MEDIA KUPANG– Masyarakat di Kabupaten Alor dan pada umumnya tentu masih ingat peristiwa gangguan kamtibmas di Kabupaten Alor pada pertengahan bulan September 2025 lalu di Kota Kalabahi, Ibu Kota Kabupaten Alor.
Masalah yang melibatkan Pemuda Welai dan Wetabua di daerah tersebut akhirnya berakhir di meja perdamaian yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Alor dan Polres Alor.
Menariknya perdamaian kedua kelompok pemuda ini digelar di Rumah Raja pada, pada Senin 9 Desember 2025. Raja Muda, Marzuki Nampira hadir langsung menyambut acara prosesi perdamaian tersebut. Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, SH, MH dan Ketua DPRD Alor, Paulus Brikmar memimpin langsung acara perdamaian ini.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kapolres Alor, AKBP. Nur Azhari, SH, Pejabat yang mewakili Dandim dan Kajari Alor, Wakapolres Alor, Kompol. Jery Puling, Pejabat Pemerintah lainnya, Camat Teluk Mutiara dan Lurah/Kepala Desa se Kecamatan Teluk Mutiara, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, dan masyarakat dari Wetabua dan Welai, serta masyarakat umum lainnya.
Seperti disaksikan Media Kupang acara perdamaian yang digelar pada.sore hari tersebut diawali dengan kegiatan prosesi masuk rumah Raja bersama oleh sejumlah orang tua dari Welai dan Wetabua. Sebelum masuk ke halaman rumah Raja, para orang tua dan Tokoh ini disambut dengan sapaan adat penerimaan. Kemudian rombongan diarak masuk ke rumah Raja. Di dalam rumah Raja sudah ditunggu Wakil Bupati Alor, Ketua DPRD Alor, forum muspida dan Tokoh agama dan masyarakat. Wabup Winaryo dan Ketua DPRD, Paulus Brikmar ketika itu diizinkan duduk di Kursi Raja dalam acara ini. Setelah semua pihak telah duduk bersama langsung acara dimulai dengan tradisi penyerahan ikatan darah oleh kedua belah pihak dan dilanjutkan dengan ucapan saling memaafkan antara sejumlah anak Pemuda Wetabua dan Dimas dari Welai yang sebelumnya menjadi korban pengeroyokan.
Usai acara itu, kemudian Raja Muda, Marzuki Nampira memberikan peneguhan dengan sapaan. Nampira dalam sapaannya menyatakan atas izin Allah hari ini semua kita dipertemukan dalam suasana kekeluargaan, dan menyelesaikan masalah yang sebelumnya terjadi. Nampira mengungkapkan, suatu perdamaian tidak bisa kita pelihara dengan kekerasan, namun dengan pemahaman. “Tidak ada tali yang lebih kuat dari tali silaturahmi, tidak ada pemberian yang lebih tinggi dari pemberian maaf, tidak ada hutang lebih besar dari hutang budi,” demikian sepenggal ungkapan menggugah yang disampaikan Raja Muda Nampira dalam moment itu.
Nampira minta persoalan yang ada ditinggalkan semua pihak dalam pertemuan penuh berkah tersebut. Nampira juga minta agar pemerintah dapat melibatkan anak-anak muda didaerah tersebut untuk menjadi generasi yang berkualitas dan dapat terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan. Nampira juga menyampaikan terimakasih kepada Kapolres Alor dan Dandim Alor yang memiliki peran untuk menjaga kedamaian di negeri ini.
Usai sapaan Raja Muda, kemudian acara dilanjutkan di luar rumah Raja dengan diawali dengan.tuturan sejarah hubungan antara.masyarakat Welai dan Wetabua oleh seorang Bapak John seorang tokoh dari Welai. Kemudian dilakukan iktar perdamaian, dan selanjutnya dilakukan acara penyerahan kelewang dan Busur anak panah dari tokoh masyarakat kepada Kapolres Alor.
Berkaitan dengan hal ini, Wakil Bupati Rocky Winaryo dalam sambutannya mengatakan, saya baru tiba dari Kupang, sebelumnya dari Jakarta, dan saya telah bertemu dengan Bupati dan sampaikan hari ini ada kegiatan perdamaian antara pemuda Welai dan Wetabua. Pak Bupati mendengar ini sangat senang sekali. lihat dari wajahnya ia merasa bersyukur sekali, karena selama ini beliau selalu prihatin dan namun hari ini bisa terwujud perdamaian.
Menurut Winaryo, perdamaian dalam masyarakat adalah kunci untuk membangun keberlanjutan dan kemajuan. Dalam menghadapi perselisihan dan perbedaan menciptakan perdamaian akan menghasilkan stabilitas atas harmoni serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Perdamaian memiliki peran.yang sangat penting dalam masyarakat menciptakan perdamaian. “Kita wajib menjaga keselamatan dan keamanan membangun hubungan sosial dan mengurangi potensi sosial dan kekerasan. Oleh karena itu kita perlu berperan aktif dalam masyarakat. perdamaian juga adalah landasan yang diperlukan membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera dengan menghargai perbedaan, komunikasi dengan baik dan menyelesaikan perselisihan secara damai,” tandas Winaryo.
Winaryo melanjutkan, Kita dapat mencapai tujuan bersama untuk menciptakan masyarakat yang aman dan adil dan sejahtera demi terciptanya kemajuan pembangunan jika kita hidup berdamai. Winaryo menandaskan, Keluarga Welai dan keluarga Wetabua adalah saudara sedarah yang tidak akan terpisah oleh apapun. Ikatan persaudaraan ini abadi dan tidak bisa dipisahkan oleh keadaan apapun dam oleh siapa pun. Persaudaraan ini sudah turun-temurun. Namun seolah-olah hilang dari benak kita hanya karena tidak diingatkan lagi tali persaudraan ini.
Winaryo pada kesempatan itu minta kepada semua masyarakat untuk menjaga perdamaian dan mengambil bagian dalam kegiatan pembangunan daerah dengan peran masing-masing. Winaryo juga menyampaikan terimakasih kepada TNI dan Polri dan kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam menjaga perdamaian di daerah ini.
Sementara itu Ketua DPRD Paulus Brikmar dalam sambutannya mengatakan, kehadiran semua kita disini karena Tuhanlah yang merancang. Menurut Brikmar, dirinya tidak sependapat ketika bilang bahwa anak-anak kita jangan sampai lupa tentang persaudaraan yang terjalin, namun justru saya kembali bertanya kepada kita orang tua bahwa apakah sejarah ini kita orang tua telah menceritakan kepada mereka atau tidak. Oleh sebab itu, jelas Brikmar, inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.
Brikmar menandaskan, tentunya mewakili pimpinan dan semua anggota DPRD yang selama ini membersamai pemerintah daerah baik Bupati dan Wabup, jajaran Polres Alor melalui Kapolres aaaor, Dandim Alor, Pol PP , semua masyarakat, dan tak lupa Camat, Lurah dan Kepala Desa yang senantiasa siang dan malam tentunya ikut pusing dan membersamai menghadapi dinamika sosial masyarakat kita terkhusus ade-ade. Dengan perdamaian sore.hari ini, ungkap Brikmar, oleh sebab itu segala hormat dan terimakasih dissampaikan kepada kita semua. Brikmar juga diakhir sambutannya mengajak semua masyarakat untuk senantiasa berdoa untuk peristiwa bencana di Sumatera agar dapat kembali di Pulihkan. Acara ini kemudian ditutup dengan Doa bersama.***okto manehat
