Pasar Nikel Tumbang, Stok Bijih Melimpah

Posted on

Kondisi Pasar Nikel yang Menurun dan Dampaknya pada Industri

Pasar nikel di Indonesia menghadapi tantangan berat akibat lesunya permintaan dan anjloknya harga global. Hal ini memengaruhi utilitas smelter dalam negeri, sehingga penyerapan bijih nikel domestik menjadi tidak optimal. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyatakan bahwa pemangkasan produksi oleh sejumlah smelter telah menyebabkan menumpuknya stok bijih nikel.

Dewan Penasihat APNI Djoko Widajatno menjelaskan bahwa kuota produksi bijih nikel yang disetujui pemerintah pada 2025 mencapai 364 juta ton, namun serapan industri masih di kisaran 120 juta ton. “Penyerapan oleh industri, khususnya smelter, lebih rendah dari kuota tersebut hingga pertengahan tahun ini,” ujarnya.

Beberapa smelter tercatat mengurangi produksinya, termasuk:

  • PT Gunbuster Nickel Industry (GNI): Mengurangi 15-20 lini produksi sejak awal tahun 2024. Pada tahun lalu, tercatat 28 smelter ditutup, terbanyak dari PT GNI.
  • PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS): Menghentikan beberapa lini baja nirkarat dan jalur cold rolling sejak Mei 2025.
  • PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI): Di Konawe, mengurangi kapasitas produksi meski data jumlah lini spesifik tidak tersedia.
  • PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI): Mengurangi kapasitas agregat dan menghentikan operasional sementara sejak 15 Juli 2025.

Menurut Djoko, sampai hari ini belum ada perubahan informasi mengenai peningkatan produksi dari keempat smelter tersebut. Selain itu, beberapa perusahaan juga mengimpor bijih nikel dari Filipina.

Tekanan Harga dan Pasar

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa penumpukan stok bijih nikel tak lepas dari kondisi pasar global. Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Sesditjen Minerba) Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilowati mengatakan, penumpukan stok terjadi karena harga nikel yang sedang anjlok seiring melemahnya permintaan.

“Dalam situasi harga rendah, sebagian smelter dapat memilih melakukan penyesuaian atau penghentian operasi sementara sebagai keputusan bisnis,” jelas Siti.

Menurut Siti, risiko terkait fluktuasi harga komoditas dan kondisi pasar menjadi tanggung jawab pelaku usaha. Namun, pemerintah tetap melakukan langkah pengaturan produksi secara berkala untuk menjaga keseimbangan supply–demand dan kegiatan pertambangan yang berkelanjutan.

Selain itu, Siti juga menyoroti potensi menumpuknya stockpile bijih nikel terhadap penerimaan negara. Dia mengatakan, pihaknya saat ini masih memantau karena penerimaan sangat dipengaruhi oleh realisasi produksi, penyerapan oleh smelter, serta harga jual mineral.

Bukan Gangguan Serius

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai penumpukan bijih nikel bukan merupakan tanda adanya gangguan serius dalam industri. Ketua Umum FINI Arif Perdanakusumah mengatakan, kondisi penumpukan stockpile merupakan bagian normal dari operasional penambangan dan pengolahan.

“Itu bagian dari perencanaan tambang, proses pencampuran, keberlanjutan produksi, serta memastikan suplai tidak terputus dari tambang ke smelter atau refinery,” ujar Arif.

Terkait dampaknya terhadap hilirisasi, Arif menegaskan bahwa pasokan bijih nikel justru merupakan aspek paling krusial untuk menjaga keberlanjutan industri hilir. “Kesulitan pasokan dan kelangkaan bijih nikel dapat sangat berdampak secara operasional dan memicu kenaikan biaya produksi,” katanya.

Arif juga menepis anggapan bahwa kondisi stockpile saat ini berpotensi membuka kembali keran ekspor bijih nikel. Dia menegaskan bahwa larangan ekspor yang berlaku sejak Januari 2020 merupakan kebijakan strategis yang harus dipertahankan.

Proyeksi Pasar Nikel ke Depan

FINI memproyeksikan kondisi oversupply atau kelebihan pasokan nikel akan berlanjut hingga 2027. Hal ini seiring dengan pasar stainless steel yang diperkirakan baru akan pulih 2 tahun ke depan.

Arif menyebut, oversupply nikel ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi hingga 5 kali lipat dalam 5 tahun terakhir. Kapasitas produksi nikel saat ini mencapai 2,5 juta ton, dengan penggunaan dominan untuk stainless steel sebesar 70% dan baterai sebesar 15%.

Oversupply nikel masih akan terjadi pada tahun depan lantaran kondisi perekonomian dunia yang membuat pasar masih lesu. Pada 2027, Arif melihat oversupply mulai susut menyeimbangkan demand atau permintaan. Dari 2027, pihaknya memperkirakan mulai terjadi defisit antara kebutuhan dan produksi eksisting untuk penggunaan stainless steel.