Perubahan Perilaku Terduga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Ketua RT di lingkungan tempat tingunggal terduga pelaku ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, mengungkapkan perubahan perilaku FN sejak duduk di bangku SMA. Dulu, saat masih bersekolah di SMP, FN dikenal sebagai sosok yang ramah dan sering bermain bersama teman-temannya di sekitar kompleks. Namun, setelah pindah ke jenjang SMA dan tinggal bersama ayahnya di Kelapa Gading, perilakunya mulai berubah menjadi lebih tertutup.
Danny Rumondor, ketua RT tersebut, menjelaskan bahwa FN sudah tinggal selama sekitar tujuh tahun bersama ayahnya di salah satu rumah di kompleks tersebut. Selama ini, FN dikenal sebagai sosok yang tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar. “Sama warga sini juga benar-benar nggak ada sosialisasi,” katanya.
FN jarang terlihat oleh tetangga kecuali saat pergi ke sekolah. Ia biasanya dibonceng ayahnya dan tidak pernah ikut bermain bersama anak-anak lainnya. Selain itu, sikap FN terhadap pemilik rumah juga menjadi sorotan. FN tidak pernah menyapa dan terkesan tidak memiliki tata krama. “Katanya sejak SMA dia lebih banyak di kamar, jarang keluar rumah, bahkan sama orang rumah juga jarang ngobrol,” kata Danny.
Rekaman CCTV
Sebelum melakukan aksinya, FN terekam dalam rekaman CCTV di lingkungan rumahnya saat dibonceng ayahnya ke sekolah pada Jumat (7/11/2025) pagi beberapa jam sebelum kejadian. Dalam rekaman tersebut, FN terlihat mengenakan seragam sekolah, yakni celana panjang putih dengan seragam batik sekolahnya yang didominasi warna merah. Dari tangkapan layar, ia juga terlihat membawa dua tas.
Satu tas ransel merah yang berada di punggung, sementara satu tas lainnya berukuran cukup besar berwarna biru, dipangkunya ketika dibonceng di jok belakang. Dari tangkapan layar itu juga terlihat bahwa ada perbedaan pakaian yang dikenakan terduga pelaku sebelum dan sesaat setelah kejadian. Ketika dibonceng di motornya itu, ia masih mengenakan seragam sekolahnya dengan celana putih. Sementara setelah kejadian, FN ditemukan terkapar di samping senjata mainannya, dengan mengenakan celana panjang hitam dan kaos putih.
Pakar Ungkit Bullying
Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, mengungkit bullying sebagai kemungkinan penyebab aksi FN. Menurutnya, peristiwa di SMAN 72 adalah bukti tambahan tentang bagaimana kita terlambat menangani perundungan. Keterlambatan itu membuat korban akhirnya bertarung sendirian dan bergeser statusnya menjadi pelaku kekerasan.
Reza menjelaskan bahwa sembilan puluhan persen anak yang menjadi pelaku bullying ternyata juga berstatus sebagai korban. Ia menyarankan agar bullying ditinjau sebagai agresi berkepanjangan dari anak-anak yang mengekspresikan dirinya dengan cara berbahaya. Menurutnya, bullying harus dicegat secepat dan seserius mungkin.
Kondisi Terduga Pelaku
Polisi mengungkapkan bahwa terduga pelaku telah sadar dan tengah menjalani perawatan intensif di ruang ICU salah satu rumah sakit. Polisi memastikan kondisi pelajar tersebut kini berangsur stabil setelah sempat mengalami luka di bagian kepala. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Bhudi Hermanto, menyampaikan bahwa pelajar terduga pelaku saat ini dirawat di ruang ICU.
Luka pasti di bagian kepala, dan ada luka goresan. Dalam proses penyelidikan, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), penyitaan barang bukti, dan penggeledahan di rumah terduga pelaku. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah barang bukti yang memiliki kesesuaian dengan temuan di lokasi ledakan.
Polisi turut melibatkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta tim trauma healing untuk membantu pemulihan psikis para korban dan terduga pelaku. Proses hukum tetap dijalankan dengan memperhatikan aspek perlindungan anak. Oleh karena itu, kepolisian masih mengutamakan pemulihan medis, baik secara fisik maupun psikis, bagi seluruh korban terdampak serta bagi siswa yang diduga menjadi pelaku.
Data terbaru menyebutkan, jumlah korban akibat ledakan di SMAN 72 Jakarta mencapai 96 orang. Dari jumlah tersebut, 29 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 67 lainnya telah dipulangkan ke rumah dalam kondisi membaik.
