Pembela Kapal Marinette: Dari Lautan ke Gaza, Kami Tak Akan Melupakanmu

Posted on

Perjalanan Kapal Marinette dalam Misi Global Sumud Flotilla

Pada hari Rabu, 1 Oktober 2025, di tengah perairan Laut Mediterania, Kapal Marinette berjuang untuk mencapai tujuan akhirnya, yaitu Gaza. Dari haluan kapal tersebut, Omer Faruk Narli, seorang aktivis dari Turki, mengangkat tangan dan meneriakkan janji bagi rakyat Palestina. “Dari lautan untuk Gaza. Kami tidak akan pernah membiarkanmu dilupakan. Ini adalah suara kemanusiaan,” ujarnya.

Kapal Marinette adalah salah satu dari lima armada yang dibeli oleh Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) dalam upaya mendukung misi pelayaran akbar Global Sumud Flotilla. Misi ini bertujuan untuk menembus blokade Gaza dengan membawa bantuan logistik dan obat-obatan bagi masyarakat Palestina yang sudah terkurung selama 25 bulan.

Kapal Marinette menjadi armada terakhir yang masih berjuang untuk sampai ke Gaza. Meskipun sempat tertinggal dari barisan konvoi, kapal ini tetap melaju meskipun mesinnya mulai mengalami masalah. Pada malam hari, ketika tentara Zionis Israel mulai mengepung konvoi, Kapal Marinette masih berada di kawasan R3, jauh dari titik aman.

Pada Kamis pagi, 2 Oktober 2025, Kapal Marinette terpaksa berhenti karena mesinnya mati. Para tentara Zionis Israel kemudian mendekati kapal tersebut dan membajaknya. Enam aktivis kemanusiaan yang ada di dalam kapal itu ditangkap. Salah satu dari mereka, Omer Faruk, sempat meneriakkan janjinya: “Tidak ada satupun yang bisa menghentikan kami untuk kalian yang ada di Gaza. Apapun risikonya, Palestina harus merdeka.”

Penangkapan dan Kondisi Relawan

Sebanyak 512 relawan dan aktivis dari 47 negara disandera oleh tentara Zionis Israel. Beberapa di antaranya adalah tokoh-tokoh ternama seperti Greta Thunberg dari Swedia, Thiago Avila dari Brasil, dan Mandla Mandela dari Afrika Selatan. Mereka diculik dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod, lalu diikat dan diperlakukan kasar selama beberapa jam.

Tim hukum Adalah, yang terdiri dari 72 pengacara dari berbagai negara, telah berhasil menemui para sandera setelah melalui perdebatan selama sembilan jam. Tim ini memberikan pendampingan hukum dan meminta jaminan keselamatan bagi semua peserta pelayaran. Meskipun otoritas Zionis Israel awalnya menolak akses, akhirnya tim hukum tersebut dapat masuk.

Menurut laporan tim Adalah, para relawan dan aktivis yang diculik diperlakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Mereka dipaksa berlutut dengan tangan diikat kabel selama lebih dari lima jam. Namun, para peserta tetap melawan dengan meneriakkan “Merdeka Palestina” meskipun dalam kondisi lelah dan kantuk.

Menteri Keamanan Negara Penjajahan Zionis Israel, Itamar Ben-Gvir, dikabarkan mendatangi para aktivis tersebut dan menyampaikan penghinaan serta ungkapan rasisme. Namun, para relawan tetap teguh dan tidak gentar. Mereka terus meneriakkan dukungan untuk Palestina meskipun dalam situasi sulit.

Kritik Internasional atas Tindakan Zionis Israel

Gelombang protes dan amarah publik terjadi di seluruh dunia sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan Zionis Israel. Demonstrasi besar-besaran digelar di berbagai kota, termasuk Berlin, Tunisia, Australia, Irlandia, Indonesia-Malaysia, Meksiko, Amerika, Paris, dan Spanyol. Semua protes menyuarakan kecaman terhadap pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Zionis Israel.

Seluruh dunia mendesak agar tindakan kekerasan dan genosida terhadap rakyat Palestina dihentikan. Mereka juga meminta agar seluruh relawan dan aktivis kemanusiaan yang disandera segera dibebaskan. Steering Committee Global Sumud Flotilla menyampaikan bahwa tim hukum Adalah telah berhasil menemui 331 relawan dan aktivis yang diculik.

Tim Adalah juga memastikan bahwa Zionis Israel tidak boleh sembarangan memperlakukan para relawan dan aktivis. Mereka menuntut agar hak-hak dasar para peserta pelayaran dihormati dan dijamin keselamatannya.

Harapan untuk Palestina

Meskipun banyak armada yang dibajak dan para aktivis disandera, semangat untuk membantu rakyat Palestina tetap tinggi. Mereka percaya bahwa perjuangan ini adalah bagian dari perjuangan global untuk keadilan dan kemerdekaan. Dengan semangat dan tekad yang kuat, mereka tetap melanjutkan perjalanan meskipun dalam kondisi sulit.

Global Sumud Flotilla tetap menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan dan kekerasan. Dengan dukungan dari seluruh dunia, harapan untuk keadilan dan perdamaian di Gaza tetap hidup.