Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan NTT
Dosen Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Willfridus Demetrius Siga, menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam artikelnya, ia mengajak untuk mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan dan pembangunan di daerah ini.
Masalah Kembali Mengabdi ke NTT
Beberapa hari terakhir, isu tentang Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjadi topik hangat di kalangan dunia pendidikan. Isu ini menyentuh berbagai aspek seperti hak dan kewajiban, tanggung jawab, nasionalisme, dan bakti bagi negeri. Di sisi lain, pertanyaan muncul: mengapa lulusan perguruan tinggi baik dari jalur beasiswa maupun mandiri jarang kembali dan mengabdi di NTT?
Ada banyak pilihan karir yang bisa diambil oleh lulusan perguruan tinggi, termasuk menjadi ASN, konsultan politik, atau bahkan aktivis sukarela. Namun, mengapa tidak ada banyak yang kembali ke NTT? Pertanyaan ini masih menjadi misteri, meskipun setiap kabupaten/kota di NTT memiliki setidaknya satu lulusan LPDP atau dari perguruan tinggi unggul.
Strategi Integrasi Lulusan Perguruan Tinggi
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan strategi keterlibatan yang terstruktur dan terpadu. Tujuannya adalah mengintegrasikan para lulusan perguruan tinggi dengan ekosistem lokal di NTT. Namun, strategi ini tidak mudah karena beberapa alasan klasik seperti brain drain akibat ketakutan dan keresahan terhadap masa depan di NTT.
Selain itu, NTT masih bertahan di posisi 10 besar provinsi termiskin. Masalah kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang menjadi hak dasar warga belum sepenuhnya terselesaikan. Meski survei Voxpol Center Research and Consulting menunjukkan bahwa 80,5 persen masyarakat puas dengan kinerja pemerintah provinsi, masih ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki.
Akar Masalah dan Potensi Ekonomi NTT
NTT merupakan wilayah non-industri dengan peluang kerja dan ekosistem bisnis yang terbatas. Hasil bumi masih didominasi pasar domestik, meskipun ada varietas unggulan seperti kopi yang sudah menembus pasar nasional dan global. Sektor kelautan juga masih dikonsumsi pasar domestik, meskipun hasil laut melimpah.
Pada sektor pendidikan, perguruan tinggi di NTT masih didominasi oleh program studi pendidikan, kesehatan, dan agama. Ini berpotensi menyebabkan ledakan jumlah lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Perkembangan Pendidikan dan Kewirausahaan
Beberapa perguruan tinggi sudah mulai membuka prodi-prodi vokasional seperti pertanian, peternakan, dan kewirausahaan. Ada juga perguruan tinggi yang memulai prodi teknik dan politeknik serta menjadi tuan rumah peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis.
Transformasi pendidikan di NTT yang semakin positif diharapkan dapat mendukung generasi muda untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih terbuka dan mulai menggeser persepsi bahwa sukses bukan lagi menunggu menjadi ASN, tetapi menjadi local champion melalui pemberdayan potensi dan memperkuat ekonomi kewilayahan.
Koperasi dan Kesejahteraan Ekonomi Rakyat
Geliat ekonomi rakyat di NTT juga terus hidup, ditandai oleh hadirnya koperasi di hampir seluruh kabupaten/kota dan desa. Koperasi ini sangat membantu pergerakan ekonomi rakyat di luar lembaga keuangan konvensional.
Namun, ada gap yang cukup lebar antara mereka yang memiliki penghasilan tetap dengan mereka yang memiliki penghasilan tidak tetap atau bahkan sama sekali tidak memiliki penghasilan. Persepsi dan kapasitas kewirausahaan juga patut mendapat perhatian. Kewirausahaan bukan hanya soal modal, tetapi juga tekun dalam menjalaninya.
Potensi Wisata dan Energi Panas Bumi
Bentangan alam dan pantai yang indah menjadikan NTT magnet bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Selain itu, NTT juga memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar.
Meski begitu, NTT belum sejahtera. Sejahtera di sini bukan hanya soal produksi, investasi, dan ekstraksi sumber daya alam, tetapi juga harus menjaga batas-batas pertumbuhan agar tidak merusak lingkungan dan sosial.
Langkah Praktis untuk Masa Depan NTT
Sebagai tawaran langkah praktis untuk kolaborasi, inovasi, dan masa depan ekonomi NTT, diperlukan kebijakan program pengabdian bersyarat terutama para lulusan penerima beasiswa dalam proyek wirausaha, agroindustri, atau pengolahan hasil laut; pembentukan inkubator lokal dan program transfer teknologi; akses pembiayaan mikro dan pelatihan literasi keuangan; serta pengembangan kurikulum vokasional yang relevan untuk konteks NTT.
Selain itu, tugas pemerintah adalah membangun ekosistem bisnis dan jangkauan pasar yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik NTT tetapi juga jaringan pasar nasional dan global yang berkelanjutan.
Kombinasi kebijakan afirmatif, insentif fiskal, dukungan pasar, dan pembinaan berkelanjutan akan mengarahkan lulusan berkualitas menjadi katalis nyata bagi peningkatan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kerja sama lintas-sektor dan komitmen kolektif, visi kesejahteraan inklusif di NTT akan terwujud dan memberi harapan konkret bagi generasi penerus.
