Mengapa Memulai Bisnis Sendiri? Ini Jawabannya

Posted on



“Mimpi besar itu gratis, yang mahal adalah keberanian untuk memulainya.”

Banyak orang menganggap bahwa memiliki bisnis membuat seseorang lebih beruntung dibandingkan menjadi karyawan. Mereka percaya bahwa seorang pebisnis adalah seseorang yang telah naik level menjadi bos atau atasan, bisa memiliki karyawan, punya waktu fleksibel, kebebasan finansial, dan kemampuan untuk membentuk opini bahwa dirinya sukses. Namun, realitasnya tidak selalu seperti itu.

Seorang pebisnis bukanlah sosok yang hanya menikmati keuntungan. Mereka justru lebih fokus pada pengelolaan dan pengoperasian bisnis yang sudah ada. Mereka tidak selalu menciptakan ide baru, tetapi memiliki keterampilan dalam menjalankan bisnis dan membuatnya sukses. Hal ini berbeda dengan pengusaha yang harus memiliki gagasan kreatif atau inovatif serta bersedia mengambil risiko untuk mewujudkan usaha yang berkelanjutan.

Berikut beberapa miskonsepsi tentang dunia bisnis:

1. Seorang pebisnis pasti berhasil atau sukses

Realitasnya, bagi seorang pebisnis yang baru memulai bisnis, diperlukan semangat pejuang, kerja keras, dan riset pasar. Mereka harus memahami apakah usaha yang ingin dijalankan masih laku di pasar, siapa saja kompetitor, dan bagaimana produk mereka bisa mengalahkan kompetitor.

2. Seorang pebisnis pasti punya waktu fleksibel

Faktanya, seorang pebisnis pemula harus bekerja keras dan penuh tantangan. Mereka harus menghadapi masalah seperti mendapatkan klien, mempertahankan klien, dan merancang strategi masa depan agar bisnis tetap berjalan. Ketika karyawan pulang, bos atau atasan harus menyelesaikan masalah yang terjadi, seperti komplain dari klien atau karyawan, hingga laporan pajak.

3. Seorang pebisnis pasti banyak uangnya

Kenyataannya, bagi pebisnis pemula yang tidak memiliki modal, mereka harus meminjam dari bank. Dalam masa satu hingga dua tahun, modal pinjaman digunakan untuk sewa tempat, bayar karyawan, beli bahan baku, dan lainnya. Pada akhirnya, cicilan dan bunga mulai dibayarkan, sehingga pengeluaran sering kali lebih besar dari pemasukan.

Bisnis sendiri adalah pilihan

Topik ini cukup sulit bagi orang-orang yang biasa bekerja sebagai karyawan. Mindset saya sebagai karyawan adalah bekerja memberikan jasa, mengikuti peraturan, dan mendapatkan gaji sebagai imbalannya.

Saya sendiri memiliki kesulitan untuk berani beralih ke bisnis, terutama karena usia yang sudah tidak muda lagi. Namun, saya diberikan kesempatan untuk membantu bisnis suami yang telah dipersiapkan secara matang sebelum pensiun. Saya melihat betapa beratnya perjuangan suami dalam menjalani bisnis sendiri.

Perjuangan dimulai ketika suami, yang seorang akuntan, datang ke toko Gramedia. Ia tidak berniat membeli buku, tetapi mata tertuju pada sebuah buku survey tentang jumlah konsultan pajak bersertifikat di Indonesia. Setelah membaca ringkasan, ia membeli bukunya. Di rumah, ia langsung mendapatkan ide untuk belajar lagi skill baru agar bisa menjadi Certified Tax Consultant.

Dengan usaha dan perjuangan yang keras, ia menghabiskan pagi hingga sore untuk bekerja, dan malam hari untuk belajar kursus berat. Bahkan, Sabtu dan Minggu ia relakan untuk belajar. Saat ujian, ia bilang bahwa dirinya adalah yang paling tua di kelas. Namun, ia percaya bahwa tidak ada yang mustahil untuk lulus.

Percaya dirinya besar, akhirnya ia berhasil lulus. Setelah lulus, niat untuk memiliki bisnis profesional semakin besar. Namun, impian itu tidak mudah. Mencari klien tanpa nama besar, baru lulus, dan tanpa personal brand adalah perjuangan yang luar biasa. Menawarkan jasa seperti orang tanpa “pekerjaan yang berharga” sering kali ditolak oleh Satpam, meskipun sudah ada janji sebelumnya.

Tips menjadi pebisnis awal

Suka duka menjadi pebisnis awal tidak hanya dilihat dari kebebasan waktu atau pendapatan, tetapi juga dari pengalaman dan tantangan yang dihadapi. Berikut beberapa strategi penting untuk bisnis pemula:

  1. Menciptakan sistem terbaik

    Bisnis tidak mungkin berjalan lancar tanpa pengawasan langsung. Tahapan paling krusial adalah awal bisnis, yang menentukan apakah bisnis akan survive atau justru bangkrut. Pebisnis harus memiliki sistem yang mudah dan terkontrol, didukung oleh staf yang kompeten dan bekerja optimal. Tantangan terberat adalah memecahkan masalah sendiri jika ada hal yang berat.

  2. Selalu dibayangi risiko

    Untuk menjadi pebisnis sukses, dibutuhkan mental kuat yang selalu menghadapi berbagai risiko. Mulai dari pendapatan yang tidak stabil, tren pasar yang cepat berubah, hingga keputusan yang harus diambil dengan cepat. Pertimbangkan apakah bisnis bisa survive ke tahap yang lebih baik, atau apakah perlu keputusan cepat untuk menghindari kerugian lebih besar.

  3. Memiliki karakter dan tanggung jawab besar

    Seorang pebisnis profesional mengalami beberapa situasi yang luar biasa:

  4. Terrifying (menakutkan): Kegelisahan pertama ketika bisnis belum menunjukkan tanda konstan dan belum ada klien.
  5. Rewarding growth: Bahagia ketika melihat bisnis berkembang, baik dari segi klien, profit, maupun proyek.
  6. Fulfilling: Lebih puas ketika melihat banyak orang yang terbantu oleh produk bisnis.
  7. Responsibility: Tanggung jawab besar di pundak pebisnis, bukan karyawan atau manajer. Keputusan yang salah bisa berakibat fatal.

Dunia bisnis penuh tantangan dan tidak selalu nyaman. Kamu harus siap memikul tanggung jawab dan risiko yang besar. Pahami kemampuanmu, siapkan mental, dan pikirkan semua secara matang sebelum memilih jalan ini.