Perjuangan Pencari Kerja di Jakarta Job Fest 2025
Jakarta Job Fest 2025 menjadi ajang yang penuh tantangan bagi para pencari kerja. Bagi mereka, deretan meja perusahaan bukan sekadar stand pameran, tetapi tempat menaruh asa agar hidup kembali bergerak dan terhindar dari jeratan pengangguran. Berbagai latar belakang dan usia ikut ambil bagian dalam acara ini, mencerminkan kondisi yang tidak mudah bagi generasi muda di Jakarta.
Sultan: Pencari Kerja dengan Harapan Besar
Sultan, seorang pria berusia 26 tahun, datang ke acara ini bersama ibunya. Ia membawa dokumen-dokumen penting dalam tas selempangnya sebagai modal bertarung di arena yang akrab disebut job fair. Riuh suara panggilan tawaran kerja dari setiap stand membawanya terus menyusuri bilik-bilik yang disesaki oleh ratusan pencari kerja. Sesekali ia berhenti di stand yang membuka lowongan pekerjaan sesuai keinginannya. Ia menanyakan syarat dan mendaftar dengan harapan menjadi salah satu karyawan di perusahaan tersebut.
Bermodalkan ijazah S1 Teknik Lingkungan dari Universitas Andalas, Padang, Sultan tetap optimis bahwa perusahaan yang diinginkan akan memanggil untuk sesi wawancara. Namun, bekal itu masih sulit bagi dirinya untuk terserap di lapangan pekerjaan. Dua tahun menganggur, Sultan telah mencicipi pahitnya mencari kerja. Ia sering dihadapkan dengan syarat yang tidak masuk akal di perusahaan, seperti membutuhkan karyawan lulusan baru atau fresh graduate, tapi wajib memiliki pengalaman dua tahun.
Agung Putra: Semangat di Usia yang Tidak Lagi Muda
Agung Putra, seorang pria berusia 43 tahun, juga turut serta dalam acara ini. Meski usianya sudah tidak lagi muda, ia tetap semangat mencari kerja layaknya seorang pemuda. Berbeda dengan Sultan, Agung telah lebih dulu mencicipi pahit-getir kehidupan dunia kerja. Ia memiliki pengalaman tujuh tahun sebagai pegawai inventory. Pada Agustus tahun ini, dirinya mengundurkan diri karena hendak menjalankan ibadah Umrah.
Ironisnya, perjalanan ke Tanah Suci dia peroleh setelah mendapatkan kupon Umrah gratis, justru batal terlaksana. Alhasil, Agung harus kembali meniti karir di usia lebih dari empat dekade. Pria kelahiran Malang, 1982 itu secara perdana mulai mencari pekerjaan melalui gelaran job fair di salah satu kampus di Jakarta dan kedua di acara Jakarta Job Fest 2025.
Rania: Generasi Muda yang Ingin Bekerja
Rania, seorang perempuan berumur 18 tahun, baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Desain Grafis di daerah Bogor. Bersama teman seperjuangan, ia berkeliling menghampiri setiap stand yang membuka lowongan pekerjaan di bidang itu. Ia datang membawa sejumlah CV untuk ditebar ke berbagai perusahaan. Pertama kalinya Rania menjejakkan kaki di acara job fair setelah diberitahu oleh guru pelatihan kerjanya semasa SMK.
Lulus di bulan Juli 2025, Rania telah mengirimkan sejumlah CV melalui aplikasi pencari kerja, namun sampai saat ini belum mendapatkan panggilan. Perempuan kelahiran Jakarta Timur pada 2007 itu juga menginginkan bekerja sebagai content creator karena memiliki pengalaman host live saat menjalani masa Praktik Kerja Lapangan (PKL). Namun, Rania terhalang ketentuan perusahaan yang sebagian besar menerima pekerja lulusan S1 dan D3, sedangkan dirinya belum menempuh pendidikan di jenjang tersebut.
Data Pengangguran di Jakarta
Perjuangan Sultan, Agung, hingga Rania demi mendapat pekerjaan merupakan potret miris generasi muda di Indonesia saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komposisi angkatan kerja di Jakarta pada Agustus 2025 terdiri dari 5,13 juta orang penduduk yang bekerja. Adapun, BPS mencacat sebanyak 330.000 orang berstatus pengangguran atau tak punya pekerjaan.
Jika dibandingkan Agustus 2024 (year on year/yoy), jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak 13.000 orang, penduduk bekerja bertambah sebanyak 21.000 orang, sementara pengangguran berkurang 766.000 orang. BPS mencatat penduduk usia kerja (PUK) di Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 8,43 juta orang, naik 66.000 orang dibanding kondisi Agustus 2024 yang lalu.
Solusi yang Ditawarkan
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan upaya menurunkan angka pengangguran di Jakarta adalah melalui gelaran job fair seperti Jakarta Job Fest 2025. Dia menargetkan 10 ribu tenaga kerja terserap melalui acara ini. “Target ini sekaligus menekan angka pengangguran di Jakarta yang mencapai 330.000 orang,” ujarnya.
Solusi lain yang ditawarkan Rano, yaitu merekomendasikan masyarakat atau para pencari kerja mendaftar sebagai supir Transjakarta. Pasalnya, BUMD milik Pemprov DKI Jakarta tersebut membutuhkan 1.000 tenaga kerja supir yang bisa didapatkan melalui Akademi Transjakarta.
Job Fair Bukan Satu-satunya Solusi
Menanggapi fenomena tersebut, Nailul Huda selaku Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai gelaran job fair bukan solusi utama menekan angka pengangguran di DKI Jakarta. Menurutnya, penyelenggara kerja perlu ditingkat untuk menyerap tenaga kerja serta kompetisi pencari kerja turut disokong melalui program pelatihan.
Nailul menjelaskan DKI Jakarta masih menjadi pusat ekonomi di Indonesia karena perputaran uang tergolong cepat. Baginya hal tersebut merupakan kesempatan bagi pemerintah DKI Jakarta menciptakan lapangan pekerjaan terutama di sektor jasa. “Jika kita lihat, jasa perusahaan ataupun jasa lainnya mampu menjadi penyerap tenaga kerja. Selain itu, ada jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Jakarta memang sudah menjadi kota jasa yang tidak bergantung pada industri.”
Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai job fair merupakan salah satu cara cepat untuk setiap industri mendapat karyawan dan juga peluang bagi pekerja aktif yang ingin meningkatkan keterampilan atau penghasilan. Dengan catatan, tata kelola job fair berjalan baik.
Pemprov DKI Jakarta harus menerapkan kebijakan pro investasi dan memprioritaskan tenaga kerja dalam negeri sehingga angka pengangguran dapat mengecil, serta menyerap lebih banyak usia produktif kerja.
