KORAN – PIKIRAN RAKYAT – Bayangkan sebuah sore biasa di pinggir jalan Magelang, Jawa Tengah. Sebuah mobil Hyundai terparkir diam, mesin mati, tapi lampu kota masih menyala. Di dalamnya, sepasang suami istri asal Sleman, ER (31) dan IM (27) yang sedang hamil tujuh bulan, ditemukan tak bernyawa. Awalnya, orang mengira kecelakaan atau pembunuhan. Tapi, setelah diselidiki polisi, penyebabnya terungkap: keracunan karbon monoksida (CO). Saluran gas buang mobil patah, membuat gas beracun bocor ke kabin. Kadar CO mencapai 570, jauh di atas batas aman 115.
Kisah tragis yang terjadi pada 17 Februari 2025 dan dimuat di berbagai media ini, bukan sekadar berita lokal. Kejadian ini jadi pengingat betapa mematikannya “pembunuh tak terlihat” ini, yang bisa menyelinap ke rumah atau kendaraan tanpa disadari.
Karbon monoksida adalah gas tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa. CO lahir dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar seperti gas alam, bensin, kayu, atau arang. Di rumah, sumbernya bisa dari pemanas air, kompor gas, perapian kayu, atau generator portabel yang salah digunakan.
Di luar, seperti kasus di Magelang, knalpot mobil atau truk yang rusak bisa jadi biang keladi. Menurut para ahli, CO menggantikan oksigen dalam darah, membuat jantung, otak, dan organ lain kelaparan oksigen.
Dilansir laman UK Health Security Agency, di Amerika Serikat saja, CO menjadi penyebab utama kematian akibat racun, dengan ribuan kasus setiap tahun. Di Inggris dan Wales, sekitar 20 orang tewas tiap tahun karena keracunan CO yang tak disengaja, terutama di musim dingin saat pemanas lebih sering dinyalakan dan jendela tertutup rapat.
Gejala
Gejala keracunan CO sering disalahartikan sebagai flu biasa, itulah yang membuatnya berbahaya. Mulai dari sakit kepala, pusing, mual, lemas, hingga sesak napas.
Dilansir laman UF Health, pada tingkat sedang, seseorang bisa mengalami kebingungan, iritabilitas, atau kehilangan kesadaran. Yang parah, bisa koma, kejang, atau henti napas. Anak kecil, lansia, penderita penyakit jantung atau paru, perokok, dan ibu hamil lebih rentan. Bayi dalam kandungan IM, misalnya, kemungkinan besar terdampak lebih dulu karena CO mudah menembus plasenta. Hewan peliharaan sering jadi korban pertama—mereka lemas atau tak responsif sebelum manusia merasakan apa-apa. Jika gejala muncul dan hilang tergantung ruangan, atau membaik saat keluar rumah, itu tanda kuat keracunan CO.
Kasus di Magelang bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa terjadi karena kelalaian sederhana, seperti menyalakan mobil di garasi tertutup, membakar arang di ruang sempit, atau menggunakan kompor camping di tenda. Di musim hujan atau dingin, risiko naik karena ventilasi buruk. Di rumah, boiler gas yang tak diservis tahunan bisa bocor CO, atau cerobong asap yang tersumbat membuat gas terperangkap. Tanda peringatan? Api gas yang kuning lembek alih-alih biru tajam, noda hitam di dinding dekat pemanas, atau embun berlebih di jendela. Jika melihat itu, matikan alat segera, buka pintu dan jendela, lalu keluar rumah.
Solusi
Untungnya, mencegah keracunan CO tak serumit yang dibayangkan. Langkah utama adalah pasang alarm CO di setiap ruangan dengan alat pembakar bahan bakar, seperti kamar dengan boiler atau perapian. Di Inggris, hanya 46% rumah punya alarm ini pada 2020—jangan jadi bagian dari statistik itu. Pilih alarm standar BS EN 50291-1, tes rutin, dan ganti baterai. Pemilik rumah sewa wajib memasangnya. Selain itu, servis alat gas tahunan oleh teknisi terdaftar, seperti Gas Safe di Inggris.
Langkah kedua, jaga ventilasi. Buka jendela saat memasak, jangan pakai generator atau BBQ di dalam ruangan, dan sapu cerobong secara rutin. Di kendaraan, periksa knalpot secara berkala—jangan biarkan rusak seperti mobil korban di Magelang.
Jika sudah terpapar, waktu adalah musuh utama. Segera keluar ke udara segar, matikan sumber CO, dan hubungi bantuan medis. Di ruang gawat darurat, pengobatan bisa berupa oksigen murni melalui masker, cairan intravena, atau terapi oksigen hiperbarik di ruang tekanan tinggi untuk membersihkan darah dari CO. Pemulihan tergantung seberapa lama paparan—bisa lambat, dengan risiko kerusakan otak permanen atau masalah neurologis yang muncul belakangan. Bagi korban seperti ER dan IM, tak ada kesempatan kedua. Itu sebabnya pencegahan jadi kunci: “Setiap kematian akibat CO bisa dicegah,” kata para pakar.
Kisah tragis di Magelang mengajarkan kita untuk tidak menganggap remeh. Di Indonesia, di mana kendaraan dan alat rumah tangga sering tak terawat, risiko ini nyata. Bayangkan keluarga Anda: anak kecil yang bermain di rumah hangat, atau perjalanan panjang di mobil. Jangan tunggu musibah datang.
Karbon monoksida mungkin tak terlihat, tapi dengan langkah sederhana, kita bisa membuatnya tak berdaya. Hidup aman bukan soal keberuntungan, tapi kesadaran. ***
