Oleh: Sintus Runesi
Tinggal di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang
PasarModern.com Simone Weil dalam bukunya Waiting for God (2009) menulis bahwa keindahan yang menyentuh jiwa memiliki dimensi sakramental karena membangkitkan kerinduan dan harapan akan kebersatuan atau kebersamaan, bahkan kerinduan akan yang transenden.
Hal ini terjadi saat seseorang secara estetis disentuh hal-hal indah yang memiliki hubungan dengan kehidupannya.
Orang NTT pada umumnya, terutama yang berada jauh di tanah orang, akan terserang campur-aduk sakit rindu saat melihat bunga sepe (flamboyan) yang mulai bermekaran antara akhir Oktober atau awal November.
Orang-orang Romawi antik memakai istilah pietas untuk menyebut campur aduk perasaan bergetar yang bangkit dalam diri karena mengalami keindahan.
Salah satu momen keindahan yang bersifat sakramental adalah momen Natal dengan elemen yang tak tergantikan: berkumpul bersama keluarga diiringi musik yang jelas-jelas bernuansa Kristen serta dekorasinya yang identik dengan natal.
Namun, dalam era kita ini, keindahan seperti itu secara bertahap dikacaukan (kalau tidak mau disebut dihilangkan) oleh rembesan kultus keburukan estetika kontemporer.
Imajinasi natal misalnya, yang dipenuhi harapan akan kehidupan perlahan diambil-alih oleh simplisitas artistik yang ditandai oleh kedangkalan dan keburukan.
Kita melihat di mana-mana pajangan pohon yang diracik dari barang bekas pakai seperti botol dan plastik, atau pinus buatan dengan warna semarak tapi tampak dangkal.
Dalam perspektif Richard Kearney (1988), apa yang dihadirkan sebagai karya estetis yang dilombakan – natal menjadi pasar perlombaan, sebenarnya bergerak menurut logika fungsi produksi dalam kapitalisme negara yang ikut berkontribusi dalam proses pembusukan imajinasi.
Kita tahu, semuanya dimaksudkan untuk memeriahkan natal, tetapi cara tersebut tampak lebih sebagai profanasi atau desakralisasi natal:
proses penumpulan kepekaan kita akan kehadiran yang kudus dalam kehidupan melalui keindahan, meremehkan tradisi suci, dan membuat orang yang menganggap inkarnasi sebagai dongeng mendelikkan mata dalam kebingungan. Desakralisasi itu menjadi de-kristenisasi natal.
Proses ini, bahkan dimulai pada jantung estetika yakni imajinasi itu sendiri.
Kultus Keburukan
Para filsuf menunjukkan bahwa pengalaman simbolik-estetis yang
bangkit dalam diri, seperti saat seorang memandang sepe yang mekar misalnya, dapat menghantar orang pada kedalaman adorasi, karena yang indah itu selalu berdiri di ambang transendensi.
Pemazmur sendiri telah mengungkapkannya saat mengatakan bahwa langit mewartakan kemuliaan Tuhan dan cakrawala bercerita tentangnya.
Itu sebabnya, Weil menegaskan bahwa pengalaman estetis seperti itu mampu membawa orang pada kesadaran akan “sesuatu yang lebih kuat dari dirinya, yang memaksa dirinya untuk pertama kalinya berlutut”, suatu bentuk pengakuan tersirat akan suatu realitas kudus yang baik yang menyerukan sikap hormat.
Sayangnya, estetika budaya yang bersumber dari alam dan kehidupan yang terikat dengan alam perlahan-lahan didisrupsi oleh sebentuk kultus modern yang bersifat abstrak, ideologis, dan mengutamakan simplisitas tekno-mekanis yang dingin dan tidak alamiah yang tidak mencerminkan “fenomena kehidupan yang berlimpah” (Jean-Luc Marion, 2002), tetapi lebih tampak sebagai sebentuk cacat spiritual.
Maka, memang kota tampak hidup pada malam hari karena nyala terang pohon-pohon tiruan dengan keriuhan dekoratifnya, namun secara spiritual tampak dingin, hampa dan agaknya sulit menggerakkan seseorang yang memandangnya menuju adorasi.
Dalam kosakata estetika, karya seperti itu termasuk dalam kategori kitsch, yakni karya artistik yang ditandai oleh kedangkalan, kerusakan dan keburukan imajinasi spiritual karena asimilasi seni dan budaya secara instan dan tergesa-gesa.
Roger Scruton dalam artikelnya, “The Modern Cult of Ugliness” (2022) menegaskan bahwa dalam era kita semasa ini, masyarakat dan imajinasinya dikelilingi oleh begitu banyak bentuk keburukan artistik karya manusia.
Dan para seniman yang pada masa lalu mengabdikan upaya mereka pada bentuk-bentuk ideal manusia, merekam pesona alam, dan menghaturkan keteraturan dan keindahan pada kesedihan manusiawi tidak lagi tertarik pada tugas-tugas tersebut.
Banyak galeri seni kontemporer yang memerlihatkan sebentuk pelarian manusia dari yang indah, dipenuhi dengan figur-figur subhuman yang didesain dengan maksud merendahkan dan menajiskan gambaran sejati tentang manusia.
Dalam konteks estetika liturgis misalnya, pelarian ini kita temukan dalam apa yang disebut sebagai kitschifikasi agama: hal-hal yang indah dan megah dari agama, seperti arsitektur Katedral yang megah dengan lukisan-lukisan yang indah, altar-altar utama yang indah tidak dipahami dalam hubungannya dengan kemuliaan Allah, tetapi dipandang dari segi kegunaan ekonomik.
Atas nama kemiskinan dan penderitaan, orang membenci segala hal yang megah dari agama.
Bahkan gambaran tentang manusia begitu direndahkan seperti kita tonton pada acara parodisasi perayaan ekaristi pada pembukaan Olimpiade Paris 2024, tampak bagaimana martabat manusia yang direndahkan begitu dalam.
Artinya, masyarakat modern lebih memuja jenis karya artistik yang bersifat degradatif.
Menurut Scruton (2009), kitsch bukanlah penanda dari fenomena artistik yang berlimpah, tetapi lebih tampak sebagai penyakit iman yang menandakan kerusakan parah pada imajinasi spiritual umat beragama. Kitsch bergerak menurut kultus kematian.
Dengan penekanan yang berlebihan pada soal fungsi ketimbang bentuk, estetika kontemporer telah menciptakan suatu kultus keburukan, dan masyarakat bersama para seniman berlomba-lomba dalam permainan menampilkan wajah kemanusiaan yang dikosongkan dan kemudian melemparkan kotoran ke dalamnya.
Pohon natal dari plastik bekas atau gambar-gambar Luce, maskot Tahun Yubileum 2025 adalah contoh konkrit kultus keburukan yang meresap dan membusukkan imajinasi religius secara halus dan tak kasat mata.
Imajinasi Katolik
Menurut Weil (1970), pengalaman akan keindahan ibarat sebentuk inkarnasi Allah dalam dunia, dan keindahan adalah penandanya. Dengan kata lain, keindahan adalah gambaran Allah yang datang untuk menjumpai manusia.
Saat seseorang memandang sepe yang mekar misalnya, secara intuitif-estetis ia ditarik keluar dari dirinya dan disatukan dengan mereka yang dirindukan, dan kalau ia cukup terbuka, ia mampu mengalami realitas transenden yang merawat dan melindungi.
Hal yang sama bisa terjadi saat ia berdiri di depan sebuah kandang natal. Artinya, yang indah selalu merefleksikan kenyataan adikodrati di dalam yang-kodrati.
Lebih jauh Weil menegaskan bahwa keindahan selalu melampaui kecerdasan kita.
Walau demikian, keindahan juga menghadirkan sesuatu untuk dipahami, tidak hanya tentang keindahan itu sendiri, tetapi juga tentang takdir kita sendiri.
Jadi, kalau Allah adalah keindahan itu, maka kita dipanggil bukan hanya untuk memahami Allah, tetapi juga takdir kita.
Dalam perspektif ini, karya artistik natal sebagai kitsch, yang ditandai oleh kedangkalan dan keburukan adalah bentuk keengganan untuk memahami Allah yang menjadi manusia, sekaligus negasi diam-diam atas takdir manusia yang dikehendaki oleh Allah.
Seturut itu, kita bisa lihat kalau karya artistik seperti itu sulit menjembatani yang-kodrati dan yang-adikodrati dan sulit menarik jiwa menuju sikap adorasi.
Juga tidak mencerminkan sebentuk respon otentik terhadap peristiwa inkarnasi dan kehidupan. Lebih terlihat sebagai bentuk fabrikasi yang dimaksudkan untuk menggantikan yang riil dengan yang tiruan.
Kalau kita membandingkan sepe yang mekar dengan pohon-pohon tiruan itu, kita tahu bahwa sepe yang mekar lebih mencerminkan hasrat akan kehidupan, kerinduan untuk menyatu dengan dunia dan orang-orang yang akrab dengan diri, penanda suatu melodi kerinduan abadi untuk memiliki dan dimiliki, bukan hanya pada tingkatan kodrati, juga pada tingkatan adikodrati.
Weil menegaskan bahwa keindahan dunia adalah senyum lembut Kristus bagi kita yang terwujud dalam materi.
Pada natal, perwujudan itu disimbolkan oleh kandang dan palungan yang bisa disebut di sini sebagai imaji revelasi, tempat di mana Allah lahir menjadi manusia.
Lebih jauh menjadi Ia menjadi roti ekaristi, sebab Bethlehem adalah rumah roti, dan palungan di mana Ia dibaringkan menggemakan kata-kata Yesaya: “keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya” (Yes 1:3).
Maka natal atau ‘Christmas’ adalah tentang misa Kristus di mana Ia sungguh-sungguh hadir dalam keindahan universalnya.
Cinta akan keindahan berasal dari Allah yang berdiam di dalam jiwa dan terungkap kepada Allah yang hadir dalam semesta.
Saat sukacita menjadi sebentuk ketaatan yang murni dan total pada keindahan dunia, ia menjadi sakramen, yakni menjadi jembatan yang memungkinkan seseorang untuk berjalan dari dunia kodrati ke dunia adikodrati, dan mampu untuk belajar dari kedua dunia itu. (*)
Simak terus berita PasarModern.comdi Google News
