KILAS KLATEN – Candi Bekelan di Karangnongko, Klaten, bukan sekadar tumpukan batu tua ia adalah jejak masa silam yang kini tenggelam dalam kesunyian.
Lokasinya berada tak jauh dari permukiman warga dan lahan pertanian, membuatnya sebenarnya sangat mudah dijangkau.
Namun, ironi muncul ketika situs yang seharusnya dijaga ini justru tertutup semak, perdu, dan pepohonan yang tumbuh liar.
“Sudah masuk data ODCB (objek diduga cagar budaya) tapi untuk SK penetapan sebagai Cagar Budaya memang belum. Ya kayaknya kalau ditata ulang sulit,” kata analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten Jawa, Wiyan Ari Tanjung.
Banyak warga bahkan tidak menyadari bahwa di balik hamparan hijau itu terdapat struktur batu kuno peninggalan sejarah.
Tidak ada papan informasi resmi, tidak ada pagar pelindung, dan tidak ada tanda bahwa tempat ini menyimpan nilai arkeologis penting.
Alhasil, situs ini seperti menghilang begitu saja, padahal ia menyimpan potongan cerita masa lalu yang berharga.
Pemandangannya kini lebih mirip lahan kosong daripada situs cagar budaya.
Peneliti Menyebut Candi Ini Belum Memiliki Penetapan Resmi Cagar Budaya
Menurut laporan detikTravel, para peneliti menyebut bahwa Candi Bekelan belum memiliki SK penetapan resmi sebagai cagar budaya.
Statusnya masih berada di kategori Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang membuat perlindungan dan anggarannya tidak bisa dioptimalkan.
Tanpa SK itu, pemerintah daerah belum bisa melakukan pemugaran, penataan, atau konservasi secara menyeluruh.
Kondisi ini membuat situs seperti dibiarkan berjalan nasibnya sendiri, padahal ia sudah masuk daftar inventaris benda bersejarah.
Pemilik pekarangan, Suratno, menceritakan tahun 1960-an, ayahnya menemukan bebatuan itu saat menggali tanah di kedalaman 2-3 meter. Temuan itu kemudian dikumpulkan.
“Dikumpulkan, lalu sebelum 1965 petugas purbakala sudah ke sini. Arcanya ada cuma potong-potongan, tapi sudah dibawa semua,” ungkap Suratno.
Ketika status hukum belum jelas, upaya penyelamatan seringkali terhambat oleh birokrasi.
Ini pula yang membuat kondisi Candi Bekelan semakin terpinggirkan.
Tanpa legalitas kuat, situs bersejarah mudah sekali luput dari prioritas penyelamatan.
Reruntuhan Candi Tertutup Semak
Saat mendekat ke area Candi Bekelan, pengunjung akan melihat reruntuhan batu yang sebagian besar sudah tidak terlihat bentuk aslinya.
Batu-batu itu ditutupi rumput tinggi, semak belukar, bahkan pohon yang tumbuh tepat di tengah struktur peninggalan.
Pemandangannya memunculkan rasa miris karena sebuah situs arkeologis seolah tenggelam di dalam hutan kecil buatan.
Padahal, jika dibersihkan, kemungkinan bentuk candi atau pola lantainya akan terlihat lebih jelas dan menarik.
Peneliti menyebut bahwa sisa bangunan ini diduga merupakan bagian dari kompleks candi yang lebih besar, namun kini petunjuknya terdistorsi oleh waktu dan kelalaian.
Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, menjelaskan situs Candi Bekelan tidak ada di catatan Belanda. Ia menduga penyebabnya situs tersebut ditemukan sekitar tahun 1960-an, dimana saat itu pemerintah kolonial sudah tidak di Indonesia.
“Jadi ditemukan 1960-an pascakemerdekaan, Belanda sudah tidak aktif. Mungkin dulu tertimbun tanah cukup tinggi sehingga baru diketahui saat buka lahan,” kata Hari.
Dengan kondisi penuh tanaman liar, risiko kerusakan struktural pun meningkat.
Semakin lama dibiarkan, semakin besar potensi situs ini hilang total.
Warisan Budaya yang Tidak Dikenal Warganya Sendiri
Salah satu penyebab utama situs ini terbengkalai adalah minimnya informasi kepada publik.
Banyak warga Karangnongko yang justru baru tahu keberadaan Candi Bekelan setelah diberitakan.
Tidak adanya papan penjelas atau rambu sejarah membuat tempat ini seperti lokasi kosong yang tidak punya identitas.
Situasi ini menandakan masih lemahnya kesadaran pelestarian budaya di tingkat lokal.
Warisan arkeologi tanpa informasi akhirnya hanya dianggap sebagai tumpukan batu biasa.
Padahal, edukasi publik adalah langkah pertama untuk memberikan nilai pada sebuah situs.
Tanpa itu, sulit berharap ada kepedulian kolektif untuk merawat peninggalan sejarah.
Bisa Jadi Destinasi Edukasi dan Wisata Sejarah Klaten
Jika dikelola dengan baik, Candi Bekelan sebenarnya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukatif.
Letaknya yang strategis serta akses yang mudah dijangkau bisa menjadi nilai tambah bagi pengembangan wisata sejarah di Klaten.
Apalagi, Klaten memiliki banyak situs bercorak klasik yang bisa dipadukan dalam paket wisata.
Penataan sederhana seperti pembersihan area, pemasangan papan informasi, dan jalur kunjungan sudah cukup untuk menarik perhatian awal.
Pelajar, mahasiswa, hingga komunitas sejarah bisa memanfaatkan situs ini sebagai ruang belajar.
Pengembangan seperti ini juga mendukung pelestarian budaya sekaligus menumbuhkan ekonomi warga sekitar.
Sayangnya, potensi ini belum tersentuh karena status hukumnya masih menggantung.
Dunia Arkeologi Mendesak Pemerintah Mempercepat Penetapan Cagar Budaya
Ketika sebuah situs masih berstatus ODCB, banyak proses penyelamatan yang akhirnya tertunda.
Situasi ini memunculkan desakan dari pegiat arkeologi agar pemerintah mempercepat penetapan resmi Candi Bekelan.
Dengan status cagar budaya, situs ini akan mendapatkan perlindungan hukum, anggaran perawatan, serta program konservasi yang lebih terukur.
Bahkan, hanya dengan pendataan ulang dan kajian singkat, proses penetapannya sebenarnya dapat dipercepat.
Penetapan tersebut akan mendorong perangkat desa hingga dinas terkait untuk ikut mengambil peran.
Langkah ini penting sebelum kerusakan situs semakin parah.
Tanpa keputusan cepat, nilai sejarah Candi Bekelan terancam hilang sebelum sempat dikenali oleh generasi sekarang.
Kurangnya Pengawasan Membuat Situs Rawan Kerusakan dan Vandalisme
Selain masalah semak dan pepohonan, Candi Bekelan juga rentan terhadap kerusakan akibat aktivitas manusia.
Tanpa pagar atau pengawasan, situs terbuka ini bisa dengan mudah dijadikan tempat bermain, angon ternak, atau bahkan dirusak tanpa sengaja.
Vandalisme dan pengambilan batu situs selalu menjadi ancaman bagi situs ODCB yang tidak terlindungi.
Setiap kehilangan satu batu candi berarti hilangnya data sejarah yang berharga.
Minimnya patroli budaya membuat ancaman ini semakin nyata.
Jika dibiarkan, bukan mustahil struktur yang tersisa tinggal sepotong saja.
Pelindungan dasar menjadi keharusan sebelum memikirkan pemugaran besar.
Harapan Warga dan Pemerhati
Banyak pemerhati sejarah berharap pemerintah desa, kecamatan, dan dinas terkait mulai turun tangan sebelum terlambat.
Candi Bekelan mungkin kecil, tetapi nilai budayanya tidak bisa diukur dari ukurannya saja.
Ia adalah jejak perjalanan masa lalu Karangnongko yang patut dirawat dan diperlihatkan.
Jika penanganan awal dilakukan, masyarakat bisa ikut menjaga karena merasa memiliki.
Ini bukan hanya soal situs arkeologi, tetapi soal identitas lokal yang tidak boleh hilang.
Perlindungan situs seperti ini menjadi langkah kecil untuk menjaga memori kolektif Klaten.
Tanpa itu, sejarah akan benar-benar hilang ditelan waktu dan semak.***
