JAKARTA, PasarModern.com – Di akhir 2025, platform streaming Netflix kembali mencetak babak baru dalam sejarah industri hiburan global.
Setelah lebih dari dua dekade berevolusi dari layanan sewa DVD lewat pos menjadi raksasa streaming dengan lebih dari 300 juta pelanggan berbayar di lebih dari 190 negara, Netflix kini menyepakati akuisisi bisnis studio dan streaming Warner Bros Discovery, termasuk HBO dan layanan streaming Max, dalam transaksi bernilai puluhan miliar dollar AS.
Perjalanan menuju langkah besar tersebut memperlihatkan bagaimana Netflix berulang kali mengubah model bisnisnya, merespons teknologi baru, sekaligus menghadapi kompetisi dan tekanan regulasi yang terus berkembang.
Dari Scotts Valley: lahir sebagai layanan sewa DVD
Netflix didirikan pada 29 Agustus 1997 oleh Reed Hastings dan Marc Randolph di Scotts Valley, California, Amerika Serikat (AS).
Pada masa awal, Netflix bukan perusahaan layanan streaming, melainkan layanan penyewaan dan penjualan DVD lewat internet, sebuah gagasan yang saat itu memanfaatkan format DVD yang baru saja diperkenalkan di AS.
Netflix diluncurkan dengan sekitar 30 karyawan dan kurang dari 1.000 judul DVD, namun langsung memanfaatkan keunggulan model daring. Katalog bisa diperluas tanpa batasan ruang fisik seperti toko video tradisional.
Pada awal operasinya, Netflix menggunakan model bayar per sewa.
Namun pada 1999, perusahaan memperkenalkan konsep berlangganan bulanan (subscription) tanpa tanggal jatuh tempo pengembalian, tanpa denda keterlambatan, dan tanpa biaya pengiriman tambahan.
Model bayar per sewa lalu dihentikan pada awal 2000 supaya fokus penuh pada langganan.
Dalam sebuah wawancara, Hastings menggambarkan fase awal itu sebagai periode membangun bisnis DVD yang akhirnya menjadi laba pada 2002 dan bersaing langsung dengan Blockbuster.
Ia menyebut perjalanan itu sebagai evolusi “dari bisnis DVD dalam pertarungan sengit dengan Blockbuster menuju perusahaan yang bertransformasi ke streaming.”
Transisi ke streaming: ambisi lama yang menjadi kenyataan
Meski dikenal sebagai perusahaan DVD di awal 2000-an, ambisi jangka panjang Netflix sebenarnya adalah streaming.
Hastings disebut sudah menyampaikan sejak akhir 1990-an bahwa tujuan akhirnya adalah distribusi konten secara daring, sementara DVD digunakan untuk membangun basis pelanggan hingga teknologi internet siap.
Awalnya, Netflix bahkan merancang sebuah perangkat keras “Netflix box” yang memungkinkan pelanggan mengunduh film semalaman untuk ditonton keesokan hari.
Namun rencana itu dibatalkan setelah perusahaan melihat pertumbuhan cepat layanan video daring seperti YouTube, meski kualitas videonya masih rendah. Netflix kemudian mengalihkan fokus dari perangkat khusus ke layanan streaming langsung via internet.
Pada Januari 2007, Netflix resmi meluncurkan layanan streaming. Saat itu, katalog streaming hanya sekitar 1.000 judul, jauh lebih kecil dibanding lebih dari 70.000 judul DVD yang disediakan melalui layanan pos.
Akan tetapi, langkah ini menandai pergeseran penting bisnis: dari perusahaan distribusi fisik menjadi platform distribusi digital.
Pertumbuhan pesat, konten orisinal, dan ekspansi global
Seiring kecepatan internet membaik dan perangkat seperti smart TV, smartphone, dan tablet makin umum, basis pelanggan streaming Netflix tumbuh pesat. Pada dekade 2010-an, layanan ini berkembang dari dominan di Amerika Serikat menjadi pemain global.
Mulai 2010, Netflix masuk ke pasar internasional, pertama di Kanada, kemudian Amerika Latin, Eropa, hingga Asia.
Dalam periode ini, perusahaan juga mengubah strategi konten: tidak lagi hanya mengandalkan lisensi dari studio lain, tetapi semakin agresif memproduksi konten orisinal.
Serial seperti House of Cards (2013) dan Orange Is the New Black kerap disebut sebagai tonggak yang memperkuat posisi Netflix sebagai produsen konten, bukan sekadar distributor.
Pengamat industri menilai langkah masuk ke konten orisinal menjadi salah satu faktor yang membuat Netflix mampu mempertahankan pertumbuhan pelanggan di tengah makin ketatnya persaingan layanan streaming.
Dari sisi angka, data yang dihimpun berbagai publikasi pasar menunjukkan bahwa pada pertengahan dekade 2020-an Netflix menjadi layanan video on demand berbayar dengan pelanggan terbesar di dunia.
Laporan menyebutkan bahwa pada 2025, Netflix memiliki sekitar 301,6 juta pelanggan berbayar di seluruh dunia, menempatkannya di atas pesaing seperti Amazon Prime Video dan Disney+.
Menyesuaikan model bisnis: iklan dan penertiban berbagi kata sandi
Memasuki 2020-an, pertumbuhan pelanggan Netflix menghadapi beberapa tantangan: pasar yang mulai jenuh di negara maju, biaya produksi konten yang tinggi, serta persaingan dari platform baru seperti Disney+, Max (Warner Bros Discovery), dan Apple TV+.
Untuk menjawab hal itu, manajemen Netflix mengubah beberapa aspek model bisnis:
1. Paket dengan iklan
Pada 2022–2023, Netflix meluncurkan paket berlangganan dengan iklan di sejumlah negara.
Di beberapa pasar, paket termurah tanpa iklan mulai dihapus sehingga pelanggan baru diarahkan ke paket dengan iklan atau paket standar yang lebih mahal.
Manajemen menyatakan kepada investor bahwa pendapatan iklan diproyeksikan tumbuh pesat dan dapat membantu mempertahankan harga langganan yang lebih terjangkau.
2. Penertiban berbagi kata sandi (password sharing)
Pada 2023, Netflix mulai menindak praktik berbagi akun di luar satu rumah tangga di sejumlah negara, termasuk AS.
Netflix meminta pelanggan menetapkan “rumah” utama untuk akun mereka, dan pengguna di luar rumah tangga tersebut dikenai biaya tambahan atau diminta membuat akun sendiri.
Kebijakan ini sempat memicu reaksi beragam, tetapi data pelanggan menunjukkan bahwa langkah tersebut justru berkontribusi pada tambahan pelanggan baru dan kenaikan pendapatan.
Dari sisi keuangan, berbagai laporan menyebutkan bahwa pendapatan Netflix mencapai sekitar 39 miliar dollar AS pada 2024, dan diproyeksikan naik hingga sekitar 44 miliar dollar AS pada 2025.
Laporan kuartal III 2025 menunjukkan pertumbuhan pendapatan sekitar 17 persen secara tahunan, seiring kontribusi paket dengan iklan dan monetisasi pelanggan baru.
Masuk ke olahraga dan siaran langsung
Selain film dan serial, Netflix juga mulai memasuki konten olahraga dan siaran langsung. Pada akhir 2024, Netflix menyiarkan pertandingan NFL pada hari Natal.
Ini diklaim sebagai pertandingan NFL paling banyak ditonton secara streaming di AS dan menjadikan 25 Desember 2024 sebagai hari dengan penonton Netflix terbanyak di negara tersebut.
Pada Desember 2024, federasi sepak bola dunia (FIFA) juga mengumumkan bahwa Netflix menjadi pemegang hak siar eksklusif Piala Dunia Wanita 2027 dan 2031 di Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sejumlah pengamat sebagai bagian dari upaya Netflix memperluas portofolio konten ke olahraga global.
Dari kompetitor menjadi pemilik: jalan menuju akuisisi Warner Bros Discovery
Selama bertahun-tahun, Warner Bros, melalui HBO dan kemudian HBO Max/Max, dipandang sebagai salah satu pesaing utama Netflix dalam konten premium. Namun pada 2025, peta kompetisi itu berubah arah.
Pada akhir Oktober 2025, laporan eksklusif Reuters menyebutkan bahwa Netflix tengah “menjajaki penawaran” untuk membeli bisnis studio dan streaming Warner Bros Discovery (WBD).
Netflix dikabarkan menunjuk bank investasi Moelis & Co. dan telah memperoleh akses ke data keuangan WBD untuk proses uji tuntas (due diligence).
Laporan tersebut menyebutkan bahwa akuisisi ini dipandang sejumlah sumber sebagai langkah yang berpotensi “mengubah lanskap streaming” karena akan menggabungkan katalog konten Netflix dengan studio legendaris Warner Bros, HBO, dan IP besar lain seperti DC dan Harry Potter.
Tidak lama kemudian, berbagai media melaporkan adanya persaingan penawaran dari pihak lain seperti Comcast dan Paramount-Skydance. Namun pada awal Desember 2025, Netflix muncul sebagai pemenang proses penawaran tersebut.
Rincian transaksi: nilai puluhan miliar dollar AS
Pada 5 Desember 2025, Netflix dan Warner Bros Discovery mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan.
Netflix akan membeli studio dan bisnis streaming WBD dengan nilai sekitar 72 miliar dollar AS, sehingga mengimplikasikan valuasi sekitar 82,7 miliar dollar AS untuk keseluruhan WBD.
Mengutip Reuters, transaksi ini mencakup:
- Studio film dan televisi Warner Bros
- HBO dan layanan streaming Max beserta perpustakaan kontennya
- DC Entertainment/DC Studios,
- Divisi distribusi dan lisensi konten WBD.
Sementara itu, bisnis televisi linear, termasuk jaringan-jaringan kabel dan segmen yang akan dilebur dalam entitas “Discovery Global”, serta sebagian aset berita seperti CNN, direncanakan dipisah (spin-off) dan tidak diambil alih Netflix.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa transaksi ini sebagian besar berbentuk pembayaran tunai dan akan disertai pengambilalihan utang dalam jumlah besar.
Analisis yang dimuat Barron’s menyoroti bahwa kesepakatan ini akan meningkatkan posisi utang Netflix secara signifikan dan menimbulkan kekhawatiran investor terhadap beban keuangan dan risiko eksekusi sinergi.
Respons manajemen, pasar, dan regulator
Setelah pengumuman kesepakatan, pasar keuangan merespon secara beragam. Saham Warner Bros Discovery menguat, sementara saham Netflix sempat terkoreksi karena kekhawatiran harga akuisisi yang tinggi dan peningkatan utang.
Co-CEO Netflix Ted Sarandos menyatakan, akuisisi Warner Bros Discovery sejalan dengan misi perusahaan.
Dalam sebuah pernyataan, Sarandos menyebut bahwa misi Netflix adalah “menghibur dunia”, dan dengan menggabungkan katalog Netflix dengan perpustakaan Warner serta HBO, perusahaan berharap dapat “memberikan lebih banyak hal yang disukai penonton.”
Dalam laporan lain, Deadline mencatat bahwa Sarandos menyebut transaksi ini sebagai sebuah “kesempatan langka” bagi Netflix untuk memperluas jangkauan konten dan memperkuat posisinya di pasar global, sekaligus menegaskan komitmen perusahaan untuk tetap mempertahankan rilis film Warner Bros di bioskop.
Di sisi lain, respons politik dan regulator cukup keras. Presiden AS Donald Trump menyatakan keprihatinannya terhadap besarnya pangsa pasar yang akan dimiliki Netflix setelah akuisisi ini.
Ia menyebut kesepakatan tersebut “bisa menjadi masalah” dan menyatakan akan “terlibat” dalam proses peninjauan regulasi.
Laporan yang sama juga menggarisbawahi kritik dari berbagai pihak, termasuk anggota Kongres dari dua partai, yang menyoroti risiko konsentrasi kekuatan pasar, potensi kenaikan harga langganan bagi konsumen, serta dampaknya terhadap pekerja dan ekosistem bioskop.
Posisi Netflix jelang kesepakatan transaksi
Menjelang akhir 2025, Netflix berada pada posisi unik:
- Pelanggan berbayar global mencapai lebih dari 300 juta akun
- Pendapatan tahunan diperkirakan melampaui 40 miliar dollar AS dengan pertumbuhan dua digit
- Portofolio bisnis meluas dari streaming ke konten orisinal, gim, siaran langsung, dan olahraga
Jika transaksi Warner Bros Discovery lolos dari proses persetujuan regulator, yang menurut berbagai laporan diperkirakan akan berlangsung hingga 2026, Netflix akan bertransformasi lagi, dari perusahaan yang dulu meminjamkan DVD lewat pos menjadi pemilik salah satu studio film tertua di dunia dan perpustakaan konten yang sangat besar.
Perjalanan bisnis Netflix, dari titik awal di sebuah kota kecil di California hingga posisi sekarang menjelang penutupan mega-akuisisi Warner Bros Discovery, terekam sebagai rangkaian perubahan model bisnis, keputusan investasi konten, dan manuver korporasi yang terus diawasi pelaku pasar, regulator, dan pelaku industri hiburan global.
