Naskah Khutbah Jumat 14 November 2025: Menjemput Surga Melalui Akhlak Indah

Posted on

Hari Jumat, Hari yang Penuh Keberkahan dan Keutamaan

Hari Jumat dikenal sebagai hari yang penuh keberkahan dan keutamaan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di hari ini, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh. Salah satu rukun penting dalam pelaksanaan salat Jumat adalah penyampaian khutbah, yang menjadi bagian dari ritual penting dalam menegakkan nilai-nilai keimanan dan akhlak.

Pada kesempatan kali ini, khutbah Jumat mengangkat tema “Raih Surga dengan Akhlak Mulia”, yang mengingatkan kita bahwa kemuliaan akhlak merupakan jalan utama menuju ridha dan surga Allah SWT. Dalam khutbah pertama, khatib menyampaikan pesan-pesan penting tentang pentingnya menjaga akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Khutbah I

Dalam khutbah pertama, khatib menyampaikan ucapan puji dan syukur kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta dan memberikan petunjuk melalui Nabi Muhammad SAW. Khatib juga mengajak para hadirin untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Kemuliaan akhlak adalah salah satu sifat para nabi, para wali, dan orang-orang shalih. Dengan kemuliaan akhlak, keluhuran derajat diperoleh dan surga tertinggi diraih. Allah subhanahu wa ta’ala memuji Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai insan yang berakhlak agung dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang besar.” (Al-Qalam: 4)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan balasan bagi orang yang berakhlak mulia kelak di kehidupan akhirat dalam sabdanya:

“Aku adalah penjamin istana di surga bagian bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan (yang tidak ada manfaatnya) meskipun ia benar, dan dengan istana di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, serta istana di surga yang paling tinggi bagi orang yang berakhlak mulia” (HR Abu Dawud).

Pentingnya Akhlak Mulia

Akhlak mulia mengandung tiga makna sekaligus yang tidak terpisahkan satu sama lain. Pertama, berbuat baik kepada semua orang, kepada siapa pun tanpa pandang bulu, tanpa berharap balasan dan imbalan apa pun dari orang yang kita perlakukan dengan baik. Kita berbuat baik kepada seseorang bukan dengan niat supaya orang itu membalas kebaikan kita. Atau dengan niat agar orang itu juga memperlakukan kita dengan baik. Tidak. Kita berbuat baik kepada orang lain semata-mata dilandasi niat ingin menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, bersabar atas perlakukan buruk orang lain. Ketiga, menahan diri untuk tidak berbuat buruk kepada orang lain. Akhlak yang mulia adalah sebab tersebarnya kasih sayang dan saling cinta di kalangan masyarakat. Sebaliknya akhlak yang buruk biasanya melahirkan saling benci, saling hasud, dan saling dengki.

Teladan dari Para Nabi

Marilah kita teladani apa yang dilakukan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang rabi (pendeta agama Yahudi). Rabi itu bernama Zaid bin Sa’yah, atau lebih populer dengan panggilan Zaid bin Sa’nah. Ia pernah membaca di sebuah kitab kuno bahwa Nabi akhir zaman salah satu cirinya adalah perlakuan seburuk apa pun terhadapnya tidak akan menambahkan kepadanya kecuali sikap santun dan sabar. Zaid kemudian ingin menguji apakah sifat itu ada pada diri Muhammad. Ia lalu memberi utang Nabi dengan utang yang disepakati temponya. Tiga hari sebelum jatuh tempo, Zaid mendatangi Nabi untuk menagih utang dengan kata-kata kasar yang memancing kemarahan Umar bin Khattab. Umar yang kala itu berada di dekat Nabi hampir saja mencelakai Zaid dan membunuhnya. Rasulullah dengan sabar dan santun spontan mencegah apa yang ingin dilakukan oleh Umar. Melihat hal itu, Zaid langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.

Contoh Lain dari Para Wali

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, akhlak yang mulia juga ditunjukkan oleh salah seorang cicit Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Imam Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum yang berjuluk as-Sajjad Zainal ‘Abidin. Suatu ketika beliau berwudhu dengan dibantu oleh salah seorang budak perempuannya. Sang budak memegang sebuah teko (cerek) yang berisi air dan dituangkan sedikit demi sedikit untuk diambil Imam Zainal Abidin dan dibasuhkan ke anggota-anggota wudhu. Tiba-tiba teko itu lepas dari genggaman sang budak dan jatuh mengenai kepala Imam Zainal Abidin. Seketika kepala beliau luka dan mengucurkan darah. Budak perempuan itu gemetar badannya dan sangat takut. Lantas sang budak berkata:

“Dan mereka yang mampu menahan amarah.”

Sang Imam berkata: “Aku telah menahan amarahku”

Budak itu melanjutkan potongan ayat berikutnya:

“Dan mereka yang memaafkan kesalahan orang lain.”

Imam Zainal Abidin berkata: “Aku telah memaafkanmu, silakan pergi, engkau sekarang aku merdekakan karena Allah ta’ala.”

Hadits tentang Menahan Amarah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat hingga ia dipersilakan memilih bidadari mana yang ia kehendaki” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan ia berkata: Ini hadits hasan)

Derajat Orang Berakhlak Mulia

Untuk mencapai derajat sebagai orang yang berakhlak mulia dibutuhkan perjuangan yang berat dan terus menerus melawan hawa nafsu. Ditambah lagi dengan perjuangan yang berat dan tiada henti melawan godaan setan. Oleh karena itulah, seseorang yang berakhlak mulia disejajarkan derajatnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang yang selalu menghidupkan malam dengan shalat-shalat malam dan berpuasa penuh sepanjang tahun kecuali lima hari yang diharamkan. Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

“Sungguh, dengan kemuliaan akhlak, seorang Mukmin akan mencapai derajat orang yang berpuasa sepanjang tahun (kecuali lima hari yang diharamkan) dan mendirikan shalat malam sepanjang tahun” (HR Abu Dawud).

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggolongkan kemuliaan akhlak sebagai tanda kesempurnaan iman dalam sabdanya:

“Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya” (HR At-Tirmidzi).

Khutbah II

Dalam khutbah kedua, khatib menyampaikan ucapan puji dan syukur kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta dan memberikan petunjuk melalui Nabi Muhammad SAW. Khatib juga mengajak para hadirin untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Khatib juga menyampaikan doa-doa untuk umat Islam di seluruh dunia, termasuk permohonan agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan gangguan. Dengan harapan bahwa semua doa ini dapat terkabulkan dan memberikan manfaat bagi seluruh umat Islam.