Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenizah
Pada hari ini, kita memperingati peristiwa penting dalam sejarah umat Kristen, yaitu pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah Yerusalem. Empat puluh hari yang lalu, kita merayakan pesta kelahiran Yesus, Juruselamat Dunia. Kini, kita mengingat kembali bagaimana Yusuf dan Maria membawa putra mereka, Yesus, ke Kenizah sesuai dengan tuntutan Hukum Taurat Musa. Setiap anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah pada hari ke-40. Mereka datang dengan membawa sepasang burung merpati sebagai persembahan sesuai adat Yahudi.
Dengan bertindak demikian, mereka tidak hanya memenuhi hukum Tuhan tetapi juga memberi teladan tentang ketaatan kepada hukum: hukum Tuhan, hukum Gereja, dan hukum Negara. Maria menyerahkan Yesus kepada Imam yang bertugas, sedangkan Yusuf membawa dua ekor merpati untuk dikurbankan menggantikan Yesus. Setelah itu, Yesus diserahkan kembali kepada orang tuanya. Persembahan ini merupakan tindakan iman yang menunjukkan bahwa Yesus adalah karunia dari Tuhan.
Peristiwa ini bukanlah kejadian biasa seperti yang terjadi pada semua anak sulung orang Israel. Ini adalah peristiwa keselamatan karena terjadi atas Putera Allah sendiri yang menentukan sejarah dunia. Kedatangan Simeon dan Hana ke Kenizah atas dorongan Roh Kudus membuktikan makna peristiwa ini. Mereka datang untuk bertemu dan menyaksikan sang Mesias yang dijanjikan oleh Allah sebagai penebus umat manusia.
Kita diundang dan dikumpulkan oleh Roh Kudus di dalam gereja untuk bertemu dengan Kristus dalam perjamuan Kudus. Di sana kita menjumpai dan mengenal Dia sampai pada hari Ia datang dalam semarak kemulian-Nya.
Beata Eugenia de Smet, Perawan
Puteri kebangsaan Perancis ini lahir pada tahun 1825 dan dikenal sebagai pembina tarekat suster-suster Pembantu jiwa-jiwa di api penyucian. Sejak usia 17 tahun, ia sudah berniat mengabdikan dirinya bagi kemuliaan Tuhan. Ia bersedia menerima penyelenggaraan Ilahi atas dirinya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, kendatipun kehendak Allah berat baginya.
Setelah menerima Komuni Kudus pada hari peringatan jiwa-jiwa di Api Penyucian tahun 1853, ia merasakan gejolak batin yang kuat: ia merasa mendapat panggilan Allah untuk membina suatu tarekat baru bagi suster-suster yang khusus mengabdikan diri bagi kepentingan jiwa-jiwa yang masih bergulat dengan penderitaan di api penyucian dengan doa dan tapa serta pekerjaan amal kasih. Ia meminta lima tanda sebagai petunjuk dari Tuhan. Tuhan mengabulkan permohonannya selama 2 tahun awal karyanya.
Ia juga meminta petunjuk dari Santo Maria Vianney, Pastor Ars yang terkenal karena karunia-karunia luar biasa yang diberi Allah. Kata-kata Yohanes memberinya peneguhan untuk memulai karya agung itu. Dengan ijin Uskup Agung Paris, rumah biara pertama tarekat itu dibangunnya di Paris pada tahun 1856. Ia mengganti namanya menjadi Maria, Puteri Penyelenggara Ilahi.
Dalam beberapa tahun, tarekat ini tersebar ke seluruh dunia. Namun, kemajuan ini tidak tercapai tanpa sengsara. Banyak salib penderitaan yang ditanggungnya: kanker, fitnahan, dan olokan. Meskipun demikian, ia tetap sabar dan penuh iman. Ia wafat pada tanggal 7 Februari 1872. Kata terakhir yang ditinggalkannya kepada suster-suster adalah Cinta Kasih. Ia digelari Beata oleh Paus Pius XII pada tanggal 26 Mei 1957.
Santa Yoana Lestonac, Janda
Yoana lahir pada tahun 1556. Beliau adalah seorang janda dan ibu dari 4 orang anak. Sepeninggal suaminya ia menjalani cara hidup membiara. Namun, karena di fitnah, ia terpaksa keluar dari biara. Akhirnya, ia mendirikan kongregasi suster yang mengabdikan diri di bidang pendidikan anak-anak puteri. Ia meninggal dunia pada tahun 1640.
Beato Theofanus Venard, Martir
Misionaris muda ini dijuluki Martir Gembira karena sepanjang kariernya yang penuh bahaya, ia tetap menghadapi semuanya dengan gembira dan lapang dada. Theofan lahir pada tahun 1829 di Perancis, dari keluarga Katolik yang saleh. Semenjak muda, ia suka membaca majalah misi yang dikeluarkan oleh Serikat KePausan untuk Penyebaran Iman. Ia kagum akan keberanian dan semangat pengorbanan para misionaris, terutama di Tiongkok.
Suatu hari, ia berkata kepada orang tuanya: “Saya ingin menjadi misionaris di Tonkin dan menjadi martir Kristus disana.” Orang tuanya miskin dan tidak mampu menyekolahkannya, tetapi rahmat Tuhan menyertainya. Pastornya rela membantu menyekolahkan dia. Ia belajar di Pastoran dan kemudian pindah ke seminari. Pada tahun 1852, ia ditabhiskan menjadi imam.
Tiga hari setelah di tabhiskan, ia bersiap-siap untuk berangkat ke Tonkin (sekarang Vietnam) sebagai misionaris. Ia tidak sempat lagi bertemu dengan orang-orang yang dikasihinya. Oleh karena itu, ia menulis surat perpisahan dari Paris. Lebih dari setahun ia berada di Hongkong untuk mempelajari bahasa setempat. Dari Hongkong, ia secara gelap menyusup ke Tonkin karena penguasa setempat tidak memperkenankan orang asing berkarya disana.
Meski tindakan nekad ini berbahaya bagi dirinya, ia tetap bergembira. Kepada sahabatnya, ia menulis: “Hiduplah kegembiraan!” Dalam surat-suratnya, terbaca wataknya yang tetap riang gembira. Dua bulan lamanya ia dipenjarakan. Dalam sebuah surat, ia menulis: “Kematian yang kurindukan sejak dahulu karena olehnya aku akan pindah kedalam kehidupan abadi bersama Tuhan.”
Pada tanggal 2 Februari 1861, ia dipenggal kepalanya karena iman akan Kristus dan kecintaannya yang luar biasa pada umatnya. Sewaktu dihantarkan ke panggung tempat ia disiksa, ia menyanyikan Mazmur-mazmur dan lagu-lagu rohani.
