Mengapa Infeksi DBD Kedua Bisa Lebih Parah
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang umum terjadi di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Bagi sebagian orang, DBD hanya terjadi sekali dalam seumur hidup, tetapi bagi yang lain, mereka bisa mengalami infeksi lebih dari satu kali. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa infeksi kedua bisa lebih parah daripada yang pertama?
Beberapa alasan penting menjelaskan mengapa DBD kedua bisa lebih berat. Berikut penjelasannya:
-
Ada empat serotipe virus dengue
Virus dengue tidak hanya satu jenis, tetapi terdiri dari empat serotipe yang berbeda, yaitu DENV-1 hingga DENV-4. Meskipun secara genetik mirip, ketiganya memiliki perbedaan imunologis. Saat seseorang terinfeksi oleh satu serotipe, tubuh membentuk antibodi spesifik yang mampu melawan serotipe tersebut. Namun, antibodi ini hanya efektif untuk serotipe yang sama. Jika infeksi kedua terjadi dengan serotipe yang berbeda, antibodi lama tidak cukup kuat untuk menetralkan virus baru. -
Antibodi lama bisa menjadi “penolong palsu”
Fenomena yang membuat infeksi DBD kedua lebih berat disebut antibody-dependent enhancement (ADE). Pada infeksi kedua dengan serotipe berbeda, antibodi dari infeksi pertama bisa mengikat virus tanpa benar-benar menetralkannya. Ketika antibodi tidak netral ini terikat pada virus, mereka justru membantu virus masuk ke sel-sel imun seperti makrofag dan monosit melalui reseptor Fcγ. Dalam kondisi normal, kompleks antibodi-virus akan dihancurkan, tetapi pada ADE, kompleks ini malah mempercepat virus memasuki sel, sehingga virus dapat berkembang lebih cepat. -
Viral load tinggi memicu gejala berat
Penelitian longitudinal pada anak-anak menunjukkan bahwa viral load yang tinggi berkaitan erat dengan keparahan penyakit. Semakin tinggi jumlah virus dalam darah, semakin besar kemungkinan sistem kekebalan tubuh melepaskan sitokin pro-inflamasi secara berlebihan, yang memicu kebocoran pembuluh darah, penurunan trombosit, dan gejala berat. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak pasien menunjukkan gejala yang lebih serius pada infeksi kedua dibanding DBD pertama.
Dampak Klinis dan Pemahaman Risiko
Fenomena ini memiliki implikasi besar dalam penanganan dan pencegahan DBD. Seseorang yang pernah sembuh dari DBD tetap berisiko mengalami bentuk penyakit yang lebih serius jika terinfeksi lagi. Faktor seperti interval waktu antara infeksi, usia, dan kondisi imun juga memengaruhi seberapa parah respons tubuh pada infeksi sekunder.
Meskipun belum ada terapi langsung yang mencegah ADE, pemahaman tentang fenomena ini membantu dokter menilai risiko pasien dengan tanda-tanda DBD berulang. Selain itu, vaksinasi pun kompleks karena vaksin yang tidak netral terhadap semua serotipe dapat meningkatkan risiko ADE jika seseorang terkena virus setelahnya.
Bahaya infeksi DBD kedua atau berulang lebih besar karena ADE. Antibodi dari infeksi pertama yang tidak netral terhadap serotipe baru bisa gagal melindungi, bahkan mempercepat masuknya virus ke dalam sel imun. Hal ini menyebabkan viral load meningkat, respons imun berlebihan, dan gejala penyakit menjadi lebih berat.
