Orang-orang di jalan: Kisah yang tak pernah masuk berita

Posted on

Orang-Orang di Jalan: Kisah yang Tak Pernah Masuk Berita

Jalanan selalu ramai oleh kendaraan dan manusia yang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing, namun di balik keramaian itu ada orang-orang yang menjadikan jalan sebagai ruang hidup mereka, mulai dari bapak tua penjual tisu di lampu merah, ibu yang menggendong anak di trotoar, anak-anak jalanan yang tertawa meski masa depannya penuh ketidakpastian, hingga para pekerja kecil yang menunggu rezeki tanpa jaminan, mereka sering kita lihat setiap hari tetapi jarang kita dengar ceritanya karena kehidupan mereka dianggap biasa dan tidak layak menjadi berita, padahal masing-masing menyimpan kisah tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang terus dipeluk meski hidup terasa tidak adil, banyak dari mereka bukan malas melainkan kehabisan pilihan, sementara kita yang hanya lewat sering lupa bahwa jarak antara hidup nyaman dan hidup di jalan sangatlah tipis, sehingga tulisan ini tidak bermaksud menghakimi atau menyalahkan siapa pun, melainkan mengajak kita untuk berhenti sejenak, melihat dengan hati, dan menyadari bahwa orang-orang di jalan bukan sekadar latar kota, melainkan manusia utuh yang pantas dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan empati meskipun kisah mereka tak pernah masuk berita.

Sering kali kita memilih menunduk atau mempercepat langkah karena merasa tidak punya waktu, tidak punya cukup empati, atau takut terlibat terlalu jauh, padahal sekadar menatap dan mengakui keberadaan mereka sudah menjadi bentuk penghormatan yang jarang mereka terima, sebab bagi orang-orang di jalan, rasa diabaikan sering kali lebih menyakitkan daripada kekurangan materi, mereka hidup berdampingan dengan hiruk-pikuk kota yang terus bergerak maju sementara hidup mereka berjalan di tempat, menghadapi hari yang sama dengan ketidakpastian yang sama, dan meski demikian banyak dari mereka tetap bangun setiap pagi dengan harapan kecil bahwa hari ini akan sedikit lebih baik dari kemarin, sehingga sebagai sesama manusia kita tidak dituntut untuk mengubah hidup mereka secara drastis, tetapi setidaknya belajar tidak memandang rendah, tidak menghakimi dari kejauhan, dan tidak lupa bahwa kemanusiaan sejati lahir dari kepedulian kecil yang dilakukan dengan tulus.

Kota sering membanggakan gedung tinggi, jalan lebar, dan lampu yang terang, tetapi lupa bahwa ukuran kemajuan sesungguhnya terlihat dari bagaimana manusia diperlakukan di ruang publik, sebab orang-orang di jalan bukan sekadar bayangan dalam keramaian melainkan bagian dari denyut kehidupan kota itu sendiri, mereka menyaksikan perubahan zaman dari jarak paling dekat namun menikmati hasilnya dari jarak paling jauh, dan jika kita mau jujur, keberadaan mereka adalah cermin yang mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu merata dan bahwa empati bukanlah sikap mewah, melainkan kebutuhan dasar agar kita tidak kehilangan rasa sebagai manusia di tengah kesibukan dan kenyamanan yang sering kita anggap biasa.

Di tengah rutinitas yang padat, kita sering lupa bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu terlihat dari luar, termasuk mereka yang hidup di jalan dengan pakaian sederhana dan wajah lelah, karena di balik keadaan yang tampak keras itu ada perasaan takut, harap, dan keinginan untuk hidup layak seperti orang lain, sehingga ketika kita memilih bersikap acuh, sesungguhnya kita sedang menutup pintu kecil yang bisa menjaga kemanusiaan tetap hidup, sebab dunia tidak menjadi lebih baik hanya karena teknologi dan pembangunan, tetapi karena manusia masih mau peduli, mau berhenti sejenak, dan mau mengakui bahwa setiap orang, termasuk orang-orang di jalan, berhak diperlakukan dengan hormat dan kasih. 

Mungkin kita tidak selalu mampu memberi lebih, dan mungkin juga tidak semua keadaan bisa kita pahami sepenuhnya, tetapi dengan memilih untuk tidak menutup hati, kita sudah mengambil langkah kecil yang berarti, karena kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk besar atau tindakan heroik, melainkan dalam kesediaan untuk melihat sesama sebagai manusia yang setara, menyadari bahwa hidup bisa berubah kapan saja, dan mengingat bahwa jalan yang hari ini hanya kita lewati, bagi orang lain adalah tempat mereka menggantungkan harapan, sehingga selama empati masih hidup di hati kita, kemanusiaan tidak akan benar-benar hilang meski kisah mereka tetap tak pernah masuk berita.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar tentang orang-orang di jalan, melainkan tentang diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang terus bergerak maju, karena cara kita memandang mereka mencerminkan seberapa jauh hati kita masih mampu merasakan, seberapa besar ruang empati yang kita sisakan di tengah kesibukan, dan seberapa jujur kita mengakui bahwa kemajuan tanpa kepedulian hanya akan melahirkan jarak, sehingga ketika kita memilih untuk tetap manusiawi, sekecil apa pun sikap itu, kita sedang ikut menjaga agar dunia tidak kehilangan wajahnya yang paling penting, yaitu rasa kemanusiaan.