Mengapa Harga Emas Melonjak Saat Ketegangan Geopolitik?

Posted on

Emas Dunia Kembali Rekor di Awal 2026



Harga emas dunia kembali mencetak rekor pada awal 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi global. Logam mulia ini menguat tajam ketika investor global mencari aset yang dinilai paling aman di tengah konflik regional, friksi perdagangan antarnegara, serta volatilitas pasar keuangan internasional.

Pada Rabu (21/1/2026), harga emas spot melonjak lebih dari 2 persen dan diperdagangkan di kisaran 4.880 dollar AS per troy ounce. Penguatan harga emas tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, menyusul kekhawatiran investor atas eskalasi risiko geopolitik global.

Lonjakan harga emas di awal 2026 melanjutkan tren kuat sepanjang 2025. World Gold Council mencatat, emas menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik tahun lalu, mencetak lebih dari 50 rekor harga baru dan membukukan penguatan tahunan di atas 60 persen. Menurut lembaga tersebut, reli emas didorong oleh kombinasi konflik geopolitik, pembelian bank sentral, serta perubahan ekspektasi suku bunga global.

Ketika Ketidakpastian Meningkat, Emas Kembali Jadi Tujuan

Dalam situasi ketegangan geopolitik, emas secara historis dipandang sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil. Ketika risiko konflik meningkat atau hubungan antarnegara memburuk, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih defensif.

Kondisi ini kembali terlihat pada awal 2026. Meningkatnya kekhawatiran atas potensi konflik berkepanjangan dan kebijakan perdagangan yang agresif mendorong pasar ke mode risk-off. Saham global tertekan, sementara emas justru menguat tajam.

Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, mengatakan kepada Reuters, lonjakan harga emas mencerminkan akumulasi risiko global. “Harga emas didukung oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran tentang tingkat utang global, dan dollar AS yang lebih lemah,” ujar Hansen. Ia menambahkan, investor masih melihat ruang penguatan emas selama ketidakpastian geopolitik belum mereda dan pasar belum menemukan jangkar stabilitas baru.

Dollar AS Melemah, Daya Tarik Emas Menguat

Faktor lain yang memperkuat reli harga emas adalah pelemahan dollar AS. Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dollar AS, pelemahan mata uang tersebut membuat harga emas lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga mendorong permintaan.

Reuters melaporkan, indeks dollar AS tertekan seiring meningkatnya kecemasan pasar terhadap prospek fiskal dan arah kebijakan ekonomi AS. Tekanan terhadap dollar AS tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Giovanni Staunovo, analis komoditas senior di UBS, mengatakan kepada Reuters bahwa hubungan terbalik antara dollar AS dan emas kembali terlihat jelas. “Dollar AS yang lebih lemah menambah daya tarik emas, terutama pada saat risiko geopolitik tetap tinggi,” tutur Staunovo.

Risiko Geopolitik Masuk ke Harga Emas

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa risiko geopolitik kini semakin tercermin langsung dalam pembentukan harga emas. World Gold Council dalam laporan risetnya menyebutkan, lonjakan indeks risiko geopolitik global memiliki korelasi positif dengan pergerakan harga emas, khususnya dalam jangka pendek.

Peningkatan signifikan pada Geopolitical Risk Index berpotensi mendorong harga emas naik beberapa persen dalam waktu relatif singkat. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa emas tidak hanya bereaksi terhadap inflasi dan suku bunga, tetapi juga terhadap eskalasi konflik dan ketidakpastian politik global.

Selama 2025, konflik regional di berbagai kawasan menjadi latar belakang kuat reli harga emas. Faktor-faktor tersebut berlanjut hingga awal 2026, menciptakan persepsi pasar bahwa risiko global bersifat struktural dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Peran Ekspektasi Suku Bunga Global

Ketegangan geopolitik juga memengaruhi harga emas melalui perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, pelaku pasar cenderung memperkirakan bank sentral akan mengambil sikap lebih akomodatif untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Ekspektasi penurunan suku bunga, terutama di AS, turut menopang harga emas. Ketika suku bunga riil diperkirakan turun, biaya peluang untuk memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi lebih rendah.

Bart Melek, Head of Commodity Strategies di TD Securities, mengatakan kepada Reuters, kombinasi risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi emas. “Selama imbal hasil riil berada di bawah tekanan dan ketidakpastian tetap tinggi, harga emas kemungkinan akan tetap didukung,” terang Melek.

Bank Sentral Memperkuat Permintaan Struktural

Selain investor swasta, bank sentral juga berperan besar dalam menopang harga emas. World Gold Council mencatat, pembelian emas oleh bank sentral global tetap kuat sepanjang 2025, mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa di tengah ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi global.

Beberapa bank sentral meningkatkan porsi emas sebagai langkah mitigasi risiko terhadap volatilitas mata uang dan ketidakpastian politik internasional. Permintaan struktural ini, menurut World Gold Council, menjadi salah satu pilar utama yang menjaga momentum harga emas.

Dalam laporan outlooknya, World Gold Council menyebut emas semakin dipandang sebagai aset strategis oleh otoritas moneter, terutama di negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada mata uang utama dunia.

Dampak ke Pasar Keuangan Global

Reli harga emas yang dipicu ketegangan geopolitik terjadi bersamaan dengan meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global. Reuters melaporkan, pada hari-hari ketika emas mencetak rekor baru, pasar saham global cenderung tertekan, sementara imbal hasil obligasi bergerak fluktuatif.

Pergerakan ini mencerminkan pergeseran preferensi risiko investor. Ketika ketidakpastian meningkat, aliran modal cenderung bergerak menuju emas dan menjauhi aset berisiko. Di sisi lain, pergerakan harga emas tidak selalu diikuti oleh logam mulia lain. Reuters mencatat, pergerakan perak dan platinum kerap dipengaruhi oleh faktor permintaan industri, sehingga tidak selalu sejalan dengan emas yang lebih dominan berfungsi sebagai aset lindung nilai.

Sensitif Terhadap Arus Berita

Meski tren jangka menengah menunjukkan penguatan, harga emas tetap sensitif terhadap perkembangan berita geopolitik. Reuters melaporkan, pada pertengahan Januari 2026, harga emas sempat terkoreksi lebih dari 1 persen ketika muncul indikasi meredanya ketegangan dan investor melakukan aksi ambil untung.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga emas sangat responsif terhadap perubahan sentimen pasar. Setiap sinyal deeskalasi konflik atau perubahan kebijakan dapat memicu koreksi jangka pendek.

Geopolitik Tetap Jadi Faktor Utama

World Gold Council menegaskan bahwa ketegangan geopolitik masih akan menjadi faktor kunci yang membentuk permintaan emas global. Lembaga riset dan bank investasi internasional, termasuk JP Morgan, menempatkan emas sebagai aset strategis di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.

Dinamika harga emas ke depan akan terus dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, arah kebijakan moneter, serta perilaku investor global dalam merespons risiko.