Perjalanan Kehidupan yang Penuh dengan Ketabahan
Di sebuah rumah kecil di Padukuhan Dhisil, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Deni Rianingsih atau dikenal sebagai Ria sedang melakukan rutinitas harian. Ia membawa gelas untuk membuat susu, dan mempersiapkan waktu minum susu bagi putranya, Ananda Yue Riastanto (16), yang sejak kelas awal sekolah dasar mengalami lumpuh total setelah digigit ular weling.
Susu SGM BBLR ini diberikan atas saran rumah sakit untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan Ananda. Susu tersebut tidak diminum melalui mulut, tetapi melalui selang NGT Fr. 8 yang masuk dari hidung kanan menuju lambung. Dengan gerakan tenang namun penuh perhatian, Ria menyedot sekitar 300 cc susu menggunakan spuit, lalu perlahan memasukkannya ke dalam selang. Sesekali ia menoleh memastikan kondisi Nanda aman.
“Ini sudah masuk tahun kedelapan sejak sakit itu datang,” ujar Ria, mengenang masa pahit yang mengubah hidup keluarganya. Remaja yang ia panggil Nanda terbaring miring ke kiri di atas kasur springbed besar di kamar sederhana berdinding hijau. Dindingnya penuh coretan warna-warni karya sang adik, Aini Zia Riastanti, yang masih TK. Bantalan tisu selalu terpasang di ujung bibir kiri Nanda untuk menampung air liur yang terus menetes.
Tubuhnya sangat kurus, nyaris tinggal tulang, dengan tangan menggenggam kaku dan keringat tipis karena panas siang hari. Bola mata dan kepala tampak menonjol, tak lagi seimbang dengan tubuhnya.
Gigitan Ular Weling Hancurkan Hatinya
Ria tidak pernah melupakan pukul 03.00 suatu hari pada awal 2017. Waktu itu Nanda dan keluarga baru menempati rumah baru di hari ke-17. Nanda yang masih lincah tiba-tiba datang tergopoh sambil berkata, “Bu, aku digigit ular…”
Sesudah itu, semuanya berubah cepat dan traumatis. Meski ia sudah meyakinkan tenaga kesehatan bahwa itu gigitan ular weling dan membutuhkan antibisa segera, penanganan tak secepat harapan keluarga hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar. Racun weling membuat Nanda harus dirawat lebih dari sebulan di RSUP Dr. Sardjito. Ia selamat, tetapi kehilangan hampir seluruh kemampuan motorik dan penglihatannya.
Sejak itu, hidup keluarga ini berputar mengelilingi perawatan intensif untuk Nanda yang hanya bisa tidur di rumah dengan sekeliling berupa rimbun pohon jati dan kelapa, bambu, dan tumbuhan pakan ternak, dan satu rumah kerabat di sebelahnya.
Rutinitas Harian yang Berat
Dari luar, rumah batako lebih 80 meter persegi sederhana itu tampak tenang. Terdengar suara kambing mengembik dan ramai anak ayam di bagian belakang rumah. Namun, di dalam rumah, perjuangan hidup sejatinya tidak pernah berhenti.
Ria menjalani rutinitas yang tak semua ibu sanggup menanggung: mengganti selang NGT, memantau pernapasan Nanda, menyiapkan makanan khusus, hingga memasukkan enam kali makanan cair, satu kali susu, dan dua kali puyer obat, setiap hari melalui sonde. Isinya nasi, sayuran seperti wortel, brokoli, buncis sampai ubi ungu, harus direbus lalu diblender, tanpa banyak bumbu, garam sedikit, gula hampir tidak pernah. Lauk biasanya kaldu ayam atau tahu.
“Nanda makan setiap tiga jam sekali. Satu hari bisa enam tujuh kali makan, satu kali susu, obat dua kali. Belum air putihnya beberapa kali,” ujarnya. Seluruh waktu dan tenaganya terserap untuk menjaga stabilitas Nanda. Buang air kecil maupun besar diatur lewat pispot dan hanya Ria yang paham isyarat kecil tubuh anaknya.
Menulis Novel Jadi Kekuatan di Tengah Luka Batinnya
Di tengah keterbatasan, ia menemukan sesuatu yang justru menguatkannya: menulis. Berawal dari kegemarannya membaca dan rasa tak puas pada alur cerita bacaan tertentu, ia mulai menulis dan mengunggahnya ke platform novel daring. “Saya mulai dua tahun belakangan. Iseng-iseng saja, lama-lama jadi hiburan, seperti pelarian (penghiburan),” kata lulusan SMK Negeri di Pengasih ini.
Saat pandemi, ketika usaha umbi gadung olahan terhenti, ia mulai fokus menulis genre populer yang disukai pembaca digital. Cerita bikinannya harus ikut pasar kalau mau mendulang banyak viewers. Menulis menjadi perjuangan di jalan lain demi anak. Penghasilannya memang tidak besar, tetapi cukup membantu membeli kebutuhan harian, obat, atau susu.
Setiap kali ia mengetik di ponsel, Ria yakin anaknya tahu. “Dia paham, Mas. Dia tahu kalau saya buka HP bukan mainan, tapi kerja,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Sedikit demi sedikit, menulis memberi hasil. Ria memproduksi belasan novel digital di salah satu platform, itu belum termasuk dua platform lain. Ia punya nama pena sendiri tapi masih malu-malu untuk diungkap.
Waktu berjalan tanpa kompromi di tengah Ria yang terus menjahit luka hati dengan tangannya sendiri. Rumah di tengah jati itu mungkin tampak tak menarik bagi orang lain, namun bagi Ria, di situlah ia belajar arti kekuatan yang paling radikal: mencintai tanpa syarat ketika hidup tak memberi jaminan apa pun. Dan Nanda, dengan keheningan, justru menjadi pusat gravitasi yang membuat Ria tetap berpijak. Seorang ibu tidak mengalah. Tidak hari ini. Tidak besok. Tidak juga lusa, karena kasihnya sepanjang jalan.
