Peringatan Santo dan Santa Pelindung Hari Ini, Senin 1 Desember 2025

Posted on

Peringatan Santo dan Santa Pelindung Hari Ini

Hari ini, Senin 1 Desember 2025, kita akan membahas tentang peringatan santo dan santa pelindung yang memiliki kisah hidup yang luar biasa. Dua dari mereka adalah Beato Dionisius dan Redemptus a Cruce, dua martir asal Indonesia. Mereka menunjukkan keteguhan iman dan keberanian dalam menghadapi penganiayaan.

Beato Dionisius: Seorang Pelaut dan Martir

Pierre Berthelot, dikenal sebagai Santo Dionisius, lahir di kota Honfleur, Prancis pada tanggal 12 Desember 1600. Ayahnya, Berthelot, adalah seorang dokter dan nakoda kapal, sedangkan ibunya, Fleurie Morin, juga berasal dari keluarga bangsawan Prancis. Semua adiknya menjadi pelaut seperti ayahnya.

Sejak usia muda, Pierre telah mengikuti ayahnya berlayar di laut. Pada usia 19 tahun, ia sudah menjadi pelaut ulung. Selain memiliki darah pelaut, ia juga mewarisi kehidupan keagamaan yang kuat. Ia kemudian memasuki dinas perusahaan dagang Prancis dan berlayar hingga ke Banten, Indonesia. Kapalnya dibakar oleh saudagar Belanda dari VOC. Berkat pengalamannya, ia sangat mahir dalam menggambar peta laut dan memberikan petunjuk jalan.

Ia kemudian bekerja pada angkatan laut Portugis di Goa, India. Namun, ia tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ada keresahan dalam hatinya. Ia selalu merenungkan arti hidup yang lebih mendalam. Ketika berusia 35 tahun, ia memutuskan untuk hidup membiara. Ia diterima di biara Karmel dan nama baru yang diberikan adalah Dionisius a Nativitate.

Di biara Karmel, ia bertemu dengan Redemptus a Cruce, seorang bruder yang bertugas sebagai penjaga pintu biara dan koster. Redemptus lahir di Paredes, Portugal pada tahun 1598 dari keluarga tani yang saleh dan taat agama. Ia masuk dinas ketentaraan Portugis dan ditugaskan ke India. Kemudian ia memilih menjadi biarawan untuk mengabdikan dirinya pada tugas-tugas keagamaan.

Suatu ketika, Raja Muda di Goa ingin mengirim utusan ke Aceh, Indonesia, yang baru saja berganti sultan. Dionisius ditunjuk sebagai almosenir, juru bahasa, dan pandu laut. Oleh karena itu, tahbisan imamatnya dipercepat. Dionisius ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1637 oleh Mgr. Alfonso Mendez. Bruder Redemptus ikut serta dalam perjalanan dinas itu sebagai pembantu.

Penganiayaan dan Kemartiran

Pastor tentara Dionisius bersama rombongannya berangkat ke Aceh pada tanggal 25 September 1638 dengan tiga buah kapal: satu kapal dagang dan dua kapal perang. Mereka disambut dengan ramah oleh orang Aceh. Namun, keramahan tersebut ternyata hanya tipu muslihat. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang hanya untuk meng-katolik-kan bangsa Aceh.

Mereka semua segera ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa agar menyangkal imannya. Selama sebulan mereka meringkuk di dalam penjara dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Beberapa orang meninggalkan imannya. Dionisius dan Redemptus terus meneguhkan iman saudara-saudaranya dan memberi mereka hiburan. Akhirnya, di pesisir pantai, tentara sultan mengumumkan bahwa mereka dihukum bukan karena berkebangsaan Portugis melainkan beriman Katolik.

Kemartiran Dionisius dengan kawan-kawannya disahkan Tuhan: mayat mereka selama 7 bulan tidak hancur, tetap segar seperti sedang tidur. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius sangat merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang ke laut dan tengah hutan, senantiasa kembali lagi ke tempat ia dibunuh. Akhirnya jenazahnya dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien (‘pulau buangan’). Kemudian dipindahkan ke Goa, India. Martir-martir itu dibunuh pada tanggal 29 November 1638. Bersama Redemptus, Dionisius digelar ‘beato’ pada tahun 1900.

Santo Eligius: Seorang Uskup dan Pengaku Iman

Santo Eligius atau Eloi adalah seorang pandai emas dan pencetak uang logam di kota Paris pada abad ke-7. Oleh raja Klotar, ia diminta membuat sebuah takhta. Tetapi dengan emas dan permata yang diserahkan raja untuk keperluan itu, Eloi berhasil menciptakan dua buah takhta yang indah sekali. Raja sangat mengagumi kejujurannya itu dan mengangkatnya menjadi kepala percetakan uang logam kerajaan.

Sejak saat itu, Eloi menjadi seorang petinggi kerajaan dengan pendapatan yang lumayan; namun semuanya dimanfaatkan untuk menolong para tawanan dan fakir miskin. Rumahnya, bahkan meja makannya sendiri selalu dikelilingi orang-orang miskin. Di samping pandai mencetak uang logam, ia juga seorang seniman. Kegemarannya ialah membuat tabut yang indah sebagai tempat penyimpanan relikui-relikui orang suci.

Eloi seorang yang saleh dan bijaksana; karena itu ia diangkat sebagai penasehat raja dan uskup-uskup. Tahun 641, ketika Uskup Noyon, Prancis meninggal dunia, ia sendiri yang dinobatkan menjadi Uskup Noyon. Di negeri Vlandria dan Zeelandia, ia berhasil membawa banyak orang kafir kepada Kristus. Selama 20 tahun ia berusaha keras memajukan Kerajaan Kristus disertai banyak mujizat sebagai peneguh kebenaran iman yang diwartakannya.

Santo & Santa Adrianus dan Natalia: Martir di Nikomedia

Suami-istri ini mati sebagai martir pada abad ke-4 di Nikomedia pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus – Licinius. Adrianus adalah seorang perwira Romawi yang bertugas di Nikomedia. Ia belum dipermandikan, namun sudah beriman kepada Yesus, sedangkan isterinya, Natalia, seorang Kristen yang saleh.

Suatu ketika Adrianus diperintahkan untuk mengejar, menangkap, dan menganiaya umat Kristen. Maklumlah penguasa Romawi sangat benci kepada umat Kristen karena mereka tidak mau menyembah dewa-dewa Romawi. Adrianus bingung. Ia sendiri pernah menyaksikan penganiayaan terhadap 23 orang Kristen. Hatinya tidak tahan karena ia merasa seiman dengan mereka. Terdorong oleh cintanya kepada orang-orang seiman, dengan berani ia mengatakan kepada para serdadu Romawi lainnya: “Tangkaplah dan siksalah juga aku sebab aku sendiri pun orang Kristen.”

Ia rela menyerahkan diri untuk ditangkap dan digiring ke penjara. Mendengar peristiwa penangkapan Adrianus, Natalia datang ke penjara untuk menemuinya. Kepada Adrianus, ia berkata: “Adrian, engkau diberkati Allah karena berani mengakui imanmu di hadapan orang-orang kafir. Sesungguhnya engkau telah menemukan harta kekayaan yang tidak diwariskan orangtuamu . . . ” Natalia meminta dengan sangat kepada Adrianus agar menguatkan juga hati teman-temannya di penjara. Selain itu ia berusaha agar Adrianus mendapat pelajaran agama dan dibaptis di dalam penjara.

Pelaksanaan hukuman mati itu disaksikan Natalia. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana anggota tubuh suaminya dicincang. Keinginannya untuk ikut serta terjun ke dalam bara api sungguh tak terbendung, ketika tubuh suaminya dilemparkan ke tengah jilatan api bersama martir-martir lainnya. Api kemudian padam karena sekonyong-konyong turun hujan lebat. Orang-orang Kristen mengumpulkan sisa-sisa jenazahnya dan memakamkannya dekat Argyropolis, di pantai Bosporus, Turki.

Natalia sendiri menyimpan tangan suaminya sebagai relikui kudus. Ia tidak mau menetap di Nikomedia karena merasa terancam oleh penguasa Romawi yang kafir. Ia memutuskan untuk tinggal tidak jauh dari makam suaminya. Beberapa lama setelah berada di Argyropolis, ia pun wafat dengan damai dan dimakamkan dekat kubur Adrianus di antara para martir lainnya. Ia dimasukkan dalam bilangan para martir karena situasi kematiannya. Adrianus adalah martir populer waktu itu dan dijadikan pelindung para serdadu. Ia juga sering dimintai perlindungannya apabila ada wabah penyakit.