JAKARTA, sebuah gang sempit di kawasan Matraman, Jakarta Timur, menjadi tempat yang penuh dengan kehidupan dan tradisi. Di bawah terik matahari siang, dua pengamen topeng monyet, Deni dan Raffi, menjalankan atraksi mereka.
Deni, seorang pria berusia 43 tahun, duduk lesehan sambil memegang drum dari tabung gas bekas yang telah mengelupas catnya. Ia menggunakan alat musik ini untuk memberikan ritme pada tontonan yang disajikan oleh Raffi, pemuda berusia 18 tahun. Raffi memegang tali kuning cerah yang digunakan untuk mengatur gerakan monyet kecil yang sedang menari di depan para penonton.
Monyet tersebut mengenakan pakaian biru lengkap dengan topi putih kecil. Ia mendorong miniatur gerobak kayu dan plastik bekas serta mencoba naik motor roda tiga yang dibuat dari bahan-bahan sederhana. Setiap gerakan yang dilakukan oleh monyet diatur oleh Raffi melalui tarikan tali.
Anak-anak mulai berkumpul, tertarik dengan atraksi yang unik ini. Seorang bocah berambut ikal duduk di atas motor milik orangtuanya, mengamati monyet yang berusaha menjaga keseimbangan. Suara dentuman dari drum Deni dan suara anak-anak yang tertawa menjadi bagian dari suasana yang hidup di gang sempit itu.
Deni menjelaskan bahwa ia telah menjalani pekerjaan ini selama lebih dari 25 tahun. Ia mengatakan bahwa penghasilannya tidak terlalu besar, rata-rata hanya sekitar Rp 50.000 per hari. Dengan enam teman keliling, mereka mengatur rute agar bisa menjangkau beberapa titik di Jakarta setiap hari.
Monyet yang digunakan dalam atraksi bukanlah milik mereka sendiri, melainkan disewa dari kampung dengan biaya Rp 700.000 per bulan. Biasanya, monyet diganti setiap lima tahun sekali jika sudah terlalu besar dan tidak lagi mampu mengikuti atraksi.
Deni menyebutkan bahwa monyet mereka pernah empat kali disita oleh Satpol PP karena atraksi topeng monyet kini dilarang. Meski demikian, ia tetap menjalani pekerjaan ini. Tawaran menjadi PPSU pernah datang, tetapi persyaratan administrasi membuatnya batal.
Kontrakan yang mereka tempati di Kota Paris, Tanah Tinggi, seharga Rp 350.000 per bulan harus ditanggung bersama. Mereka membagi biaya hidup, makan, dan tabungan secara merata.
Menurut Deni, kondisi saat berkeliling kini semakin sulit. Banyak warga yang menolak kehadiran mereka dan peraturan larangan semakin ketat. “Sekarang memang jarang sekali yang pakai topeng monyet. Biasanya musik atau biola di lampu merah,” tutur dia.
Raffi, yang baru berusia 18 tahun, belajar dari pamannya sejak kecil. “Kalau monyetnya enggak nurut, enggak bisa dapet uang,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Deni menatap monyet yang setia mengikuti instruksinya. Ia mengenang masa-masa ketika topeng monyet masih menjadi atraksi utama di Kota Tua, dulu dianggap hiburan yang menyenangkan anak-anak dan warga. Kini, mereka harus menyesuaikan diri dengan larangan, pengawasan ketat, dan persaingan hiburan jalanan yang lebih modern.
Meski begitu, mereka tetap gigih. Setiap hari, dari pagi hingga Maghrib, mereka mengayunkan tabung gas, mengatur tali, dan memastikan monyet tetap aman. “Dari pagi sampai Maghrib, kita keliling Jakarta. Dari Ujung sampai ke Jatinegara terus balik lagi ke kontrakan di Tanah Tinggi,” kata Deni.
Pekerjaan yang diwariskan turun-temurun ini menjadi bagian dari identitas mereka meski risiko dan larangan terus membayangi.
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai fenomena pengamen topeng monyet sebagai bagian dari generasi awal pengamen di Jakarta. Awalnya, topeng monyet hadir sebagai hiburan murah bagi masyarakat, terutama anak-anak, pada awal tahun 1990-an.
Menurut Rakhmat, pada masa itu teknologi digital belum berkembang sehingga hiburan jalanan menjadi tontonan utama. Monyet dianggap lucu karena bisa mengikuti perintah pawangnya. Namun, beberapa kasus monyet menggigit penonton mulai membuat orangtua melarang anak-anak menonton topeng monyet.
Meskipun demikian, topeng monyet tetap bertahan sebagai sumber pendapatan ekonomi bagi pawang yang sebagian besar berasal dari kampung dan bekerja minimal berdua atau bertiga.
Memasuki tahun 2000-an, mereka menghadapi persaingan dari pengamen jenis lain, di antaranya badut, manusia silver, dan ondel-ondel. Yang membuat mereka bertahan adalah ciri khas profesi sebagai pawang topeng monyet, ada unsur sosial dan identitas yang diwariskan turun-temurun.
Ia menambahkan, penurunan popularitas topeng monyet juga dipicu kritik dari aktivis lingkungan dan pencinta hewan karena dianggap mengeksploitasi satwa. Namun, sejak 2010, fenomena ini muncul kembali karena para pawang tetap bertahan dengan jaringan pertemanan dan informasi ketika ada penertiban.
Rakhmat menekankan perlunya pendekatan humanis dan edukasi bagi pawang, bukan sekadar tindakan represif. Pemerintah seharusnya membatasi penggunaan hewan melalui edukasi dan dialog, agar masyarakat memahami risiko dan dampak terhadap kesejahteraan hewan.
Di balik atraksi yang menghibur, terdapat dilema antara kebutuhan ekonomi pawang dan kesejahteraan hewan. Deni dan Raffi, misalnya, menggantungkan hidup pada pekerjaan yang kini hampir punah tersebut. Satu hari tanpa atraksi berarti kehilangan sumber penghasilan.
Menurut Rakhmat, faktor ekonomi, fungsi hiburan, dan identitas profesi menjadi alasan utama para pawang tetap bertahan meski menghadapi larangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa pengawasan terhadap primata yang digunakan dalam atraksi topeng monyet lebih difokuskan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan hewan. Hal ini mengacu pada sejumlah peraturan, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012, Perda Nomor 11 Tahun 1995, dan Pergub Nomor 199 Tahun 2016.
Tren atraksi topeng monyet di Jakarta sudah turun drastis. Namun, sebagian pengamen tetap menggunakan jaringan penyewaan monyet secara mobile dan kerap berpindah lokasi untuk menghindari petugas. Penertiban dilakukan melalui operasi gabungan, melibatkan Satpol PP, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, serta BKSDA.
Prosesnya dimulai dari laporan masyarakat melalui aplikasi JAKI atau kanal CRM, kemudian identifikasi lokasi, koordinasi antar instansi, edukasi, hingga pengamanan hewan. Setelah diamankan, hewan diperiksa dan direhabilitasi oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan lembaga konservasi atau Non-Governmental Organization (NGO).
Pendampingan juga diberikan bagi pawang yang kehilangan hewan mereka agar beralih ke pekerjaan lain yang sah. “Tantangan terberat penghapusan praktik ini adalah mobilitas pengamen dan persepsi masyarakat yang masih menganggap topeng monyet sebagai hiburan murah,” ujar Hasudungan. Ia menambahkan bahwa praktik ini juga melibatkan jaringan penyewaan monyet, kendaraan, dan peralatan.
Di gang sempit Matraman, kehidupan berjalan lambat di antara dentuman tabung gas dan gerakan monyet yang gemulai. Warga yang lewat menatap dengan rasa penasaran, sesekali memberikan uang receh, lalu melanjutkan aktivitasnya.
“Seru sih, selama ini kan sering lihat tapi semakin ke sini semakin jarang ada topeng monyet,” tutur Nani (32) Warga Matraman. Menurut Nani, hiburan ini sangat ditunggu anak-anak. Meski begitu, ia juga selalu berpesan pada anaknya agar tidak mendekati hewan tersebut.
“Pastinya menghibur, cuma saya pesan tuh ke anak. Kalau lihat topeng monyet jangan dekat, takutnya digigit,” kata Nani.
Sementara itu, warga lainnya, Mustho (40), turut memberikan pendapatnya mengenai atraksi topeng monyet. “Kalau dulu kan dijadikan hiburan, sekarang mereka ngamen. Ya enggak masalah buat kita sebagai warga, asal jangan mengganggu atau monyetnya menggigit orang,” kata Mustho.
Para pengamen jalanan dan pawang topeng monyet menghadapi dilema: antara bertahan dalam profesi yang dicintai tetapi dilarang, atau beralih ke pekerjaan baru yang lebih aman namun asing bagi mereka. Bagi anak-anak yang menyaksikan atraksi tersebut, hiburan ini terasa sederhana, murah, dan menyenangkan. Namun, di balik tawa itu, tersimpan kisah perjuangan, identitas, serta tradisi yang nyaris punah di tengah kota yang terus bergerak maju.
Deni menatap monyet kecilnya, sesekali tersenyum tipis. “Ini hiburan kami, cara kami cari nafkah. Tapi sekarang susah,” katanya. Di gang sempit Matraman, suara tabung gas, langkah monyet, dan tawa anak-anak menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan profesi yang nyaris hilang itu.
