Penambahan Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Jembrana
Di Kabupaten Jembrana, program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Dapur Program Makan Bergizi Gratis (SPPG) terus berkembang. Saat ini, sudah tersedia 17 SPPG yang melayani berbagai kebutuhan penerima manfaat. Rencananya, jumlah dapur tersebut akan bertambah hingga mencapai 22 unit sesuai target.
Salah satu inisiatif penambahan SPPG adalah kerja sama antara Pemkab Jembrana melalui Perumda. Dua dapur baru akan segera diresmikan bulan ini, sehingga total SPPG yang beroperasi akan meningkat menjadi 19 unit. Selanjutnya, ada tiga SPPG tambahan yang direncanakan, yaitu dari Pemkab, TNI, dan yayasan mandiri.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra menjelaskan bahwa rencana pembangunan SPPG dari Pemkab Jembrana masih dalam bentuk usulan tanah dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD). Ada dua lokasi yang direncanakan sebagai lokus pembangunan, yaitu Kecamatan Mendoyo dan Melaya. Namun, saat ini masih menunggu hasil verifikasi lebih lanjut.
Jika semua proses selesai, SPPG dari Pemkab Jembrana akan menjadi bagian dari total target 22 dapur di Kabupaten Jembrana. Setiap dapur akan melayani rata-rata 3.000 orang penerima manfaat.
Dandim 1617/Jembrana, Letkol Inf M. Adriansyah menjelaskan bahwa Kabupaten Jembrana menjadi salah satu wilayah dengan capaian MBG paling luas di Bali. Saat ini, sudah ada 17 dapur sehat yang melayani siswa penerima manfaat. Selain siswa, layanan juga diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).
Pertengahan bulan ini, dua dapur baru akan diresmikan, sehingga total dapur yang beroperasi akan mencapai 19 unit. Selanjutnya, rencananya bakal ada tiga dapur tambahan dibuka melalui kerja sama dengan Pemkab Jembrana melalui Perumda, dari TNI di dekat Batalyon 741/GN, serta satu dari Yayasan mandiri. Dengan begitu, total 22 dapur ditargetkan beroperasi penuh untuk melayani masyarakat.
Selain menyasar siswa, MBG ini juga sudah mulai diberikan kepada B3 yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Tentunya dengan penambahan dapur, cakupannya juga semakin luas.
Penyebaran SPPG dan Sasaran Penerima Manfaat
Sebanyak 17 unit SPPG untuk program MBG di Kabupaten Jembrana telah dibangun. Layanan tersebut tidak hanya menyasar siswa atau anak sekolah, namun juga diberikan kepada ibu hamil, menyusui, dan balita (3B). Total warga yang menjadi penerima manfaat program MBG di Kabupaten Jembrana hampir 60 ribu orang.
Total penerima manfaat program MBG di Kabupaten Jembrana sebanyak 58.570 orang. Sebanyak 55.051 siswa dan 3B sebanyak 3.519 orang mulai dari Kecamatan Pekutatan hingga Melaya. Sasaran per satu dapur sehat mulai dari 2.500 orang hingga 3.700 orang.
Beberapa contoh dapur sehat dan sasaran penerima manfaat:
– Di Desa Baluk oleh Yayasan Amerta Jaya Utama dengan sasaran 3.695 siswa dan 3B sebanyak 200 orang.
– Di Tegal Badeng Barat oleh Yayasan Bali Mandiri Nusantara dengan sasaran 3.546 siswa dan 3B sebanyak 300 orang.
– Di Desa Ekasari oleh Yayasan Vasti Kusuma Dewata dengan sasaran 3.401 siswa.
– Di Perancak Yayasan Danu Amerta Sujati dengan sasaran 3.563 siswa dan 3B sebanyak 236 orang.
– Di Baler Bale Agung 1 oleh Yayasan Bali Amerta Yoga dengan sasaran 2.590 siswa dan 3B sebanyak 387 orang.
– Di Kelurahan Pendem oleh Yayasan Jana Kerti 2 dengan sasaran 3.333 siswa.
– Di Desa Dangin Tukadaya oleh Yayasan Anak Sehat 08 dengan sasaran 2.274 siswa.
– Di Gilimanuk oleh Yayasan Anak Sehat 08 dengan sasaran 3.493 siswa.
– Di Baluk oleh Yayasan Cahaya Bali Catering dengan sasaran 3.421 siswa.
– Di Kelurahan Lelateng oleh Yayasan Boga Bahagia dengan sasaran 3.422 siswa dan 3B sebanyak 399 orang.
– Di Kelurahan Dauhwaru oleh Yayasan Kemala Bayangkari dengan sasaran 3.490 siswa.
– Di Pendem oleh Yayasan Jana Kerti 1 dengan sasaran 3.348 siswa dan 3B sebanyak 290 orang.
– Di Desa Dangin Tukadaya oleh Yayasan Tiga Srikandi dengan sasaran 3.091 siswa dan 3B sebanyak 245 orang.
– Di Pekutatan oleh Yayasan Prabu Center 08 dengan sasaran 3.541 siswa dan 3B sebanyak 245 orang.
– Di Desa Air Kuning oleh Yayasan Al Isyaroh Mulia dengan sasaran 2.167 siswa dan 3B sebanyak 774 orang.
– Di Baler Bale Agung (2) oleh Yayasan Al Isyaroh Mulia dengan sasaran 3.274 siswa.
– Di Pengambengan oleh Yayasan Boga Basmalah Basyarah dengan sasaran 3.402 siswa.
Letkol Inf M. Adriansyah menyebutkan, di Kabupaten Jembrana membutuhkan sebanyak 22 dapur sehat atau SPPG untuk melayani semua siswa dan juga tambahan 3B. Khusus untuk sasaran 3B tersebut diberikan dua kali seminggu.
Pelatihan dan Standar Kualitas Dapur SPPG
Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) dalam rangka peningkatan kualitas penyediaan makanan. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Pajajaran Suite, Kota Bogor, Jawa Barat, ini diikuti oleh 500 orang yang bertugas di 10 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari berbagai daerah.
Deputi Penyediaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional, Sawin, mengungkapkan bahwa pelaksanaan pelatihan ini merupakan langkah awal menuju standardisasi nasional dalam penyelenggaraan dapur sehat SPPG. Pelatihan ini untuk mencegah dugaan keracunan MBG.
Materi pelatihan difokuskan pada penerapan higienitas, sanitasi pangan, keamanan pangan, penyusunan menu bergizi seimbang, serta manajemen dapur sehat. Para peserta dibekali materi yang langsung disampaikan oleh narasumber dari Kementerian Kesehatan, BPOM, termasuk dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia.
BGN mendorong seluruh dapur SPPG di Indonesia untuk segera melengkapi diri dengan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Sertifikat Halal sebagai bentuk komitmen terhadap mutu dan kepercayaan publik.
Pengawasan dan Standar Sanitasi yang Ketat
Dandim 1617/Jembrana, Letkol Inf M. Adriansyah menegaskan, pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jembrana akan lebih ketat dengan pemberlakuan tujuh aturan baru. Beberapa poin aturan di antaranya adalah kewajiban setiap dapur memiliki sertifikasi kesehatan dan sertifikasi halal.
Pengawasan akan dilakukan melalui mekanisme pengecekan acak oleh aparat TNI-Polri, khususnya Polri, dengan dasar payung hukum yang jelas. Ia juga mengimbau seluruh masyarakat, khususnya orang tua siswa dan pihak sekolah, untuk segera melapor jika menemukan makanan yang tidak layak agar segera ditindaklanjuti oleh dapur yang memberikan layanan.
SPPG Polri menerapkan standar sanitasi yang ketat demi memastikan program MBG aman dan higienis bagi siswa penerima manfaat. Proses pencucian alat masak hingga ompreng atau food tray dilakukan berlapis, mulai dari pembersihan sisa makanan, pencucian dengan tiga tahap, hingga pengeringan menggunakan oven steril.
Kepala SPPG Polri Pejaten, M Iqbal Salim menjelaskan, setiap alat masak dan wadah makanan baru dibawa ke tempat cuci setelah melalui pemilahan sisa makanan. Di tempat pencucian, tersedia tiga keran untuk membilasnya. Sanitasi di SPPG Polri diawasi secara berkala oleh Dinas Kesehatan melalui Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL).
SPPG Polri juga telah mengantongi berbagai sertifikasi. Kemudian untuk higiene sanitasi tentu didukung juga dengan sertifikat laik higiene sanitasi dan juga beberapa sertifikat seperti ISO 2018. Kemudian, ada penerapan HCCP, GMP, dan BRC. Anggota Bidang Pengawasan Gizi dan Makanan Gugus Tugas MBG Mabes Polri, drg. Tetty Seppriyanti, mengingatkan potensi keracunan bisa muncul dari ompreng yang tidak bersih atau penggunaan air sumur yang terkontaminasi mikroba berbahaya.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memuji langkah Polri dalam menjaga mutu program MBG. Ia menilai fasilitas dan prosedur yang diterapkan SPPG Polri dapat menjadi contoh bagi dapur MBG lainnya. Menurutnya, berdasarkan instruksi presiden, seluruh dapur SPPG nantinya juga akan dilengkapi alat rapid test untuk menjaga kualitas makanan.
