Mengungkap Indeks EBT untuk Menarik Investor Hijau Bursa

Posted on

Kebutuhan Indeks Khusus untuk Energi Baru dan Terbarukan

Pembentukan indeks saham khusus yang memayungi emiten-emiten di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) semakin mendapat perhatian. Inisiatif ini muncul sebagai bagian dari upaya Indonesia dalam melakukan transisi energi, dengan harapan dapat menarik minat investor hijau di pasar modal.

Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Eko Prayitno, menilai bahwa diperlukannya indeks khusus untuk emiten yang fokus pada EBT. Saat ini, indeks lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) tidak secara spesifik mencerminkan bisnis utama emiten EBT, melainkan hanya menggambarkan praktik keberlanjutan secara umum.

“Kehadiran indeks khusus akan membantu investor yang memiliki mandat investasi spesifik pada energi baru dan terbarukan,” ujar Eko. Ia menjelaskan bahwa indeks ini akan memberikan visibilitas dan identitas yang lebih jelas bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor transisi energi dan EBT.

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa indeks khusus EBT dapat menjadi alat screening yang efektif bagi investor ritel maupun institusi. Investor dapat langsung berpartisipasi dalam akselerasi transisi energi melalui indeks yang terkurasi. Selain itu, indeks ini akan mengirimkan sinyal kuat kepada masyarakat dan pasar bahwa energi terbarukan adalah sektor investasi yang serius dan didukung oleh otoritas pasar modal.

Emisi yang masuk dalam indeks juga akan terdorong untuk meningkatkan kinerja lini energi terbarukan mereka. Eko berpendapat bahwa indeks EBT di pasar modal Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik minat investor global, khususnya dari Eropa dan Asia Timur yang fokus pada aspek keberlanjutan.

Indeks ini juga akan menjadi acuan transparan bagi dana institusional yang berfokus pada investasi hijau dan transisi energi. Dengan metodologi yang kredibel serta dukungan regulator seperti OJK dan IDX, indeks ini dapat meningkatkan likuiditas saham-saham energi bersih, membuka peluang pembentukan reksadana tematik, dan memperkuat citra Indonesia dalam pengembangan investasi hijau di Asia Tenggara.

Peran Indeks dalam Mendorong Transisi Energi

Head of Investor Relations PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA), Mirza Hippy, memahami bahwa wacana pembentukan indeks khusus bagi emiten yang bergerak di energi terbarukan merupakan salah satu langkah yang tengah dikaji oleh berbagai pihak untuk mendorong percepatan transisi energi nasional.

Bagi TOBA, setiap upaya yang dapat memperkuat ekosistem investasi hijau dan meningkatkan visibilitas sektor EBT di pasar modal tentu patut diapresiasi. Mirza menilai bahwa langkah tersebut perlu dikaji secara menyeluruh, baik dari sisi kriteria, klasifikasi emiten, mekanisme evaluasi kinerja, maupun dampaknya terhadap minat investor.

Yang terpenting, kebijakan ini harus memberikan manfaat nyata bagi pengembangan proyek EBT secara berkelanjutan dan menciptakan iklim investasi yang sehat bagi semua pihak.

Performa Saham Energi Hijau

Wacana pembentukan indeks khusus bagi saham-saham energi hijau di Indonesia terjadi ketika investor global kembali menaruh perhatian ke sektor ini, meski pasar ESG tengah menghadapi tekanan di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan Bloomberg, indeks acuan global yang berisi saham-saham energi terbarukan sempat mencatat reli tajam pada awal Oktober 2025 dan berhasil melampaui kinerja emas maupun indeks saham utama dunia. Tren ini sejalan dengan meningkatnya permintaan energi hijau untuk menopang pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P Global Clean Energy Transition melonjak hampir 50% sejak April 2025 hingga 7 Oktober 2025. Kenaikan terjadi setelah pengumuman tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat mengguncang pasar keuangan global. Sebagai perbandingan, S&P 500 dan harga emas masing-masing hanya mencatat kenaikan sekitar 35% pada periode yang sama.

Kinerja positif saham hijau ini mencerminkan optimisme investor bahwa kebutuhan energi untuk menopang perkembangan AI tak mungkin terpenuhi tanpa peran energi terbarukan. Meskipun pemerintahan Trump berupaya memangkas berbagai kebijakan hijau, negara-negara seperti China, India, dan anggota Uni Eropa, serta sejumlah negara bagian di AS, tetap berkomitmen pada transisi energi rendah karbon.

Suku bunga AS yang lebih rendah juga memberi dorongan tambahan bagi sektor energi hijau yang dikenal padat modal dan bergantung pada pembiayaan utang. Kebangkitan sektor ini menarik kembali minat investor terhadap dana hijau. Brookfield Asset Management mengumumkan telah menghimpun dana senilai US$20 miliar untuk dana transisi energi bersih terbesar di dunia. Resolution Investors LLP meluncurkan dana ekuitas global bertema iklim dengan target penghimpunan US$1 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

Performa Saham di Bursa Efek Indonesia

Di Bursa Efek Indonesia, saham-saham di sektor energi terbarukan memperlihatkan performa yang beragam. Contohnya, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) telah terapresiasi 42,25% secara year to date (YtD) per 24 Oktober 2025 di level Rp1.330 per lembar. Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 1,08% ke banderol harga Rp9.175 per saham pada kurun yang sama.

Lesatan harga signifikan terlihat pada saham TOBA yang telah naik 161,30% secara YtD per 24 Oktober 2025 ke level Rp1.040 per lembar. Saham TOBA sempat mencapai level harga penutupan tertinggi pada 7 Oktober ke Rp1.440, meski kemudian berada di tren penurunan setelahnya.

Adapun saham PTBA yang mulai mendiversifikasi bisnis batu bara dan masuk ke sektor pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) memperlihatkan koreksi harga sebesar 14,55% YtD ke harga Rp2.350 per lembar.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. PasarModern.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.