Pengalaman Mengerikan Pendeta Yoel Sianto dan Rombongan di Bawah Tanah Yerusalem
Pendeta Yoel Sianto, bersama rombongan peziarah asal Indonesia, mengalami pengalaman yang tak terlupakan saat terjebak di dalam bunker Yerusalem. Kejadian ini terjadi pada 28 Februari 2026, ketika serangan antara Israel dan Iran meledak, memicu kepanikan besar di kota tersebut.
Selama dua jam di bawah tanah, mereka menyaksikan “jual-beli” serangan rudal sebelum akhirnya dievakuasi ke Yordania. Saat ini, rombongan masih tertahan di Yordania menunggu jadwal ulang penerbangan yang terdampak penutupan wilayah udara Dubai.
Kondisi Awal yang Tenang
Yoel dan rombongan berangkat dari Jakarta pada 21 Februari 2026. Seperti biasa, mereka singgah di Mesir sebelum masuk ke Yerusalem pada 26 Februari. Dari tanggal 26 sampai 28 pagi, kondisi terlihat aman. Mereka melakukan perjalanan ke Betlehem dan Yerusalem dengan lancar. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi serangan.
Ini bukan pertama kalinya Yoel memimpin rombongan ziarah ke Israel. Ia sudah 15 kali melakukan perjalanan seperti ini. Setiap keberangkatan selalu didahului dengan konfirmasi keamanan kepada pihak tur lokal dan otoritas setempat. Jika dinyatakan tidak aman, ia pasti menunda perjalanan. Namun, kali ini dinyatakan aman.
Pemicu Kekacauan
Pada Sabtu pagi, 28 Februari, rombongan tengah menjalani prosesi Jalan Salib di Via Dolorosa Yerusalem. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat, alarm berbunyi di ponsel mereka, disusul sirine kota. Orang-orang lokal langsung berlarian. Yoel awalnya tidak paham karena pengumuman dalam bahasa setempat. Namun, kemudian di HP muncul berita bahwa Israel meluncurkan serangan pertama ke Iran.
Tak lama setelah itu, situasi berubah cepat. Rombongan diarahkan untuk segera meninggalkan Yerusalem. Agenda berikutnya adalah mengunjungi Garden Tomb, situs yang diyakini sebagai tempat penyaliban dan penguburan Yesus Kristus. Mereka sempat tiba di lokasi tersebut, namun sirine kembali meraung lebih keras.
Di Dalam Bunker
Yoel dan rombongan langsung disuruh masuk bunker sekitar pukul 10.30, tidak lama setelah sirine pertama. Di dalam bunker seluas kurang lebih 200 meter persegi itu, sekitar 200 orang berlindung. Selain rombongan Yoel, ada pula grup lain dari Indonesia dan rombongan peziarah dari Spanyol.
Fasilitas di bunker hanya ruangan tahan ledakan, tidak ada toilet, karena ini memang untuk kondisi darurat. Selama hampir dua jam, mereka bertahan di dalam bunker. Di atas mereka, suara ledakan terdengar jelas, serangan balasan dari Iran mulai dilancarkan.
Kota seperti menyala, sirine berbunyi terus-menerus. Secara manusiawi, mereka panik, ada yang menangis, ada yang takut tidak bisa pulang. Namun di tengah ketegangan itu, Yoel berusaha menguatkan rombongan lewat doa.
Pengalaman yang Mengguncang
Setelah dinyatakan aman untuk sementara, rombongan segera dievakuasi ke Nazareth, sekitar dua jam perjalanan dari Yerusalem. Namun situasi belum sepenuhnya tenang. Di hotel tempat mereka menginap, tersedia shelter khusus di setiap lantai. Sekitar pukul 02.00 dini hari, alarm kembali berbunyi.
Ada alarm HP, ada sirine kota. Yoel sempat melihat rudal terbang dari kamar hotel baik dari Iran ke Israel maupun sebaliknya, ada jual-beli serangan. Sebagai saksi mata, Yoel mengaku campur aduk antara takut dan berserah.
Evakuasi ke Yordania
Melihat eskalasi yang terus meningkat, tim tur memutuskan untuk mengevakuasi rombongan ke Yordania. Visa darurat diproses lebih cepat dari biasanya. Mereka menempuh jalur darat melalui perbatasan Allenby dan tiba dengan selamat.
Namun suasana wisata itu tetap dibayangi kecemasan. Rombongan seharusnya pulang pada 4 Maret, tetapi penerbangan melalui Dubai terdampak situasi konflik. Maskapai menjadwalkan ulang kepulangan mereka pada 6 Maret.
Saran dan Peringatan
Sebagai pemimpin perjalanan yang sudah belasan kali ke Israel, Yoel memahami risiko kawasan yang kerap disebut negara dalam kondisi darurat perang. Ia mengakui baru kali ini benar-benar masuk bunker. Pada kunjungan sebelumnya, ia pernah menyaksikan sistem pertahanan rudal Israel mencegat serangan di Haifa, tetapi belum pernah merasakan perlindungan di ruang bawah tanah.
Ia juga menyebut beberapa lokasi seperti Hebron kini semakin dibatasi untuk kunjungan karena faktor keamanan. Beberapa gereja bahkan tidak lagi dibuka untuk umum.
Yoel menyarankan warga Indonesia yang ingin berziarah agar memilih biro perjalanan yang benar-benar memahami situasi lokal dan selalu memperbarui informasi dari otoritas setempat. Ia mengimbau agar tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas.
Harapan dan Doa
Di tengah ketidakpastian, Yoel dan rombongan terus menjaga komunikasi dengan keluarga di Indonesia. Ia meyakini mereka akan pulang dengan selamat. Kini, doa pun dipanjatkan agar seluruh warga Indonesia yang masih berada di kawasan konflik dapat kembali ke Tanah Air dengan selamat.
