menekankan bahwa kolaborasi ini akan memungkinkan optimalisasi potensi wilayah kerja panas bumi secara terukur dan progresif.

“Dengan bekerja sama dengan PLN dan Danantara Indonesia, kami siap mempercepat realisasi proyek strategis yang memberikan kontribusi langsung pada target transisi energi nasional dan peningkatan bauran EBT,” ujar Simon dalam pernyataannya.

Selain MoU antara Pertamina dan PLN, juga dilakukan penandatanganan Head of Agreements antara PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power (PLNIP) tentang Kerja Sama Pengembangan Energi Panas Bumi untuk Pembangkit Listrik. Di samping itu, terdapat Komitmen Perjanjian Konsorsium (consortium agreement) antara PGE dan PLNIP unit Ulubelu Bottoming serta unit Lahendong Bottoming.

Kerja sama ini khususnya bertujuan untuk pengadaan Independent Power Producer (IPP) Project Cogen, yang menjadi strategi cepat untuk PGE mencapai kapasitas 1 GW dalam 2 sampai 3 tahun mendatang. Simon menjelaskan bahwa prioritas komitmen ini dilakukan di Ulubelu BU 30 MW dan Lahendong BU 15 MW.

Menurut Simon, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, yaitu sebesar 24 GW, sementara kapasitas terpasang saat ini baru mencapai sekitar 2,5 GW. Ia menilai ini merupakan fondasi kuat untuk pertumbuhan lebih agresif ke depan.

“Mari kita gunakan peluang emas ini untuk mempercepat pengembangan panas bumi sebagai energi bersih dan andal. Dengan sinergi, kita dapat menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam pemanfaatan energi geothermal dan ekonomi berkelanjutan,” tambah Simon.

Sinergi antar perusahaan nasional ini merupakan upaya akselerasi pengembangan panas bumi di Tanah Air. Kolaborasi strategis ini akan mengoptimalkan aset, sumber daya, dan pengalaman untuk mendorong realisasi proyek-proyek pembangkit listrik berbasis panas bumi (geothermal), sekaligus memperkuat ekosistem energi terbarukan dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan bahwa pengembangan energi panas bumi merupakan bagian dari agenda strategis nasional dalam memperkuat ketahanan energi dan mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon. Danantara berkomitmen memastikan bahwa setiap inisiatif pengelolaan aset strategis dilaksanakan dengan tata kelola yang akuntabel, profesional, dan selaras dengan standar internasional.

“Melalui kolaborasi lintas BUMN yang terintegrasi, Danantara Indonesia mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia,” jelas Rosan.