Membawa Demokrasi Substantif yang Masih Jadi Mimpi

Posted on

Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Simbol Kebangkitan Demokrasi

Kemenangan Zohran Kwame Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York baru-baru ini menjadi angin segar bagi demokrasi Amerika Serikat yang selama ini dianggap semakin kering dan elitis. Sebagai putra dari pasangan tokoh besar Afrika Timur, Mahmood Mamdani, dan Mira Nair, seorang produser film dan aktris India, Mamdani berhasil mengembalikan politik New York ke tangan masyarakat biasa. Ia tidak memperoleh kemenangan melalui kekuatan uang atau jaringan elite, tetapi melalui gerakan akar rumput yang menumbuhkan kembali makna demokrasi sebagai ruang deliberasi dan partisipasi rakyat banyak.

Kampanyenya terasa sangat sederhana, tanpa kemewahan, tanpa panggung spektakuler, dan tanpa biaya miliaran dolar. Mamdani membangun kekuatan politik dari percakapan-percakapan kecil di rumah-rumah masyarakat, di taman kota, dan di pertemuan-pertemuan komunitas. Ia datang langsung ke pemukiman rakyat, berbincang dengan buruh dan sopir taksi, mendengarkan keluhan penghuni rumah susun, dan membangun solidaritas yang tumbuh dari pengalaman hidup bersama.

Kemenangan Mamdani bukan hanya kemenangan individu, melainkan simbol kebangkitan demokrasi substantif, yang berakar pada kesetaraan, kepedulian, dan kehadiran langsung negara di tengah rakyat. Politisi Partai Demokrat yang lahir di Kampala, Uganda ini membuktikan bahwa demokrasi bisa hidup kembali bila rakyat diberi ruang untuk terlibat, bukan sekadar diseru, apalagi ditakut-takuti untuk memilih figur tertentu.

Pelajaran untuk Indonesia

Pelajaran ini menjadi sangat penting ketika kita melirik ke dalam ruang demokrasi di Indonesia yang dalam dua dekade terakhir justru terlihat semakin menjauh dari roh demokrasi itu sendiri. Demokrasi Indonesia memang masih hidup secara prosedural, di mana pemilu masih reguler berlangsung, partai-partai politik masih aktif, dan kandidat masih berkompetisi. Namun, di balik gemerlapnya pesta politik tersebut, demokrasi Indonesia sebenarnya semakin elitis, terkurung dalam sirkuit kepentingan oligarki dan dinasti politik yang sudah lama mengakar di negeri ini.

Kampanye politik bukan lagi sarana komunikasi ide dan program, melainkan pertunjukan kekuasaan dan modal. Pertarungan politik berubah menjadi ajang investasi, di mana kemenangan bukan hasil olah gagasan, melainkan kemampuan menggalang dana dan mendapatkan dukungan elite. Dalam situasi seperti itu, demokrasi kehilangan jiwanya karena rakyat hanya menjadi latar belakang dari drama besar perebutan kekuasaan yang dimainkan segelintir kelompok dengan kepentingan yang saling terkait.

Citra kampanye politik di Indonesia semakin jauh dari praktik yang sejatinya membumi sebagaimana ditunjukkan oleh seorang Mamdani. Di negeri ini, kampanye menjadi festival raksasa, penuh panggung musik, baliho raksasa, dan parade kendaraan berbiaya tinggi. Para kandidat turun ke lapangan bukan untuk mendengar suara rakyat, tetapi untuk menunjukkan kekuatan massa dan kedigdayaan modal. Ruang publik dibanjiri slogan dan janji tanpa substansi bahkan kebohongan, sementara pertemuan kecil di kampung, pabrik, dan pasar yang seharusnya menjadi jantung demokrasi perlahan hilang.

Perbedaan antara Demokrasi Procedural dan Substantif

Demokrasi kehilangan relasi sosialnya dengan rakyat biasa. Politik menjadi peristiwa di televisi dan media sosial, bukan proses di kehidupan sehari-hari rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Akibatnya, rasa dan spirit keikutsertaan publik di dalam politik semakin menurun. Banyak warga yang merasa tidak memiliki kendali terhadap arah dan masa depan negara. Sinisme terhadap politisi kian dalam, karena demokrasi dianggap hanya menguntungkan mereka yang punya akses ke kekuasaan.

Demokrasi prosedural memang masih berjalan, tetapi demokrasi substantif, yakni demokrasi yang menyentuh kebutuhan dan kesejahteraan rakyat, semakin terpinggirkan. Masalah ini semakin kompleks karena dijalankan dalam struktur ekonomi dan politik yang terkonsentrasi pada segelintir tangan. Dalam dua periode pemerintahan terakhir, indeks demokrasi Indonesia justru menunjukkan tren penurunan. Kebebasan sipil menyempit, akuntabilitas politik melemah, dan korupsi mengakar dengan pola yang semakin sistematis.

Refleksi dan Harapan

Apa yang terjadi di Indonesia mengingatkan kita pada kritik Michael Tomasky dalam bukunya “The Middle Out” (2022), bahwa sistem ekonomi dan politik yang hanya berpihak pada elite akan menciptakan demokrasi semu. Menurut Tomasky, kesejahteraan tidak akan pernah menetes ke bawah bila kebijakan ekonomi terus diarahkan untuk melindungi kepentingan kelas atas. Pertumbuhan ekonomi tanpa distribusi hanya melahirkan jurang sosial dan kemarahan yang menumpuk di tingkat bawah.

Henry A Giroux dalam “Dangerous Thinking in the Age of the New Authoritarianism” (2015) menjelaskan bagaimana neoliberalisme melahirkan bentuk otoritarianisme baru. Kekuasaan tidak lagi bekerja melalui represi militer, tetapi melalui dominasi budaya dan ekonomi yang menumpulkan kesadaran kritis masyarakat. Demokrasi menjadi tontonan, dan warga dijadikan konsumen politik yang pasif.

Kemenangan politisi Zohran Mamdani yang hijrah ke negeri Paman Sam saat berusia 7 tahun itu menjadi cermin bagi Indonesia untuk melihat kembali arah demokrasi negeri ini ke depan. Mamdani secara tak langsung mengajarkan bahwa demokrasi tidak harus mahal dan elitis. Demokrasi bisa hidup kembali bila dijalankan dengan keberanian moral untuk menyentuh rakyat kecil dan melibatkan mereka secara aktif di dalam proses politik.

Demokrasi yang sehat tumbuh dari bawah, dari keberanian untuk mendengarkan suara yang paling sunyi, bukan dari ruang-ruang tertutup tempat elite bersepakat. Demokrasi juga harus berpijak pada ekonomi yang adil dan inklusif sebagaimana ditekankan Tomasky. Kesejahteraan yang merata adalah syarat bagi kebermaknaan partisipasi politik masyarakat. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat bagi kelas menengah dan pekerja, demokrasi hanya menjadi alat pembenaran untuk dominasi segelintir orang.

Mamdani membuktikan bahwa politik bisa dijalankan dengan cara lain, dengan keyakinan bahwa suara kecil warga biasa bisa mengalahkan kekuatan uang dan koneksi elitis. Pelajaran penting lainnya dari Zohran Mamdani adalah bahwa politik seharusnya diarahkan kembali menjadi gerakan moral yang berpihak pada publik. Di tengah politik uang, dinasti politik, dan jejaring oligarki, Indonesia memerlukan pembaruan moral dalam berdemokrasi. Partisipasi rakyat harus dikembalikan, bukan hanya sebagai suara di bilik pemilu, tetapi sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan strategis.

Negara harus dibuat semakin berani melindungi kepentingan publik, bukan melayani kepentingan pemilik modal. Partai politik harus berfungsi kembali sebagai sekolah demokrasi yang mendidik kader dan memperjuangkan ide, bukan perusahaan politik yang menjual stempel pencalonan. Karena, diakui atau tidak, demokrasi tanpa nilai dan tanpa moral akan kehilangan legitimasinya sebagai demokrasi.

Demokrasi Indonesia kini berada di persimpangan jalan antara mempertahankan prosedur tanpa makna atau menghidupkan kembali substansi demokrasi yang sesungguhnya. Tantangan utamanya bukan hanya korupsi atau dinasti, tetapi hilangnya kepercayaan bahwa politik bisa memperbaiki hidup rakyat. Untuk mengembalikan kepercayaan tersebut, dibutuhkan keberanian untuk menolak politik berbiaya mahal dan mulai menumbuhkan gerakan warga yang mandiri. Gerakan ini harus berakar di komunitas-komunitas, di tempat kerja, di sekolah, dan di ruang publik. Pendidikan politik harus kembali dihidupkan agar rakyat mampu menilai, bukan hanya memilih.

Demokrasi bukan tentang siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana kekuasaan digunakan untuk memperbaiki nasib bersama. Pendek kata, refleksi akhir dari kemenangan Mamdani memberikan pelajaran penting kepada Indonesia bahwa demokrasi seharusnya diperjuangkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Demokrasi harus hadir untuk menyelesaikan masalah rakyat, bukan melindungi kepentingan dinasti dan oligarki. Demokrasi juga harus dijalankan secara transparan dan bertanggung jawab. Setiap pejabat publik harus diingatkan, jika perlu dengan aksi demo dan protes besar, bahwa kekuasaan bukan hak turun-temurun, melainkan mandat yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat dalam jangka waktu yang telah disepakati.

Karena itu, Indonesia perlu belajar dari The Big Apple New York bahwa perubahan politik yang signifikan tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan, melainkan dari ruang-ruang kecil di mana rakyat masih percaya bahwa suara mereka sungguh berharga. Di situlah demokrasi menemukan maknanya kembali, bukan sebagai ritual lima tahunan, melainkan sebagai perjuangan keseharian untuk keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Semoga!