Opini: Mempersiapkan lansia sehat

Posted on

Gerbang Bahagia Dimulai dari Rongga Mulut

Oleh: Saverinus Suhardin

Dosen di STIKES Maranatha Kupang, Nusa Tenggara Timur

PasarModern.comSetiap tanggal 12 September, kita memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional (HKGN). 

Kita yang ikut merayakannya maupun yang tidak peduli dengan adanya hari khusus tersebut, pasti pernah mengalami masalah pada gigi, atau gangguan pada mulut secara umum. 

Tapi kalau ada yang gigi dan mulutnya tidak pernah bermasalah sejak kanak-kanak hingga lansia, maka alangkah berkualitas hidup orang tersebut.

Momentum Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional tahun 2025 ini mengusung tema yang sangat menarik: “Mulut Bahagia adalah Pikiran Bahagia”. 

Tema ini terdengar filosofis namun memiliki makna medis yang dalam. Ia menyiratkan bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan fisik semata, melainkan kunci dari kesejahteraan mental dan perasaan bahagia. 

Bagaimana mungkin pikiran bisa tenang dan bahagia jika rongga mulut didera rasa sakit?

Formula hidup sehat dan bahagia tersebut tampaknya mudah. Kita hanya diminta menjaga kesehatan gigi dan mulut. 

Kiat mengenai cara merawat gigi dan mulut ini pun sudah terlalu sering kita dengar, terutama dari iklan berbagai merek pasta gigi di media massa. 

Edukasi itu juga kita dengar dari tenaga kesehatan dan guru-guru di sekolah yang rutin mengajarkan cara menyikat gigi. Tapi apakah kita sudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Setiap kita tentunya memiliki jawaban masing-masing atas pertanyaan tersebut. 

Namun secara umum, data hasil penelitian membuktikan sebagian besar orang pernah mengalami masalah pada gigi dan mulut. 

Keberadaan masalah tersebut tentunya menjadi salah satu indikator betapa kita kerap mengabaikan rutinitas perawatan gigi dan mulut.

Organisasi kesehatan dunia, WHO, pada laporan terbarunya memprediksi penyakit gigi dan mulut telah mengenai 3,5 miliar orang di seluruh dunia. 

Khusus orang yang tinggal di negara berpenghasilan menengah seperti kita, WHO memperkirakan 3 dari 4 orang pernah mengalami masalah pada kesehatan gigi dan mulut.

Prediksi WHO itu memang tidak meleset. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi gigi berlubang pada anak usia dini sangat tinggi hingga mencapai 93 persen. 

Selain itu, masih dari hasil riset yang sama, masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dikeluhkan masyarakat Indonesia di antaranya gigi rusak/berlubang/sakit sebesar 45,3 persen dan gusi bengkak dan/atau keluar bisul (abses) sebesar 14 persen.

Mulut Sumber Sehat dan Sakit

Mulut yang berisi gigi dan jaringan penting lainnya merupakan gerbang pertama masuknya makanan dan minuman yang selanjutnya dikelola di sistem pencernaan, juga udara yang kita hirup untuk sistem pernapasan. 

Kalau kondisi mulut kurang terawat, maka substansi yang melewatinya akan tercemar dan memberi dampak pada organ lain yang berkaitan.

Masalah kesehatan gigi dan mulut tentunya sangat mengganggu fungsi pencernaan makanan. 

Kita tahu proses pencernaan makanan telah dimulai secara mekanik dan enzimatik sejak dalam rongga mulut. 

Tapi kalau gigi sakit dan menimbulkan nyeri yang tidak tertahankan, makanan enak pun jadi tidak memikat selera. 

Begitupun dengan masalah pada organ lain, seperti kurangnya produksi saliva (air liur), ketiadaan enzim, luka atau infeksi pada rongga mulut, dan sebagainya—semua dapat mengganggu proses penghancuran makanan dalam mulut.

Jika proses awal sistem pencernaan itu gagal atau berlangsung kurang sempurna, maka organ berikut yang bertugas—lambung, usus halus, usus besar, kolon hingga rektum—juga tidak dapat berperan dengan baik. 

Fungsi utama sistem pencernaan untuk menyerap zat-zat nutrisi yang penting bagi tubuh pun ikut terganggu. 

Ketidaknyamanan fisik akibat gangguan pencernaan inilah yang pada akhirnya akan memicu stres dan mengurangi rasa bahagia dalam menjalani hari.

Lansia merupakan kelompok khusus yang sering mengalami gangguan seperti yang digambarkan di atas. 

Kita tahu banyak lansia yang kehilangan gigi karena kurang melakukan perawatan yang baik sejak kanak-kanak hingga dewasa. 

Fungsi mengunyah sebenarnya bisa digantikan dengan gigi palsu, tapi tidak begitu efektif untuk jenis makanan tertentu.

Selain itu, secara umum lansia juga mengalami penurunan fungsi pada organ yang lain seperti xerostomia—kekurangan produksi saliva atau air liur. 

Akibatnya, lansia sering mengalami berbagai gangguan seperti nafsu makan berkurang, kekurangan gizi, dan kualitas hidup makin memburuk.

Kesehatan Mulut dan Kualitas Hidup

Dampak masalah kesehatan gigi dan mulut bagi kesehatan tubuh secara umum dan kualitas hidup manusia semakin tidak terbantahkan. 

Sebuah studi mendalam yang dilakukan Yutaka Watanabe, dkk (2022) di Jepang menunjukkan adanya hubungan yang erat antara dua variabel tersebut. 

Mereka memeriksa beragam hasil penelitian dengan tema sejenis dan menyimpulkan adanya hubungan antara kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, bahkan bisa membuat umur lebih panjang.

Sebaliknya ketika kesehatan gigi dan mulut rendah, khususnya pada kelompok lansia, kualitas hidup mereka menjadi lebih rendah. 

Lansia yang masih memiliki gigi lengkap (termasuk gigi palsu/prostetik) dan berfungsi dengan baik dapat membuat kualitas hidupnya menjadi lebih baik. 

Sedangkan kehilangan gigi atau masalah gigi lain seperti nyeri dan kehilangan fungsi dapat menurunkan kualitas hidup (van de Rijt et al., 2020).

Bukti penelitian tersebut meyakinkan kita tentang pentingnya tindakan pencegahan dan kebiasaan melakukan perawatan sejak dini. 

Prevalensi masalah gigi memang terjadi sejak masa kecil. Tapi karena gigi anak-anak itu merupakan “gigi susu” yang masih bisa tumbuh lagi, kita acap abai atau sering menganggap kerusakan gigi anak sebagai hal lumrah.

Padahal, kedisiplinan merawat gigi sejak kecil sangat baik untuk mempertahankan gigi yang berkualitas pada masa dewasa hingga lansia. 

Karena itu, kesadaran tentang pentingnya perawatan gigi sejak dini perlu menjadi gerakan bersama.

Indonesia saat ini memang sedang menyongsong bonus demografi, penduduk lansianya belum terlalu banyak. 

Tapi pada saat yang sama, kita juga perlu menyadari kalau bangsa ini sedang berjalan menuju negara dengan struktur penduduk tua atau population ageing. 

Artinya setelah menikmati besarnya manfaat bonus demografi, kita perlu bersiap-siap menyambut populasi lansia yang jauh lebih besar.

Apa jadinya kalau populasi lansia itu kelak diliputi berbagai masalah, salah satunya masalah kesehatan gigi dan mulut? 

Tentunya kita akan menanggung banyak masalah. Karena itu era population ageing itu perlu dipersiapkan dari sekarang dan salah satunya berkenaan dengan kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Kita semua pasti telah mengetahui atau setidaknya mendengar informasi cara perawatan gigi. 

WHO menganjurkan agar setiap kita melakukan upaya pencegahan seperti makan dengan pola seimbang, kurangi gula, perbanyak sayur dan buah, serta lebih banyak minum air putih.

Selain itu, kita juga dianjurkan untuk berhenti menggunakan produk tembakau (merokok), menginang, dan konsumsi alkohol. 

Jika melakukan olahraga ekstrem yang berisiko mengalami cedera gigi dan mulut, maka sebaiknya menggunakan alat pelindung diri yang aman. 

Dan anjuran yang selalu kita dengar, “Jangan lupa menyikat gigi dengan pasta yang mengandung fluoride minimal 2 kali sehari.”

Semoga peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional tahun ini makin menyadarkan kita tentang pentingnya melakukan perawatan yang rutin. 

Mulut yang sehat bukan hanya soal gigi yang kuat, tetapi juga tentang pikiran yang tenang. Mulut bahagia adalah kunci pikiran bahagia. (*)

Simak terus berita PasarModern.comdi Google News