Mode Kelangsungan Hidup, Kompasiana Jadi Pabrik Subjek Neoliberal (Bagian 3)

Posted on

Perubahan Publik: Dari Warga ke Konsumen Afeksi

Salah satu pergeseran yang paling halus namun signifikan dalam sejarah PasarModern.com adalah perubahan publiknya. Dulu, publik terdiri dari warga yang ingin berdebat tentang politik, budaya, sejarah, atau keadilan sosial. Kini, publik ini berubah menjadi kumpulan individu yang mendekati platform seperti konsumen menghampiri etalase emosi.

Publik yang dulu membaca untuk memperluas horizon berpikir, kini membaca untuk menstabilkan afek. Mereka mencari penguatan diri, hiburan ringan, dan resonansi emosional yang cepat. Dalam istilah budaya digital, mereka tidak lagi membaca untuk memahami dunia, tetapi untuk mengatur suasana hati. Tidak mencari analisis struktural, tapi resonansi personal.

Pergeseran ini bukan tanda kemunduran moral, melainkan konsekuensi dari perubahan struktural dalam hubungan antara individu dan teknologi. Di bawah tekanan neoliberalisme, individu tidak lagi memiliki banyak ruang untuk memaknai dirinya sebagai warga negara. Kita lebih sering diposisikan sebagai pelaku ekonomi yang harus mengelola diri sendiri.

Ketika ruang-ruang demokratis melemah, orang tidak punya banyak tempat untuk memproses kemarahan, frustasi, atau kegelisahan politik. Akibatnya, ruang publik seperti PasarModern.com tidak lagi dipenuhi oleh energi pembacaan kritis, tapi oleh energi emosional yang tak tersalurkan dalam arena politik formal.

Inilah yang menciptakan kondisi ideal bagi munculnya konsumen afeksi. Konsumen afeksi bukan sekadar pembaca yang mencari hiburan; tapi juga yang menjadikan konsumsi konten sebagai cara untuk menjaga kestabilan emosional dalam dunia yang sangat tidak stabil. Mereka datang ke PasarModern.com bukan untuk memahami dunia, tapi untuk mengatur suasana hati.

Konten yang memantik kegelisahan sosial dianggap “berat”, “mengganggu”, atau “tidak healing”. Sebaliknya, konten yang memberikan harapan personal, kisah penyemangat, atau tips motivasi menjadi bentuk proteksi psikologis yang diperlukan untuk menghadapi hari esok.

PasarModern.com merespons perubahan ini bukan karena niat sadar untuk mendisiplinkan publik, tapi karena algoritma engagement mengajarkan bahwa konten yang memuaskan konsumen afeksi selalu lebih laku. Konten yang kritis, panjang, atau mengandung argumen struktural sering kali tak menghasilkan klik atau komentar.

Sementara itu, kisah personal tentang jatuh-bangun kehidupan, refleksi motivasional, atau tips mengatasi kecemasan menghasilkan respons instan. Algoritma membaca pola itu dan memperkuatnya. Hasilnya adalah kurasi yang semakin mendorong konten yang ringan dan afektif, bukan konten yang mengusik imajinasi politik.

Ekologi Wacana yang Berbeda

Situasi ini melahirkan sebuah ekologi wacana yang sangat berbeda dari masa awal PasarModern.com. Jika dahulunya platform ini berfungsi sebagai arena diskursif yang memungkinkan teks-teks panjang, polemik, kritik sosial, dan refleksi kultural, kini ia bergerak menuju ekologi yang diatur oleh kebutuhan afektif, bukan kebutuhan epistemik.

Dalam ekologi seperti itu, konten tidak lagi diukur dari substansi wacana, tapi dari kemampuan menstimulasi perasaan tertentu. Artikel dinilai bukan berdasarkan kedalaman analisis, tapi berdasarkan seberapa cepat dapat menimbulkan inspirasi, empati, atau rasa nyaman. Inilah ciri khas ekonomi afeksi digital: nilai sebuah tulisan terletak pada getaran yang ditimbulkannya, bukan pada struktur argumentatifnya.

Kondisi ini memiliki konsekuensi langsung terhadap jenis subjek yang terbentuk di dalam PasarModern.com. Pengguna tidak lagi dilatih menjadi warga diskursif yang memikirkan masalah publik sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Mereka dilatih menjadi individu yang mencari solusi emosional atas tekanan hidup yang bersifat sistemik.

Ketika publik berubah menjadi konsumen afeksi, dunia pun dipersempit: dari dunia yang dipenuhi dinamika sosial-politik menjadi dunia yang dipenuhi masalah personal. Dan, karena dunia personal lebih mudah dijangkau dan diatur, narasi-narasi yang mengalihkan perhatian dari struktur ke individu menjadi dominan.

Pergeseran publik ini mengubah ekologi wacana secara radikal. Tulisan yang mengandung kritik struktural kini berada dalam posisi minoritas, seperti organisme yang kesulitan menemukan habitatnya dalam ekosistem baru yang memihak konten afektif. Esai panjang yang menganalisis ekonomi politik, misalnya, kini dianggap tidak kompatibel dengan ritme konsumsi afeksi. Kritik tanpa unsur afektif dianggap “kurang humanis”; sedangkan konten yang sepenuhnya apolitis justru dianggap “lebih manusiawi” hanya karena memberikan kenyamanan.

Pada titik ini, PasarModern.com tidak lagi memainkan peran ruang publik, melainkan ruang pemulihan emosi. Warga berubah menjadi konsumen afeksi, dan platform berubah menjadi mesin afek yang memberi suplai konten penenang untuk menutupi krisis struktural yang tak terselesaikan.

Algoritma sebagai Mesin Ideologis

Pada titik ini, pembacaan kita tentang PasarModern.com tidak lagi cukup bila berhenti pada dinamika redaksional, pilihan tema, atau strategi “survival mode” yang diambil secara sadar oleh pengelolanya. Ada satu lapisan yang lebih dalam, lebih senyap, dan lebih menentukan, yakni algoritma sebagai aparat ideologis teknis yang membentuk orientasi publik, imajinasi penulis, serta lanskap wacana dalam platform ini.

Untuk memahami mengapa PasarModern.com berubah menjadi ruang self-help, mengapa publik PasarModern.com bergerak menjadi konsumen afeksi, dan mengapa penulis di platform itu semakin terdorong untuk memproduksi konten dengan format tertentu, kita harus menelusuri bagaimana algoritma bekerja bukan hanya sebagai alat, tapi sebagai mesin produksi subjek neoliberal.

Algoritma tidak pernah netral. Ia dirancang untuk mempertahankan ritme sirkulasi kapital, mempercepat laju klik, memperbesar durasi perhatian, dan mendorong produksi konten dengan jenis tertentu. Di platform seperti PasarModern.com yang berada dalam fase survival mode, algoritma mengambil peran yang lebih menentukan: menjadi garis hidup ekonomi platform.

Ketika biaya operasional meningkat, profit digital menyusut, dan kompetisi platform kian brutal, algoritma harus menyaring, menonjolkan, dan mempromosikan jenis konten yang dianggap pasti memberikan “hasil.” Inilah sebabnya mengapa konten self-help, motivasi, storytelling personal, dan spiritualitas ringan menjadi genre yang paling sering muncul di Topik Pilihan: bukan semata keputusan kuratorial, melainkan keputusan ekonomis yang telah diotomatisasi.

Di PasarModern.com, seleksi konten kini bergantung pada performativitas numerik: jumlah view, keterlibatan pembaca, kecepatan laju klik, dan potensi viralitas. Algoritma menjalankan fungsi kuratorial yang dahulu dikerjakan oleh editor manusia: memutuskan apa yang pantas tampil, apa yang layak didorong ke beranda, dan apa yang harus tenggelam.

Dalam proses ini, algoritma memproduksi definisi baru tentang “konten bernilai,” yaitu konten yang menghasilkan perputaran afek cepat: rasa penasaran, keterharuan, hasrat untuk memperbaiki diri, ketakutan akan kegagalan, kebutuhan untuk merasa penting.

Dengan kata lain, algoritma memilih konten yang memperkuat pola-pola psikologi neoliberal: individu sebagai unit yang harus terus-menerus memperbaiki diri, memaksimalkan potensinya, dan mengambil tanggung jawab penuh atas nasibnya sendiri.

Ketika pemilihan konten bergeser dari nilai publik ke nilai performatif, maka yang menentukan nilai sebuah gagasan bukan lagi kebermaknaan sosialnya, melainkan performa statistiknya. Dalam konteks ini, algoritma bertindak sebagai mekanisme pemiskinan wacana: menyingkirkan artikel analitis panjang, esai kritis, atau tulisan reflektif yang membutuhkan waktu baca dan kapasitas berpikir lebih dalam. Lebih memilih konten yang bisa dibaca cepat, dibagikan spontan, dan memantik respons emosional instan.

Akibatnya, ekologi wacana PasarModern.com terdistorsi: konten lambat digantikan konten cepat, konten kritis digantikan konten motivasional, dan konten politis digantikan konten personal yang mudah dikonsumsi. Dengan demikian, algoritma tidak hanya memilih konten, tapi memilih jenis warga yang diinginkan untuk tetap hidup di dalam platform.

Dehumanisasi dan depolitisasi atas penulis pun diam-diam terjadi. Jika ingin tetap terlihat, penulis PasarModern.com harus mengecek dashboard statistiknya layaknya investor yang memantau portofolio. Mereka didorong untuk menyesuaikan tema, gaya penulisan, bahkan ritme emosional artikel berdasarkan pola engagement yang dibaca dari grafik. Dan, ini menciptakan pola self-optimization yang serupa dengan logika kapitalisme platform, tempat produktivitas diukur oleh visibilitas.

Praktis, penulis PasarModern.com menjadi operator kecil dari algoritma itu sendiri. Tanpa disadari, mereka menulis demi algoritma, bukan demi publik. Inilah inti bagaimana neoliberalisme bekerja: bukan melalui represi eksternal, tapi melalui internalisasi logika pasar ke dalam tubuh dan afeksi individu.

Pada tingkat teknis, algoritma memperkuat pola ini melalui dua mekanisme kunci: feedback loop dan ranking ekonomi. Feedback loop memastikan bahwa konten yang sudah populer akan semakin dipopulerkan karena algoritma membaca popularitas sebagai indikator nilai. Sedangkan ranking ekonomi berarti bahwa artikel yang tampil di depan akan mendapatkan lebih banyak klik, dan karena lebih banyak klik, akan terus berada di depan. Dengan begitu, platform menciptakan struktur yang semakin memusatkan perhatian pada genre tertentu.

Dalam konteks PasarModern.com, genre itu adalah self-help dan turunannya: konten yang menjanjikan perbaikan diri cepat, solusi emosional sederhana, serta narasi personal yang mudah direplikasi. Alhasil, algoritma bukan hanya memperkuat genre tertentu; tapi menghapus kemungkinan atau setidaknya meminimalisir munculnya genre lain yang bertentangan dengan logika kecepatan dan afektivitas instan.

Ketika infrastruktur teknis bekerja sebagai mesin ideologis, PasarModern.com tidak lagi hanya memfasilitasi penulisan dan pembacaan, tapi membentuk horizon pemikiran warga digitalnya. Pembaca yang memasuki platform itu akan dibanjiri konten yang memvalidasi logika neoliberal: bahwa kehidupan adalah proyek pribadi, bahwa kegagalan adalah salah diri sendiri, dan bahwa kebahagiaan adalah hasil dari pengelolaan psikologis yang efektif.

Platform yang seharusnya menjadi ruang deliberasi publik berubah menjadi ruang produksi afek yang diarahkan untuk mempertahankan ritme konsumsi. Pada titik inilah, PasarModern.com kehilangan fungsi awalnya sebagai ruang jurnalisme warga yang kritis dan berubah menjadi mesin produksi subjek yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi digital.

Sampai titik ini semakin jelas terlihat bahwa mutasi itu tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dirancang, dipertahankan, dan dioptimalkan oleh arsitektur algoritma platform ini sendiri. Yang diproduksi bukan lagi tulisan, bukan lagi opini, tapi subjek. Lebih tepatnya, subjek yang diharapkan tetap terlibat, tetap produktif, dan tetap mengikuti logika performatif platform.