Pelatih-Pemilik PSM Makassar dan Unhas: Dari Bursa Transfer hingga Pembinaan Pemain Muda

Posted on

Peran Kepemimpinan dalam Institusi Pendidikan dan Olahraga

Om Denun memulai tulisannya tentang Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan diksi “ontologi”. Judulnya, Mengapa Harmonisasi Pembangunan Daerah Harus Melibatkan Universitas. Tulisan ini nampang di Tribun Timur edisi 20 Januari 2026. Opini itu juga dimuat di pasarmodern.com. Om Denun itu hanya panggilan orang khusus kepada Kamaruddin Azis. Dia aktivis lingkungan yang kadang mengaku dirinya sebagai “suami” terumbu karang.

Om Denun membawa saya menerawang bangku kuliah. Terbayang Pak Alwy Rachman, Pak Ishak Ngeljaratan, Pak Anwar Ibrahim, Pak Suparlan Suhartono, Kak Yahya, Prof Darmawan Salman menjelaskan: antologi, epitimologi, dan aksiologi.

Tulisan Om Denun itu menjadi dasein reflektif saat Unhas baru saja menetapkan Rektor periode 2026–2030. Ia hadir sebagai ke-ada-an yang menandai momentum. Dari sana, upaya menuju kehadiran yang lebih bermakna dimulai.

Entah! Yang jelas ada tiga momen pergantian kepemimpinan yang menyita perhatian publik nyaris bersamaan. Pergantian pelatih PSM Makassar dari Bernardo Tavares ke Tomas Trucha (Coach TT), penetapan John Herdman (Coach JH), dan oppo’nya Prof Jamaluddin Jompa (Prof JJ) sebagai Rektor Unhas.

Coach TT, Coach JH, maupun Prof JJ sama-sama diberi mandat empat tahun kepemimpinan. Tapi Coach TT dan Coach JH masih memiliki peluang perpanjangan kontrak setelah evaluasi kinerja pada fase dua dan empat tahun. Prof JJ sebagai Rektor Unhas bersifat final hingga 2030. Setelahnya, ruang pengabdian lain terbentang: menteri atau gubernur. Bisa juga Prof JJ sudah diadang beberapa opsi-opsi menggoda itu sebelum masa 4 tahun berakhir.

Oh! Om Denun juga mengingatkan bahwa pergantian pemimpin dalam organisasi selalu membawa pertanyaan inti: apa hakikat institusi itu sendiri, bagaimana ia belajar dari pengalaman, dan nilai apa yang hendak dijaganya?

Kompleksitas Tim dan Tantangan Awal

Dalam konteks PSM Makassar, semua ini tidak sekadar soal figur pelatih, tetapi tentang bagaimana klub besar di Indonesia itu memahami dirinya sebagai institusi publik sepak bola di tengah dinamika kompetitif dan ekspektasi suporter yang keras.

PSM dan Unhas memang susah dipisahkan. Keduanya sering disebut “Ayam Jantan dari Timur”. Mereka yang diamanahi memimpin di dua institusi ini harus siap berhadapan dengan segala cuaca ekstrem.

Ontologis Unhas adalah ruang penyelidikan kritis terhadap realitas. Itu yang ditegaskan Om Denun. Secara epistemologis, Unhas bekerja melalui produksi pengetahuan yang rasional, terbuka, dan dapat diuji secara intersubjektif, Lalu aksiologinya diarahkan pada emansipasi manusia, kepentingan publik, dan tanggung jawab etis peradaban.

Jika universitas adalah ruang penyelidikan kritis, maka PSM Makassar mengada sebagai ruang perjuangan kolektif dan identitas kultural. PSM bukan sekadar tim sepak bola, melainkan ekspresi keberanian, martabat, dan daya tahan orang Sulawesi Selatan.

Ontologi PSM bukan hanya hasil pertandingan. Bukan hanya entitas bisnis olahraga. Melainkan simbol perlawanan daerah terhadap dominasi pusat serta representasi etos siri’, pacce, dan keteguhan. PSM mengada bukan untuk sekadar bermain, tetapi untuk bertarung dengan harga diri.

Jika universitas berpengetahuan lewat kritik, maka epistemologi PSM adalah belajar melalui pengalaman, kegagalan, dan evaluasi kolektif. Pengetahuan lahir dari lapangan, bukan retorika. Taktik diuji dalam tekanan. Mental diuji dalam ketertinggalan dan kemenangan. Karakter diuji dalam ketidakadilan. Bagi PSM, kemenangan tanpa karakter adalah kosong, karakter tanpa evaluasi adalah keras kepala. Pengetahuan bersifat praksis dan kolektif diwariskan dari senior ke junior, dari tribun ke ruang ganti, dari sejarah panjang sejak 1915.

Epistemologi PSM bukan karya ilmiah tentang strategi mewah tapi ingatan kolektif tentang bagaimana bertahan tanpa fasilitas mewah, kritik internal sebagai sumber kemajuan. Sama seperti Rektor Unhas, pelatih PSM juga dikritik. Manajemen dievaluasi. Pemain ditantang secara mental. Sebab, tanpa kritik, PSM akan berubah menjadi mitos masa lalu tanpa daya saing hari ini.

Jika universitas bernilai pada emansipasi, maka PSM bernilai pada martabat, harapan, dan kebanggaan kolektif masyarakat Sulsel. PSM bukan sekadar hiburan. PSM tempat orang kecil berharap, simbol bahwa daerah bisa berdiri sejajar, ruang sublimasi emosi sosial, dan sumber kebahagiaan. Aksiologi PSM rusak ketika klub dijadikan alat politik, identitas dijual demi sponsor, dan sejarah dikorbankan demi hasil instan. PSM bernilai ketika membesarkan pemain lokal, menjaga kedekatan dengan suporter, setia pada watak “keras bukan berarti kasar, cepat bukan berarti monoton, berseni bukan berarti tari-tarian” Watak ini selalu diingatkan Coach Syamsuddin Umar.

Sebagai klub tertua di Indonesia, PSM memikul beban sejarah, menjadi teladan etika kompetisi, dan menjaga sepak bola tetap manusiawi.

Dari Tavares ke Trucha

Tim PSM sudah melewati pergantian kepemimpinan. Setelah kolaborasi panjang dengan Bernardo Tavares, klub kini diasuh Coach TT sebagai pelatih kepala. Setiap pergantian pelatih, terutama dalam konteks klub besar dengan sejarah dan basis suporter kuat, selalu menjadi momen refleksi organisasi: apakah pergantian itu sekadar perubahan figur atau momentum membangun sistem baru yang lebih adaptif?

Peralihan seperti ini mirip dengan perubahan kepemimpinan di institusi lain: tidak cukup mengganti nama, tetapi juga menguatkan kapasitas belajar tim. Seperti perguruan tinggi yang tidak hanya mengganti rektor, tetapi juga memperbaiki tata cara akademik agar relevan dan progresif.

Dalam arena sepak bola modern, pelatih tidak hanya berfungsi sebagai manajer taktik, tetapi juga produsen narasi sosial yang membentuk cara kemenangan dan kekalahan dimaknai secara kolektif. Perbedaan gaya kepemimpinan Tavares dan Trucha memperlihatkan bagaimana narasi kepelatihan berperan sebagai mekanisme regulasi emosi, stabilisasi loyalitas, dan reproduksi rezim makna kolektif suporter.

PSM juga sempat mencatat dinamika pelik di jendela transfer tengah musim di Liga Super 2025-2026. Yakinlah banyak klub lain mengalami hal serupa. Tapi tidak sehingar-bingar PSM Makassar di media sosial. Manajemen PSM Makassar bergerak senyap menyelesaikannya.

Di tengah isu transfer dan kebutuhan kompetitif, PSM melakukan langkah yang mesti dibaca secara saksama: meminjamkan sejumlah pemain muda untuk kesempatan menit bermain yang lebih banyak. Talenta muda seperti Muhammad Arham Darmawan, Karel Rizald Iek, dan Muhammad Ardiansyah disepakati status peminjamannya hingga akhir musim. Tujuannya: mendorong jam terbang kompetitif mereka.

Langkah itu bukan sekadar mengurangi beban daftar pemain tim utama. Lebih jauh. Ia menggambarkan pemahaman institusional bahwa pembinaan talenta tidak bisa berhenti hanya karena kebutuhan skor jangka pendek. Para pemain yang sulit menembus rotasi utama di bawah skema tim pelatih kini mendapatkan peluang berlaga lebih sering di tingkat kompetisi lain, sehingga pengalaman mereka tetap bertumbuh.

Coach sebagai Metafor Kepemimpinan

Bagaimana semua bagian ini disatukan? Melihat PSM sebagai institusi berarti menjauh dari frame pemikiran bahwa pelatih atau manajer adalah “owner” yang menentukan segalanya dari atas ke bawah. Paradigma yang lebih sehat adalah memandang figur kepelatihan dan manajemen klub sebagai coach: fasilitator proses, penjaga visi kolektif, dan pembentuk sistem belajar yang adaptif.

Seorang coach tidak larut memenungkan skuad hari ini. Ia membaca data, memaksimalkan potensi yang ada, memberi ruang bagi pemain muda berkembang, dan belajar dari kesalahan serta kondisi eksternal seperti sanksi atau bursa yang tidak bebas. Dalam institusi pendidikan, sosok rektor laiknya berperan seperti coach: memberi ruang untuk kritik, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan. Di sepak bola, pelatih seperti Trucha, berada di tengah dinamika internal klub, berhadapan dengan tantangan yang sama: membangun atmosfer belajar dalam tim.

Menyikapi pergantian pelatih dan strategi peminjaman pemain, bukan hanya soal hasil akhir di klasemen Liga Super. Ini tentang bagaimana PSM mempertahankan nilai pembinaan generasi, menjaga harapan suporter tanpa mengorbankan masa depan pemain muda, dan menerjemahkan pengalaman kompetitif mereka menjadi modal jangka panjang.

Nilai keberlanjutan, kesempatan, dan pembelajaran berkelanjutan menjadi inti aksiologis dari perjalanan PSM musim ini. Sama seperti perguruan tinggi yang menilai dirinya tidak hanya dari jumlah publikasi atau peringkat, tetapi dari dampak pengetahuan dan kualitas lulusannya.

PSM Makassar berada di persimpangan penting: menghadapi tekanan kompetitif, memaksimalkan masa transfer, dan kebutuhan untuk menyiapkan masa depan melalui pemain muda. Pendekatan yang membumi, reflektif, dan berbasis sistem menjadi kunci agar Ayam Jantan dari Timur terus berkembang sebagai institusi, bukan sekadar entitas skor.

Di mata suporter yang fanatik sekaligus kritis, proses inilah yang kelak akan membentuk klub bukan hanya menjadi “tim yang menang”, tetapi menjadi organisasi yang belajar, berkembang, dan tetap setia pada makna sejarahnya sendiri.

Berselancar dengan “Kapan”!

Walhasil! Baik di kampus maupun di lapangan hijau, kepemimpinan yang dibutuhkan hari ini bukan figur yang selalu benar, melainkan figur yang mau belajar bersama institusinya. Seorang rektor tidak sedang memiliki universitas, sebagaimana seorang pelatih tidak sedang memiliki tim. Keduanya sedang dipercaya merawat proses.

Dalam konteks ini, peran pemimpin adalah menjaga ritme, arah, dan etos. Mengerti kapan harus menyerang dan kapan mesti bertahan. Tahu kapan harus mengejar hasil cepat dan kapan harus bersabar membangun fondasi. Paham kapan harus tampil di depan dan kapan memberi ruang bagi aktor lain untuk bertumbuh.

Perguruan tinggi dan sepak bola mungkin bergerak di arena berbeda, tetapi keduanya berbagi tantangan yang sama: bagaimana tetap setia pada maknanya di tengah tekanan hasil dan ekspektasi publik.

Ketika rektor belajar dari cara kerja seorang coach, dan ketika pelatih sadar bahwa ia sedang membangun institusi, bukan sekadar mengejar skor, di situlah kepemimpinan menjadi proses yang mendidik. Bukan sekadar memerintah. Dan di situlah publik menemukan alasan untuk percaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *